Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel atau yang lebih dikenal sebagai Mo Brothers merupakan sosok sineas yang terkenal dengan deretan filmnya yang terkenal keren dan sadis. Keduanya pertama kali bertemu ketika menyelesaikan studi di School of Visual Arts di Sydney, Australia pada tahun 2012. Mencoba menggebrak horor Asia Timur yang tergolong lembut, Mo Brothers dengan berani melawan batas menyajikan film-film a la horor Amerika.

Untuk kamu yang baru mengenal atau ingin tahu film-film apa saja yang pernah mereka garap, berikut deretan film Mo Brothers yang pantang untuk dilewatkan!

Takut: Faces of Fear – Segmen Dara

film mo brothers

Merupakan kompilasi dari film horor pendek, Takut: Faces of Fear terdiri dari enam segmen. Dalam film ini, Mo Brothers turut mengambil bagian dengan menyutradarai dan menulis segmen terakhir yang berjudul Dara. Segmen ini bercerita tentang Dara (Shareefa Danish), juru masak sekaligus pemilik restoran. Kecantikan dan keanggunannya membuat banyak pria datang ke tempatnya. Suatu malam, Adjie (Mike Lucock), Eko (Dendy Subangil), dan Rama (Ruli Lubis) datang di waktu yang bersamaan padahal ketiganya telah diatur untuk datang di waktu yang berbeda.

Rumah Dara

film mop brothers

Menyusul kesuksesan karakter Dara dalam film pendeknya, Mo Brothers pun menggarap film panjang mengenai karakter yang diperankan oleh Shareefa Danish tersebut. Kali ini, dikisahkan sekelompok muda-mudi terjebak di rumah Dara setelah mereka dibawa oleh Maia (Imelda Therine), anak perempuan Dara.

Rumah Dara telah memenangkan banyak penghargaan termasuk film terbaik pada ajang Jakarta International Film Festival. Tak hanya itu, Shareefa Danish juga meraih predikat aktris terbaik dalam Puchon International Fantastic Film Festival 2009.

Killers

film mo brothers

Merupakan kolaborasi pertama Indonesia dan Jepang dalam memproduksi film thriller, Killers bercerita tentang Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura), eksekutif muda asal Jepang yang ternyata merupakan pembunuh dan kerap mengunggah videonya ke internet demi kepuasan pribadi. Di sisi lain, jurnalis asal Indonesia bernama Bayu (Oka Antara) menemukan video tersebut di saat hidupnya dipenuhi masalah. Ia pun terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

Headshot

film mo brothers

Setelah bermain-main di genre horor dan thriller, Mo Brothers mencoba sesuatu yang baru dengan menggarap film aksi beladiri berjudul Headshot. Dirilis pertama kali dalam ajang Toronto International Film Festival 2016, Headshot bercerita tentang seorang pria amnesia tanpa identitas (Iko Uwais) harus bertarung melawan sindikat kriminal demi melindungi dokternya, Ailin (Chelsea Islan).

Proyek Masing-Masing

Timo Tjahjanto

The ABCs of Death – Segmen L for Libido

film mo brothers

The ABCs of Death merupakan film antologi horor yang diproduseri dan disutradarai oleh berbagai sineas dari seluruh dunia. Dibagi menjadi 26 chapter, setiap sutradara memiliki kebebasan dalam bercerita tentang sesuatu yang menyangkut kematian. Dalam film ini, Timo menyutradarai segmen L for Libido yang bercerita tentang dua orang pria yang terbangun dalam keadaan telanjang dan terikat dipaksa untuk bermasturbasi. Yang paling lama mencapai klimaks pun terancam dibunuh.

V/H/S/2 – Segmen Safe Haven

film mo brothers

Berduet dengan sutradara The Raid, Gareth Evans, Timo kembali menggarap salah satu segmen dari antologi film horor V/H/S/2 yaitu Safe Haven. Sama seperti film pertamanya, setiap kisah dalam film ini terhubung dengan konsep video hasil rekaman. Film ini bercerita tentang sekelompok kru berita, Malik (Oka Antara), Lena (Hannah Al Rashid), Adam (Fachry Albar) dan Joni (Andrew Suleiman) menyusup ke dalam suatu kelompok ajaran sesat Indonesia untuk membuat dokumenter tentang kegiatan misterius mereka.

Sebelum Iblis Menjemput

film mo brothers

Sebelum Iblis Menjemput merupakan film panjang pertama yang disutradarai Timo Tjahjanto sendiri tanpa berduet dengan yang lain. Dibintangi oleh Pevita Pearce dan Chelsea Islan, film ini mengikuti kisah Alfie (Islan) yang pulang ke rumah setelah ayahnya meninggal. Bersama saudara tirinya, Maya (Pearce) dan Ruben (Samo Rafael), ia pun pergi ke rumah tua untuk mengungkap kematian misterius ayahnya.

Telah tayang sejak Kamis (9/8) lalu, di pekan perdananya ini Sebelum Iblis Menjemput telah mengumpulkan 271.795 penonton.

The Night Comes For Us

film mo brothers

Setelah Sebelum Iblis Menjemput, proyek mendatang yang akan hadir di bioskop darin Timo adalah The Night Comes For Us. Film yang akan tayang perdana pada Fantastic Fest pada September mendatang ini bercerita tentang Ito (Joe Taslim), tukang pukul yang kembali ke keluarga kriminalnya di Jakarta setelah bekerja dengan sebuah Triad Asia Tenggara yang kejam. Kepulangannya menjadi rumit ketika ia terperangkap dalam intrik pengkhianan saat Triad tersebut memulai kampanye berdarah untuk memperluas wilayah mereka.

Selain Joe Taslim, film ini turut dibintangi sederet bintang papan atas seperti Iko Uwais, Julie Estelle, Hannah Al Rashid, Shareefa Daanish dan Dian Sastrowardoyo.

Kimo Stamboel

 

One Good Thing

One Good Thing merupakan film panjang pertama yang akan disutradarai oleh Kimo Stamboel di luar bayang-bayang Mo Brothers. Dibintangi oleh Yayan Ruhian dan Marko Zaror, film ini akan bercerita tentang seorang anggota geng dan polisi yang bekerja sama untuk melindungi seorang gadis muda yang terjebak di antara pertarungan antara kelompok mafia dengan sekumpulan polisi korup. Saat ini, proyek ini masih dalam proyek pengembangan dan belum diketahui kapan akan dirilis.

DreadOut

Proyek terbaru yang akan diarahkan oleh Kimo Stamboel adalah DreadOut. Selain menjadi sutradara, Kimo juga akan menulis naskah untuk film yang diadaptasi dari game survival horor asal Indonesia tersebut. Diumumkan pada saat acara Game Prime, sutradara Rumah Dara tersebut juga turut mengungkapkan alasan ia terlibat dalam proyek ini.

“Ketika pertama kali saya mencoba memainkan game ini, seketika itu juga saya mengetahui bahwa game ini memiliki potensi yang sangat besar untuk diangkat ke layar lebar. Sebagai penggemar film horror, saya melihat banyak sekali ruang untuk saya mengeksplor dan mengembangkan genre ini lebih jauh. Apalagi cara mengalahkan hantu dengan menggunakan gadget handphone sangat keren sekaligus menjadikan konsep ceritanya sangat related to the audience masa kini”