Tahun 2018 merupakan tahun yang luar biasa bagi dunia perfilman Indonesia ditandai dengan rekor jumlah penonton film Indonesia yang mencapai lebih dari 52 juta penonton. Jumlah penonton tersebut diperoleh dari sekitar 132 film Indonesia yang dirilis di bioskop sepanjang tahun 2018. Dipimpin oleh film Dilan 1990 yang meraih 6,3 juta lebih penonton, secara umum 10 besar film Indonesia terlaris di tahun rilis 2018 adalah film yang memiliki kualitas di atas rata-rata.

Tercatat ada 14 film yang diantaranya adalah; Milly & Mamet, Suzanna: Bernapas Dalam Kubur, Teman Tapi Menikah, Si Doel The Movie, A Man Called Ahok, Danur 2: Maddah menjadi film yang meraih lebih dari 1 juta penonton. Hal ini menjadi sebuah hal yang menggembirakan dan memberikan gambaran perkembangan bagi perfilman Indonesia yang semakin sehat. Hal ini ditandai dengan kualitas film Indonesia berbanding lurus dengan jumlah penontonnya. Variasi genre pun makin beragam memberikan pilihan bagi penonton walau harus diakui sebagian besar film bergenre horor yang rilis masih kurang berkualitas baik.

Berdasarkan catatan tersebut masing-masing kontributor dari Movieden membuat daftar 10 film Indonesia terbaik rilisan tahun 2018 pilihan mereka. Sebuah daftar film yang bersifat subyektif dan merupakan pilihan personal dari masing-masing penulis. Berikut ini adalah 10 film terbaik versi saya, Yovan Nainggolan.

10. Asih

Sutradara film-film dari Danur universe, Awi Suryadi seakan menjadi sutradara yang berbeda saat menangani film spin off berdasarkan karakter di film Danur pertama ini. Meski naskahnya terkesan tipis, namun film berjalan solid dan tidak tergesa-gesa mengalirkan alur, desain produksinya ciamik, visualnya pun cantik dengan pemakaian cahaya yang bagus dan terlihat klop dengan blocking para pemain yang secara gemilang dipimpin oleh Citra Kirana. Satu hal lain yang membuatnya lebih unggul dari film-film Danur universe lainnya adalah tata suara yang lebih proporsional dan tidak berlebihan. Meski 15 menit terakhirnya antiklimaks namun Asih sukses menjadi salah satu film Indonesia favorit tahun 2018.

9. Milly & Mamet

Di saat integrasi elemen komedi ke dalam cerita membaik dibanding film-film sebelumnya, kali ini justru bagian dramanya yang jadi titik lemah. Ernest Prakasa terasa terburu-buru dalam membangun dan menyelesaikan konflik cerita. Konsistensi emosi karakter yang tidak terjaga antar adegan juga sedikit membuat kening berkerut. Untung saja konflik filmnya membumi dan terasa dekat, karakter utamanya kuat, dialog-dialognya mengalir baik, komedinya segar dan lucu, serta Isyananya luar biasa “gila”. Jadi dapat disimpulkan film Milly & Mamet adalah film yang cukup bagus dan sangat menyenangkan.

8. Aruna Dan Lidahnya

Aruna Dan Lidahnya memiliki kompleksitas cerita seputar persahabatan, asmara, intrik pekerjaan dan perburuan kuliner yang dituturkan dengan ciamik dan hangat melalui dialog-dialog yang ringan tapi penuh makna dalam. Filmnya lincah dengan akting dan karakterisasi 4 serangkai yang kuat. Meskipun selipan simbolisme sedikit keluar dari warna keseluruhan film namun bagian itu menjadi asyik untuk didiskusikan. Jalan Edwin untuk mengawinkan film komersil dengan idealismenya tampak semakin potensial untuk terus ditampilkan di film-film berikutnya.

7. Teman Tapi Menikah

Surprisingly enjoyable! Film ini menyenangkan sekali. Skenario yang ditulis Upi (Belenggu, My Stupid Boss)sebagai head writer ini berjalan mulus sampai 10 menit terakhir yang agak canggung. Cerita tentang kisah nyata perjalanan persahabatan artis Ayudia Bing Slamet ( Vanesha Prescilla) dengan Ditto (Adipati Dolken) yang berujung pada pernikahan ini sangat manis. Kunci dari film adalah film yang padat, penuh momen manis, chemistry karakter utama dan plot yang bergulir dinamis dan menarik. Sepertinya Rako Prijanto semakin matang menyutradarai film bergenre romance. Disarankan untuk mengabaikan soal kemiripan pemain dan ketidaksesuaian penanda perbedaan zaman & teknologi dalam kurun waktu 12 tahun dan fokus saja pada perjalanan cinta Ditto dan Ayudia.

6.  Yowis Ben

Film ini terasa enerjik sejak menit pertama, lelucon dan celetukan yang dilontarkan juga alami dan lucu, apalagi menggunakan bahasa jawa timuran, lucu pol pokoknya. Kekuatan film ini ada pada penggunaaan bahasa jawa yang terhitung di dalam film Indonesia yang dirilis luas, bahkan lagu2nya yang bergenre pop punk pun menggunakan bahasa jawa.. Asyik!
Soal cerita sih tidak ada yang baru, problematiknya mirip-mirip film thailand, Suck Seed. Walaupun ada sedikit masalah dalam karakter Susan yang ganjil serta beberapa pemain yang berakting agak kaku, namun secara umum film Yowis Ben sangat pantas masuk dalam daftar yang terbaik tahun 2018.

