Film adaptasi manga terbaru dari Hollywood, Alita: Battle Angel telah tayang di bioskop sejak pekan lalu. Merupakan proyek yang ambisius, efek visual yang digunakan untuk menghidupkan karakter ini tidak tanggung-tanggung. Terlebih lagi, film yang disutradarai oleh Robert Rodriguez ini juga diproduseri oleh kreator Avatar, James Cameron.

Tentunya, para penonton maupun penggemar dibuat penasaran dengan bagaimana proses pembuatan film Alita: Battle Angel. Menjawab pertanyaan tersebut, 20th Century Fox Indonesia lewat akun Youtube resminya membagikan video yang berisi bagaimana proses pembuatan film Alita: Battle Angel.

Proyek Alita: Battle Angel berawal dari keinginan James Cameron untuk menghasilkan pengalaman sinematik yang baru usai mengetahui keberadaan manga karangan Yukito Kishiro tersebut. Menunggu hingga CGI yang mumpuni, ia mengaku setelah pembuatan Avatar, ia yakin Alita sudah siap hadir di layar lebar.

“Ketika aku membuat Avatar bersama Weta, aku tahu bahwa Alita tidak hanya memungkinkan untuk diwujudkan, tapi juga, sebagai karakter dia akan sangat spektakuler,” ucapnya.

Mike Cozens selaku Animation Supervisor untuk film ini pun menyebut bahwa Alita merupakan karakter digital paling ambisius yang pernah mereka ciptakan.

“Alita mungkin adalah karakter digital paling ambisius yang pernah kami ciptakan. Tidak ada cara yang lebih baik selain menangkap aksi dari manusia sungguhan,” jelasnya.

Untuk menyatukan Alita dengan orang-orang sekelilingnya dalam satu frame, film ini menggunakan Performance Capture yang mana memberikan tubuh, berat, dan ekspresi yang nyata.

“Cara bekerja Performance Capture adalah kami memasang sejumlah kamera di sekitar lokasi yang bisa merekam tanda-tanda spidol di tubuh aktor. Sistem ini akan menginterpretasikan tanda-tanda spidol itu dan meletakkannya ke dalam ruang tiga dimensi dan menciptakan kerangka masuk ke dalam model CG untuk mendorong aksi model CG tersebut,” jelas sang produser, Jon Landau.

Adapun, Performance Capture sendiri bisa dibilang berbeda dan merupakan peningkatan dari Motion Capture.

“Apa yang mengubah ini dari Motion Capture menjadi Performance Capture adalah secara simultan kami menangkap aksi tubuh dan penampilan wajah,” tambahnya.

Memerankan karakter digital tentunya merupakan tantangan tersendiri untuk pemeran Alita, Rosa Salazar. Ia pun membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan hal tersebut.

“Butuh waktu untuk terbiasa. Kau pakai helm dengan mikrofon, baterai, boom titanium, sebuah perekam. Kau dibalut kostum ketat dan sarung tangan,” ungkapnya.

Ia pun cukup terkesima dengan hasilnya karena hampir setiap detail yang ada di wajahnya tertangkap di sana.

“Setiap tarikan, lekukan, luka, kerutan, dan semua hal yang ada di wajahku yang kuharap tidak mereka pakai ada di sana. Rasanya seperti melihat diriku karena sampai unsur kecil di wajahku ada di sana,” ceritanya lebih lanjut.

Alita: Battle Angel berfokus pada kisah cyborg perempuan muda yang ditemukan di tempat sampah dan dirakit kembali oleh seorang ilmuwan, Dr. Ido yang nantinya juga akan menjadi figur ayahnya. Film ini telah tayang di bioskop tanah air sejak 5 Februari kemarin.