Tidak sebaik animasinya, tapi tetap magis, mempesona dan glamor
8Overall Score
Reader Rating 6 Votes
7.2

Setelah sukses dengan berbagai gubahan animasi menjadi live action movie yang unik dan dibuat berbeda seperti Alice in Wonderland (2010) dan Maleficent (2014) atau yang setia pada animasinya The Jungle Book (2016) dan Cinderella (2015), Disney pun memproduksi Beauty and the Beast. Film animasinya di tahun 1991 menjadi film animasi pertama yang mendapatkan nominasi Oscar untuk kategori Best Picture.

Plot utamanya masih tetap dipertahankan, Belle (Emma Watson) adalah seorang gadis belia yang kutu buku di suatu desa di Prancis yang bernama Villeneuve. Dia ditaksir oleh seorang pensiunan tentara yang narsis, sombong, tidak mempunyai empati sekaligus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Belle. Di saat ayahnya Belle, Maurice (Kevin Kline) ingin mencarikan bunga mawar untuk Belle, dia tersesat ke kastilnya Beast (Dan Stevens) dan memetik bunga mawar putih di kastilnya. Hal ini membuat Beast marah sehingga mengurung Maurice didalam penjara. Belle berhasil mengunjungi kastil tersebut atas bantuan kuda dari ayahnya tersebut dan rela berkorban untuk kebebasan ayahnya. Sehingga Belle harus tinggal di kastil tersebut bersama dengan Beast dan berbagai furnitur dan perabotan rumah tangga ajaib yang bisa bergerak dan berbicara layaknya memiliki jiwa seperti manusia.

beauty-beast-2017-belle-watson

Walaupun setia terhadap film animasinya di tahun 1991, tetapi dengan penambahan durasi dari 84 menit menjadi 129 menit sehingga ada beberapa plot tambahan dan adegan yang lebih panjang durasinya. Selain itu tentu ada beberapa adegan di animasi yang kurang pas untuk di copy paste 100% dengan live actionnya.

Ini 9 Perbedaan Beauty and the Beast yang Dulu dengan Sekarang

Sosok Belle yang sebelumnya hanya menyimpan pengetahuannya kepada dirinya saja, disini dia mengajarkan kepada seorang anak kecil. Kemudian Belle membaca buku dari Shakespeare bukan buku berjudul “A Ogre and a Beanstalk”. Karakter Belle lebih independen, berani sekaligus rebellious tetapi tetap memiliki sifat anggun layaknya Disney Princess. Emma Watson memberikan penampilan terbaiknya sepanjang karirnya. Kualitas bernyanyi, tariannya dengan Beast dan ekspresinya ketika adegan yang cukup emosional di menjelang akhir. Memperlihatkan dia seorang aktris yang tidak hanya akan dikenal sebagai Hermione saja di film Harry Potter.

gallery-1478513336-belle-and-her-father-beauty-and-the-beast

Luke Evans yang berperan sebagai Gaston, memperlihatkan kekejaman dan nuansa evil-nya. Tidak seperti kartunnya yang terlihat lebih goofy, disini lebih pure evil, bahkan ada satu adegan dimana dia melakukan kekerasan yang dapat membuat penonton menjadi sangat kesal karenanya.

Bill Condon yang sudah tidak diragukan lagi karena sudah menukangi film musikal Dreamgirls apalagi dia juga membesut Breaking Dawn Part 1 dan 2 yang kurang lebih juga tidak mengisahkan kisah cinta manusia dengan manusia lainnya, tetapi kisah cinta dengan sosok yang berbeda. Dia berhasil membuat film ini menjadi lebih magis, enchanting dan megah dengan production dan costume design yang sungguh indah, glamor dengan palet warna yang mencolok. Walaupun begitu, durasi film yang agak kepanjangan membuat pace-nya tidak sebaik animasinya, begitu juga dengan humor yang lebih lucu animasi. Beberapa feel dan charm yang dihadirkan film animasinya juga kurang mengena di beberapa bagian pada Beauty and the Beast ini.

Ada 3 lagu tambahan yang tidak ada di film Beauty and the Beast versi animasi. Salah satunya lagu saat Beast bernyanyi saat merelakan Belle untuk pergi. Saat itulah Beast sadar dia tidak lagi egois dan memberikan cinta sepenuh hati kepada Belle dengan merelakannya.

Beauty-and-the-Beast

Bagian terbaik dari Beauty and the Beast kali ini ada di aktor dan aktris pendukungnya. Terima kasih kepada teknologi motion capture yang dahulu booming sejak karakter licik Gollum di film Lord of the Rings sehingga para perabotan rumah tangga tersebut bisa menjadi lebih hidup dan manusiawi. Lumiere, tempat lilin (Ewan McGregor) yang memadu kasih dengan Plumette, kemoceng (Gugu Mbatha-Raw). Cogsworth, jam duduk (Sir Ian McKellen). Cangkir teh ibu (Emma Thompson) dan anak (Nathan Mack) dan ada 2 karakter baru yang menyenangkan yaitu Maestro Candenza (Stanley Tucci), alat musik harpsichord yang seperti piano/keyboard dan istrinya Madame de Garderobe (Audra McDonald). Bedanya dengan di animasi, ibu cangkir memiliki suami yang tinggal di desa dan tentu 2 karakter barunya tersebut, sehingga penonton menjadi lebih terikat dengan berbagai karakter pendukung ini yang begitu sempurna dari sisi pendalaman karakternya dan tentu berkat akting luar biasa para aktor dan aktris yang sudah berpengalaman banyak Ewan McGregor, Sir Ian McKellen, Stanley Tucci dan Emma Thompson yang menyanyikan dengan baik lagu “Tales As Old As Time” saat Belle dan Beast berdansa berdua.

Kontroversi gaynya yang terkesan digembar-gemborkan oleh media, apalagi sejak Malaysia dan Russia melarang peredaran film ini, ternyata memang terlalu berlebihan, karena adegan berbau gaynya hanya beberapa detik saja dan cuma ada di 2 adegan. Bahkan banyak juga penonton yang bertanya-tanya dimana gaynya. Jadi para orangtua tidak perlu takut membawa anaknya untuk menonton film yang sangat cocok untuk menjadi hiburan keluarga ini.

Film ini memiliki klimaks yang benar-benar mengena, sama seperti animasinya saat Belle akhirnya menangis dan menyatakan cintanya pada Beast. Penutupnya saat adegan tarian yang classy dan anggun dengan para anggota kerajaan dan rakyat pedesaan dan tentu saja lagu dari Celine Dion yang memiliki suara tinggi yang sangat indah dan suaranya tetap tidak berubah padahal sekarang sudah jauh lebih berumur. Penonton yang menyaksikan di bioskop pun hampir semua yang tidak mau meninggalkan ruangan theater bioskop karena ingin mendengarkan suara dari Celine Dion yang merasuk hingga ke hati dan jiwa. Nominasi Oscar 2018 untuknya!

Final Verdict:

Humor, pace, charm-nya memang lebih baik versi animasinya. Namun akting terbaik sepanjang karir dari Emma Watson, kekuatan karakter dari para furnitur dan perabotan rumah tangga (jam, tempat lilin, cangkir, dll), klimaks endingnya yang manis, production dan costume design yang sekaliber Oscar dan tentu visualnya yang spektakuler walau kadang terlalu over the top. Hal-hal itu semua membuat Beauty and the Beast terasa magis, mempesona, glamor dan memikat hati. Lagu Celine Dion di end credit adalah lagu terbaik dari seluruh lagu-lagu di Beauty and the Beast. Nominasi Oscar 2018 untuknya!

*Photo: Disney