Walaupun dari segi dramatisirnya kurang, namun deretan cast-castnya mampu memberikan kelucuan yang sangat, ditambah pesannya yang kuat antara hubungan ayah dan anak
7Overall Score

Setelah sukses dengan film Ngenest yang meraih lebih dari 700rb penonton, Ernest Prakasa kembali lagi dengan drama komedi yang tetap dilatar belakangi dengan kehidupan ras Tionghoa yang besar dan lahir di Indonesia.

Cek Toko Sebelah berkisah toko kelontong yang dimiliki oleh A Fuk (Chew Kin Wah). Karena sudah tua dan mengidap penyakit maka A Fuk ingin mewariskan tokonya kepada anaknya Erwin (Ernest Prakasa), namun hal itu ditentang oleh orang-orang terdekat Erwin, mulai dari pacarnya yang high-class dan memiliki pekerjaan yang mapan, Natalie (Gisella Anastasia); Yohan (Dion Wiyoko), kakak kandung dari Erwin, hingga Erwin sendiri yang lebih memilih untuk bekerja kantoran. Cerita mulai menarik sejak Erwin akhirnya setuju untuk mencoba selama 1 bulan untuk mengurus toko.

Toko kelontong memang menjadi bagian sentral dari bisnis orang Tionghoa-Indonesia, hampir semua orang Tionghoa-Indonesia pasti punya teman atau saudara yang berdagang toko kelontong dan masih terus bertahan di tengah warabala minimarket/supermarket yang terus menerus melakukan ekspansi bisnis. Bisnis toko kelontong atau toko lainnya dari Tionghoa-Indonesia ini biasanya merupakan bisnis turun temurun yang memang sudah menjadi tradisi diwariskan kepada keturunannya. Hal yang menjadi permasalahan utama inilah yang dengan gamblang dan pintar dikemas dengan menarik oleh Ernest. Bagaimana A Fuk yang lebih memilih Erwin sebagai penerus, walaupun sifat Erwin yang lebih mementingkan diri sendiri karena jabatan dan kekayaannya. Hal ini dibandingkan dengan kakaknya yang lebih cinta dengan keluarga namun nakal dan keuangan pas-pasan, apalagi pernikahannya tidak direstui oleh ayahnya.

Ernest secara penyutradaraan dan naskah lebih matang daripada penyutradaraan debutnya di Ernest, walaupun masih ada beberapa kekurangan dalam segi dramatisasi, back story yang kurang kuat dalam memperlihatkan hubungan ayah dan kedua anaknya hingga beberapa adegan yang dipaksakan di menjelang akhir. Namun untuk soal mengundang gelak tawa lah yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, ditambah dengan cast-cast yang dari stand up comedian hingga para pelawak tersohor lainnya yang berperan pas sesuai dengan porsi dan karakter uniknya masing-masing.

Dari segi akting mungkin memang Ernest kurang bisa memperlihatkan emosi yang luar biasa dan terasa cukup kebanting dengan Dion Wiyoko yang terlihat makin baik saja dari tiap film ke film. Bahkan aktingnya di Ngenest masih lebih baik daripada disini. Gisella dan Adinia Wirasti berakting cukup lumayan, namun naskahnya yang membuat mereka memang benar-benar hanya sebagai pendukung saja, tidak terlihat memberikan pengaruh yang benar-benar kuat dalam film ini.

Dodit Mulyanto dengan keluguannya dan bahasa-bahasa puitis (seperti yang dia lakukan di SUCI dan Ok-Jek hingga Asri Welas dengan lagu “Keluarga Cemara” selalu menghadirkan segala kelucuan yang klimaks. Belum lagi dengan cameo dari Kaesang Pangarep, sang anak dari Presiden RI Jokowi di bagian awal film.

Cek Toko Sebelah menjadi cukup personal bagi saya. Menonton beberapa adegan seperti melihat ayah saya yang bekerja keras membanting tulang dari pagi hingga malam (bahkan tengah malam) bagi anak-anaknya dan tidak mengharapkan apapun. Sosok A Fuk begitu bijaksana dalam tutur kata dan hidup sederhana supaya anak-anaknya menikmati hasil jerih parahnya, sehingga menambah demikian hebatnya pengorbanan seorang ayah. Dibalik beberapa kekurangannya, film ini berhasil yang menghadirkan kelucuan dari tiap para cast-castnya, bahkan plesetan dari produk-produk di toko kelontongnya pun lucu, ditambah dengan ending yang begitu manis dan rasanya akan memuaskan setiap penonton yang menontonnya, menjadikan Cek Toko Sebelah menjadi sebuah film yang layak ditonton oleh seluruh kalangan, khususnya yang ingin melihat bagaimana hubungan antar ayah dan anak yang begitu kuat.