Dunia kembali kehilangan sineas legendarisnya. Sutradara Last Tango in Paris, Bernado Bertolucci meninggal dunia pada usianya yang ke 77, Senin (26/11) di kediamannya di Roma, Italia.

Sineas yang lahir pada 16 Maret 1941 ini merupakan salah satu sutradara terbaik pada generasinya. Merupakan putra dari penyair dan penulis terkenal Attilio Bertolucci, di usianya yang ke-21 ini juga sempat mengikuti jejak ayahnya dengan memenangkan sebuah penghargaan untuk puisi pada usianya ke-21.

Karir di dunia perfilmannya pun diawalinya dengan menjadi asisten penyair Italia lainnya, Pier Paolo Pasolini yang sedang mengerjakan film Accatone pada 1961. Di tahun berikutnya, Bertolucci pun menyutradarai film debutnya sendiri yang berjudul The Grim Reaper. Ditayangkan di Venice Film Festival, film ini berfokus pada investigasi pembunuhan pekerja seks Roman yang diceritakan dari berbagai sudut pandang. Pada tahun 1970, ia pun menerima nominasi pertamanya pada ajang Academy Awards, kategori naskah adaptasi terbaik untuk film The Conformist yang ditulis berdasarkan novel karya Alberto Moravia.

Kontroversi Last Tango in Paris

Last Tango in Paris - Bernardo Bertolucci meninggal dunia

Walaupun telah menerima penghargaan maupun pengakuan melalui film-film yang dikerjakannya, satu film yang membuat Bertolucci menjadi sangat terkenal adalah Last Tango in Paris. Film ini dibintangi oleh Marlon Brando sebagai pria Amerika separuh baya yang bertemu dengan perempuan Prancis, Maria Schneider, ketika keduanya mencari apartemen di Paris untuk disewa. Pertemuan ini pun berubah menjadi hubungan yang melibatkan aktivitas seksual.

Walaupun disebut sebagai salah satu paling penting pada abad 20, Last Tango in Paris memicu kontroversi karena salah satu adegannya. Dalam film yang dirilis tahun 1972 tersebut terdapat adegan di mana karakter Marlon Brando memperkosa karakter Maria Schneider menggunakan mentega sebagai pelumas.

Dalam wawancara dengan Daily Mail pada 2007 silam, Schneider mengungkapkan bawah adegan tersebut tidak ada di dalam naskah aslinya.

“Adegan tersebut tidak ada di dalam naskah aslinya. Kenyataannya adalah itu adalah Marlon yang mempunyai ide tersebut. Mereka hanya memberitahuku tentang hal tersebut sebelum kami harus melakukan adegan tersebut dan saya sangat marah.”

Lebih lanjut, dalam wawancara yang sama ia juga mengungkapkan bahwa air mata dalam film tersebut adalah asli karena ia merasa dipermalukan.

“Saya merasa dipermalukan dan sejujurnya, saya merasa sedikit diperkosa, oleh keduanya baik Marlon maupun Bertolucci. Setelah adegan tersebut, Marlon tidak menghiburku ataupun meminta maaf. Untungnya, hanya ada satu kali pengambilan adegan.”

Terkait hal tersebut, tahun 2013 dalam kelas di Cinematheque Francaise, Bertolucci menjelaskan bagaimana adegan tersebut akhirnya dibuat.

“Itu ada di dalam naskah bahwa dia harus memperkosalnya dengan sebuah cara… Dan kami sarapan bersama dengan Marlon di lantai flat tempat kami melakukan pengambilan gambar. Dan terdapat baguette dan mentega, dan kami melihat satu salam lain dan tanpa mengatakan apapun, kami tau apa yang kami inginkan,” jelasnya.

Ia pun mengakui bahwa ia memang tidak memberitahu Schneider tentang mentega tersebut sebelumnya.

“Saya ingin reaksinya sebagai seorang gadis, bukan sebagai seorang aktris. Aku ingin ia bereaksi merasa dipermalukan.”

Walaupun merasa bersalah dengan caranya mempermalukan Schneider, Bertolucci tidak menyesalinya. Sebagai pembuat film, ia mengatakan bahwa, “kamu harus benar-benar sepenuhnya bebas.”

Sukses di Ajang Academy Awards

bernardo bertolucci meninggal dunia - The Last Emperor

Semasa hidupnya, Bertolucci merupakan salah satu sineas asal Italia yang cukup berpengaruh. Sukses bekerja di Eropa maupun Hollywood, puncak kesuksesannya adalah ketika film arahannya, The Last Emperor memenangkan semua kategori Academy Awards 1987 yang mana dinominasikan untuk film tersebut termasuk Best Picture dan Best Director. Hal ini pun membuat Bertolucci menjadi orang Italia pertama dan satu-satunya yang pernah memenangkan Oscar untuk kategori sutradara terbaik.

The Last Emperor merupakan sebuah adaptasi dari otobiografi kaisar terakhir Tiongkok, Pu Yi.  Kehidupannya diceritakan mulai dari masa kanak-kanaknya menuju takhta hingga dipenjara dan direhabilitasi oleh Partai Komunis Tiongkok. Tak hanya menjadi salah satu film dengan raihan piala Oscar terbanyak, film ini juga merupakan kisah tentang Tiongkok yang dibuat dengan kerja sama dengan pemerintah setempat.