Usai sukses di pasar internasional, game lokal Indonesia produksi Digital Happiness, DreadOut akan segera diangkat ke layar lebar. Kabar gembira tersebut pun disampaikan pertama kali dalam acara pameran game terbesar di Indonesia; Game Prime yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) di Balai Kartini pada 14 Juli 2018.

Menandai pertama kalinya dalam sejarah kerja sama antara industri game dan film nasional, dalam kesempatan tersebut, Kepala BEKRAF, Triawan Munaf pun memberi dukungannya.

“Saya sangat gembira dan mendukung adanya kerjasama yang terjalin antara Digital Happiness dan GoodHouse.id, karena kolaborasi mereka ini akan menjadi tonggak sejarah dalam industri kreatif di Indonesia, dimana untuk pertama kalinya industri game dan film bersatu. Diharapkan kolaborasi mereka dapat memberikan contoh bagi para pelaku industri kreatif di Indonesia untuk semakin kreatif bekerjasama antar sub-sektor, sehingga peningkatan PDB ekonomi kreatif di Indonesia semakin cepat pertumbuhannya.”

Dreadout diangkat ke laya lebar

Digital Happiness, selaku pemilik Kekayaan Intelektual/Intelektual Property (IP), DreadOut mempercayakan rumah produksi lokal goodhouse.id untuk memproduksi film layar lebar yang akan diproduseri oleh Kimo Stamboel, Wida Handoyo dan Edwin Nazir. Selain sebagai produser, Kimo Stamboel (Rumah Dara) juga berperan sebagai sutradara sekaligus penulis skenario untuk film ini.

“Saya tertarik bekerjasama dengan GoodHouse.ID untuk mengadaptasi DreadOut menjadi sebuah film dikarenakan kesamaan visi antara GoodHouse.ID dengan Digital Happiness. DreadOut sengaja dirintis sebagai salah satu bisnis berdasarkan Kekayaan Intelektual/Intelektual Property (IP), yang nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah entertainment franchise dalam berbagai format salah satunya adalah melalui media film layar lebar,” ungkap Rachmad Imron, founder dari Digital Happiness.

Tak hanya kesamaan visi, Imron juga menambahkan bahwa ia dan rekannya Dito sudah lama menjadi penggemar film-film Kimo.

“Apalagi film ini akan disutradarai oleh Kimo Stamboel dari Mo Brothers. Saya dan partner saya Dito sudah lama nge-fans dengan film-filmnya Kimo. Seperti yang kita ketahui bersama, Kimo sudah banyak menyutradarai beberapa film yang sudah masuk ke kancah industri film internasional, seperti Rumah Dara, Headshot dan Killers,” lanjutnya.

dreadout diangkat ke layar lebar

Edwin Nazir (Produser), Rachmad Imron (Founder Digital Happiness), Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia), Kimo Stamboel (Sutradara, Penulis, dan Produser), dan Winda Handoyo (Produser)

Dalam kesempatan yang sama, Kimo Stamboel, sutradara dan penulis skenario yang sekaligus menjadi produser film ini mengungkapkan alasan ketertarikannya untuk menyutradarai film DreadOut.

“Ketika pertama kali saya mencoba memainkan game ini, seketika itu juga saya mengetahui bahwa game ini memiliki potensi yang sangat besar untuk diangkat ke layar lebar. Sebagai penggemar film horror, saya melihat banyak sekali ruang untuk saya mengeksplor dan mengembangkan genre ini lebih jauh. Apalagi cara mengalahkan hantu dengan menggunakan gadget handphone sangat keren sekaligus menjadikan konsep ceritanya sangat related to the audience masa kini”

Bergenre survival horor, DreadOut merupakan produksi dari game developer, Digital Happiness yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Tidak hanya sukses di Indonesia, DreadOut juga sukses di berbagai negara lainnya seperti Jepang, Amerika, Australia,  Malaysia, Singapura dan masih banyak lagi.

Menariknya, game DreadOut merupakan game lokal pertama yang sukses di platform international crowdfunding. Bahkan youtuber terkenal PewDiePie (64 juta subscriber) juga merupakan salah satu supporter dan backer aktif DreadOut kala itu.

Salah satu keunikan dari DreadOut adalah game horor ini mengangkat hantu-hantu lokal Indonesia, seperti pocong, kuntilanak, tuyul, sundel bolong, sampai dengan babi ngepet. Karena itu keseraman dan kengeringan game ini sangat terasa kuat sekaligus menegangkan sekali. Selain itu, DreadOut mengangkat kisah petualangan anak SMA bernama Linda bersama teman-temannya, menyelamatkan diri dari serangan para hantu tersebut.

Dreadout diangkat ke layar lebar

Untuk proses pengerjaan, Wida Handoyo selaku produser menjelaskan bahwa persiapan yang dilakukan sangat serius. Bahkan, untuk pengembangan naskahnya saja memakan waktu hampir 4 tahun.

“Kami dari goodhouse.id mempersiapkan film ini dengan sangat serius. Pengembangan script-nya sendiri memakan waktu hampir 4 tahun, ditambah fase pra-produksi 6 bulan untuk memastikan bahwa semua sudah siap dan sempurna sebelum masuk ke fase produksi. Melihat besarnya komunitas penggemar film horror ditambah komunitas gamers di Indonesia,  kami sangat optimis bahwa project film DreadOut memiliki potensi yang sangat besar untuk sukses dipasaran. Demi menjaga kualitas brand dari IP DreadOut, GoodHouse.id telah menyiapkan dana yang cukup besar untuk memproduksi film ini dengan bekerjasama, dengan studio besar dari dalam dan luar negeri”, ungkapnya.

Edwin Nazir yang juga turut di bangku produser menambahkan bahwa DreadOut merupakan kesempatan untuk sineas Indonesia menghasilkan film dari adaptasi game seperti Resident Evil, Rampage, dan lainnya.

“Selama ini kita bisa melihat telah banyak film-film adaptasi dari game yang diproduksi studio besar di Amerika maupun Jepang, sukses di pasar Internasional,  contohnya: Resident Evil, Silent Hill, Tomb Raider, Rampage, Angry Bird dan lainnya. Inilah saatnya sineas Indonesia berkarya menciptakan sebuah film yang diadaptasi dari salah satu game terbaik bertaraf Internasional buatan anak bangsa”.