Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama merupakan salah satu tokoh yang memiliki perjalanan politik yang cukup kontroversial. Sikapnya yang blak-blakan pun kerap mengundang pro dan kontra di masyarakat. Salah satunya berakibat masuknya pria yang akrab disapa Ahok ini ke penjara karena kasus penistaan agama.

Berangkat dari kasus ini, Rudi Valinka pun pergi ke Belitung untuk membuktikan apakah Ahok memang telah menistakan agama sejak dahulu. Kumpulan cuitannya pun diterbitkan ke dalam buku yang berjudul A Man Called Ahok. Dari sini lah, kisah Ahok pun diangkat menjadi film dengan judul sama.

Menceritakan masa kecil hingga ia terjun ke politik dan menjadi Bupati Belitung Timur, A Man Called Ahok  sukses mengumpulkan satu juta penonton dalam jangka 9 hari penayangannya. Pencapaian ini pun menjadikannya film Indonesia ke-12 yang sukses melewati angka tersebut di tahun 2018 ini.

Nah, sebelum kamu nonton filmnya di bioskop, simak dulu profil Ahok di bawah ini!

Masa Kecil di Belitung

profil ahok

Lahir pada 29 Juni 1966, Basuki Tjahaja Purnama merupakan putra dari pasangan Tjung Kim Nam dan Buniarti Ningsih. Sulung dari lima bersaudara ini memiliki empat orang adik yaitu Basuri, Fifi, Hari dan bungsu yang meninggal dalam kecelakaan motor di usianya yang ke-12.

Nama panggilan “Ahok” diberikan oleh ayahnya dengan harapan dirinya menjadi orang yang sukses. Nama tersebut berasal dari “Banhok” yang terdiri dari “Ban” yang artunya puluhan ribu dan “Hok” yang artinya belajar. Jika digabung, nama tersebut memiliki makna belajar di segala bidang.

Watak keras Ahok telah dimilikinya sejak kecil ketika ia memaksa untuk ikut pamannya (yang jarak usianya hanya dua tahun) bersekolah. Walaupun belum cukup umur, kemauannya yang keras ini pun menjadikannya sekelas dengan pamannya, Aliong. Terlepas dari latar belakangnya yang merupakan anak orang kaya dan terpandang, Ahok memilih untuk menuntut ilmu di sekolah negeri dibanding sekolah elite untuk karyawan PT Timah.

Ketika duduk bangku sekolah, Ahok termasuk murid yang pintar dan sering mendapat ranking satu. Selain berprestasi, ia juga cukup aktif dalam kegiatan berorganisasi. Sifat kepemimpinannya sudah terlihat ketika ia menjabat sebagai ketua OSIS SMPN Jayabakti (kini berganti menjadi SMPN 1).

Menurut penuturan salah satu temannya, Pak Mus dalam buku A Man Called Ahok, semasa bersekolah bersama Ahok adalah sosok yang pendiam dan biasa saja. Namun, dalam pertemanan, ia dikenal sebagai sosok yang tidak pandang bulu dan mau bergaul dengan siapa saja.

Sosok Sang Ayah, Kim Nam

profil ahok

Kisah kehidupan Ahok tidak terlepas dari bayang-bayang didikan sang Ayah, Kim Nam. Di Belitung, nama tersebut sangat populer di kalangan orang tua. Berprofesi sebagai pengusaha sukses di Belitung, usaha utama Kim Nam adalah vendor/kontraktor dari PT Timah. Kesuksesannya pun membuatnya dipanggil dengan sebutan tauke oleh penduduk setempat.

Adapun, kiprah yang membuat namanya begitu tersohor di Belitung adalah sikapnya yang rela membantu siapapun yang minta pertolongan. Hal ini tetap dilakukannya sekalipun ia tidak punya uang sama sekali, yaitu dengan cara meminjam kepada orang lain lagi. Akibatnya, tak jarang sang istri, Buniarti menangis melihat kelakuannya.

Nilai-nilai kehidupan pun diajarkan Kim Nam kepada anak-anaknya dengan membiarkan mereka menguping pembicaraanya dengan tamu yang datang ke rumahnya. Tamu tersebut datang dengan berbagai keperluan mulai dari pinjam uang, minta bantuan, hingga permintaan upeti dari oknum aparat hukum. Dari sinilah, konsep ‘harus ada saksi’ digunakan Ahok saat rapat dengan cara membuka kantornya dan merekam rapatnya.

