Bulan Maret merupakan bulan yang spesial untuk perfilman Indonesia. Selain memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, setiap tahunnya pada tanggal 20 Maret juga merupakan peringatan hari lahir dari Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail.

Tahun ini, untuk memperingati hari kelahirannya yang ke -97 Google Doodle memajang sketsa Usmar Ismail. Berlatar rol film, animasi sutradara kelahiran Bukit Tinggi tersebut ditampilkan bersama 3 perempuan yang merupakan tokoh dari film Tiga Dara, salah satu film tersuksesnya.

Usmar Ismail - Google Doodle Usmar Ismail

Lahir pada tahun 1921 saat masa pemerintahan Hindia Belanda, Usmar Ismail merupakan keturunan dari keluarga bangsawan. Sebelum berkiprah di dunia perfilman, pria berdarah Minangkabau tersebut dikenal sebagai penyair dan jurnalis.

Usai Indonesia meresmikan kemerdekaannya pada tahun 1945, Usmar Ismail mulai membuat film. Namun, karena Ismail merupakan mayor tentara Indonesia, Beliau pun sempat ditahan sementara oleh tentara Belanda.

Film pertama yang menjadi karya debutnya sebagai sutradara adalah Harta Karun (1949) yang diadaptasi dari pertunjukkan teater karya sastrawan Prancis, Moliere. Walaupun demikian, film yang menjadikannya disebut sebagai Bapak Perfilman Indonesia adalah Darah dan Doa.

Diproduksi oleh Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang didirikannya, Darah dan Doa dianggap sebagai film Indonesia pertama. Bahkan, hari pertama pengambilan gambarnya yaitu 30 Maret 1950 ditetapkan oleh Dewan Film Nasional sebagai Hari Film Nasional. Pada tahun 1952, Usmar Ismail memperoleh beasiswa dari Yayasan Rockefeller untuk memperdalam studi filmnya di Universitas California, Los Angeles Amerika Serikat.

Usmar Ismail Usmar Ismail

Sepanjang hidupnya, ia telah memproduksi 28 film baik sebagai sutradara, produser, penulis, ataupun ketiganya sekaligus. Beberapa karya yang terkenal darinya adalah Lewat Djam Malam (1954), Tiga Dara (1956), dan Pedjuang (1960). Ketiganya sukses menjadi legenda perfilman Indonesia.

Lewat Djam Malam merupakan film pertama yang meraih penghargaan Film Terbaik pada Festival Film Indonesia. Pencapaian lebih besar berhasil dicapai oleh Pedjuang yang memenangkan penghargaan aktor terbaik untuk Bambang Hermanto pada ajang Moscow International Film Festival. Pedjuang juga merupakan film Indonesia pertama yang diputar di festival film internasional.

Usmar Ismail - Lewat Djam Malam Usmar Ismail - Tiga Dara

Sedangkan, kesuksesan Tiga Dara datang dari segi komersil. Merupakan film dengan pendapatan tertinggi produksi Perfini, film yang disutradarai Usmar Ismail tersebut diputar selama delapan pekan berturut-turut bahkan masuk ke bioskop kelas satu.

Sayangnya, pembuatan film ini tidak sesuai dengan visi Usmar Ismail. Dalam Ensiklopedi milik Kemendikbud, ia menyatakan bahwa sebuah film seharusnya tidak bergantung pada dana. Bagi Usmar Ismail, sebuah film tidak harus selalu bersifat komersil, tetapi sebuah film merupakan hasil karya seni yang bebas dan harus bisa mencerminkan kepribadian nasional.

Namun, karena keterpurukan Perfini, mau tak mau ia pun memproduksi film tersebut. Selain Tiga Dara, ia sempat membuat beberapa film komersil lainnya yaitu Delapan Pendjuru Angin (1957) dan Asmara Dara (1958).

Usmar Ismail aktif di dunia perfilman hingga tahun 1970 sebelum pada akhirnya meninggal karena stroke di usianya yang ke 49 pada 2 Januari 1971. Kini, namanya diabadikan sebagai Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Usmar Ismail Concert Hall dan salah satu ajang penghargaan untuk sineas perfilman Indonesia.