5.  Menunggu Pagi

Lewat film ini, sutradara kawakan, Teddy Soeriaatmadja mengangkat premis perjalanan sekumpulan anak muda yang ingin datang ke DWP, perhelatan konser akbar musik EDM di Jakarta. Budaya hedonisme, realita pergaulan anak muda yang dikelilingi narkoba dan free sex coba untuk dikupas di sini. Dengan struktur penulisan lugas dan pengkarakteran yang baik, film ini mengalir lancar dan sukses membuat penasaran pada nasib para karakternya sampai ke ujung film. Efek sinematis yang dihasilkan setelah menonton film ini adalah perasaan senang melihat keseruan perjalanan para tokoh utama melalui malam mereka, berpesta sembari Menunggu Pagi.

4. Rompis

Plotnya yang disadur dari novel cukup sederhana, malah bisa dibilang dibuat dengan pendekatan agak-agak ftv. Meskipun begitu struktur plot cerita film ini dihadirkan dengan sangat baik. Para pemainnya pun mudah untuk disukai dan lokasi syuting di belanda dimanfaatkan secara maksimal. Rilis di tahun yang sama dengan film Dilan 1990, dialog2 dalam film Rompis tidak berusaha keras untuk sepuitis Dilan. Kebaperan penonton lebih banyak dihasilkan dari interaksi dan hubungan cinta segitiga Roman-Wulan-Meira, dan yang paling pecah adalah lontaran komedi yang luar biasa lucu dari karakter Sam yang jadi scene stealer film ini. Secara keseluruhan, filmnya terasa romantis, hangat dan menyenangkan, feel good, khas film-film ala Monty Tiwa seperti Shy Shy Cat atau Mau Jadi Apa.

3. Sebelum Iblis Menjemput

Film ini kembali menjadi ajang pamer skill Timo Tjahjanto dalam menakut-nakuti dengan kreativitas tingkat tinggi. Meski memakai adegan-adegan horor yang sebenarnya lazim di film horor Indonesia, tapi menjadi sangat berbeda dengan kualitas special effect yang halus dan apik. Efek praktis, CGI, make up, tata suara, akting dan tata produksinya berkualitas tinggi. Walau terus terang saja, naskah menjadi bagian terlemah, salah satunya dialog yang sering terasa janggal dan satu logika cerita yang terkesan diabaikan, namun film Sebelum Iblis Menjemput sangat layak menjadi salah satu yang terbaik di tahun 2018.

2. The Night Comes For Us

2018 menjadi tahunnya Timo Tjahjanto, film bergenre action gore miliknya yang diedarkan ke seluruh dunia oleh Netflix ini sangat luar biasa sinting! Koreografi kelahi dari Iko Uwais dan timnya kembali menghadirkan berbagai adegan pertarungan berkualitas variatif dengan mengeksploitasi senjata api maupun senjata tajam . Berkolaborasi dengan tim special effect yang luar biasa cekatan memadukan efek praktis dan efek CGI, adegan2 aksi di film ini terlihat nyata. Berkali2 saya mengumpat melihat adegan tusukan pisau, sabetan golok, daging terkoyak, usus terburai, otak berceceran, peluru menembus tubuh dan kepala sampai berbagai tulang patah baik kaki, tangan atau leher. Film yang banyak diakui  sebagai film action “tergila” ini menjadi salah satu yang terbaik di tahun 2018.

1. Love For Sale

Film ini nyaris sempurna dalam bertutur. Cerita bergulir tidak terburu-buru, mengalir lancar sampai ke ujung film yang konklusinya terasa multiinterpretatif. Performa akting Gading luar biasa, ganjaran piala citra aktor terbaik Festival Film Indonesia tahun 2018 menjadi bukti kegemilangannya. Chemistry-nya dengan Della Dartyan sangat klop, seperti pasangan di kehidupan nyata. Pengarahan Andibachtiar Yusuf sangat berkelas, film Love For Sale terasa menjadi film yang berbujet mahal meski sebagian besar berlokasi di dalam rumah. Naskah film ini sukses menyeimbangkan melodrama dewasa dan komedi getir dengan sempurna. Sebuah film drama berdurasi sepanjang 2 jam yang sama sekali tidak terasa panjang dan sukses menjadi film Indonesia terbaik di tahun 2018 bagi saya.

Film-Film Indonesia Terbaik Versi Penulis Movieden.net Lainnya:

Denny Tjiputra

  1. Teman Tapi Menikah
  2. Aruna & Lidahnya
  3. Milly & Mamet
  4. Love for Sale
  5. The Night Comes for Us

Yonathan Christanto

  1. Love for Sale
  2. The Night Comes for Us
  3. Yowis Ben
  4. Wiro Sableng
  5. Sebelum Iblis Menjemput

Ifrul Dwimachyar

  1. Love for Sale
  2. Aruna & Lidahnya
  3. Yowis Ben
  4. Lima
  5. Teman Tapi Menikah

Marvina

  1. Love for Sale
  2. Aruna & Lidahnya
  3. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur
  4. Teman Tapi Menikah
  5. Koki Koki Cilik