Terjun ke Politik

profil ahok

Kerap menemukan praktik-praktik merugikan dari oknum korup ketika menjalankan bisnisnya, Ahok pun memutuskan untuk terjun ke dunia politik pada tahun 2004 di bawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru. Mencalonkan diri pada Pemilu 2004, ia pun terpilih sebagai DPRD Belitung Timur untuk periode 2004-2009.

Kiprahnya di dunia politik pun berlanjut pada tahun 2005 ketika Ahok mencalonkan diri sebagai Bupati Belitung Timur bersama dengan wakilnya, Khairul Effendi. Walaupun demikian, lulusan S2 Manajemen Prasetya Mulya ini hanya menjabat kurang lebih selama satu tahun karena ingin maju dalam Pemilihan Gubernur 2007.

Pencalonan dirinya sebagai Gubernur Bangka Belitung ini pun mendapat dukungan dari Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid. Ahok pun pada awalnya merasa tidak percaya diri, bahkan ia bertanya apakah seseorang beretnis Tionghoa bisa menjad Gubernur, yang mana langsung dijawab Gus Dur dengan gaya khasnya, ” jangankan gubernur jadi presiden saja juga bisa. Apa akan terbukti kelak?” Sayangnya, walaupun dalam survei internal Basuki unggul dan diyakinkan akan menang, namun ia dikalahkan oleh lawannya, Eko Maulana Ali.

Berlanjut di Ibukota

profil ahok

Perjalanan karir politik Ahok pun berlanjut ke tingkat nasional ketika ia mencalonkan diri sebagai DPR RI dari daerah pemilihan Bangka Belitung mewakili Golkar pada pemilu 2009. 2 tahun kemudian, ia sempat berpikir ingin mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta lewat jalur independen. Namun, menjelang waktu pencalonan yang semakin dekat, dirinya yang pesimis pun akhirnya memutuskan untuk lewat  jalur partai politik.

Mencalonkan diri sebagai wakil Gubernur, Ahok dipasangkan dengan Joko Widodo pada Pilkada 2012. Meraup total suara 1.847.157 (42,60%) suara pada putaran pertama dan 2.472.130 (53,82%) suara pada putaran kedua, keduanya pun sukses mengalahkan lawannya, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Setelah Jokowi resmi dilantik menjadi Presiden RI, Basuki Tjahaja Purnama pun diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ia merupakan Gubernur  Tionghoa-Kristen pertama yang menjabat di DKI Jakarta.

Selama menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ahok mewariskan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, Layanan Kesehatan Ketuk Pintu Layani dengan Hati, Pembenahan Trotoar, Pembangunan Rumah Sakit Umum Kecamatan tipe D, Jembatan Pedistrian Manggarai, Lenggang Jakarta, Penertiban Kalijodo, dan Relokasi Kampung Pulo. Tak hanya itu, usahanya membuka laporan mata anggaran DKI Jakarta membuatnya dianugerahi penghargaan anti korupsi dari Bung Hatta Anti Corruption Award pada tahun 2013.

Kontroversi

profil ahok

Sebagai tokoh politik yang dikenal dengan kata-katanya yang lugas dan tanpa basa-basi, tidak heran Ahok juga kerap menimbulkan kontroversi. Salah satunya kasus penodaan agama yang menggerakkan massa untuk melakukan demo Aksi Bela Islam. Adapun, hal ini bermula dari potongan video pidato Ahok di Kepulauan Seribu tersebar di dunia maya

Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu enggak bisa pilih saya, ya—dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu, lho. Itu hak bapak-ibu. Ya. Jadi, kalo bapak-ibu, perasaan enggak bisa pilih, nih, karena takut masuk neraka, dibodohin gitu, ya, enggak apa-apa. Karena ini kan panggilan pribadi bapak-ibu. Program ini jalan saja. Ya, jadi bapak ibu-enggak usah merasa enggak enak dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok. Enggak suka ama(sama) Ahok. Tapi programnya, gue kalo terima, gue enggak enak dong ama dia, gue utang budi. Jangan. Kalau bapak-ibu punya perasaan enggak enak, nanti mati pelan-pelan, lho, kena stroke,” ujar Ahok.

Penyebutan surat Al Maidah ini pun dianggap sebagai penistaan agama oleh sejumlah pihak. Kasus ini pun dibawa ke pengadilan dan berakhir dengan vonis dua tahun dipenjara untuk Ahok pada 9 Mei 2017.