Terlalu banyak mengumbar adegan yang membuat kaget daripada membangun atmosfir ketegangan itu sendiri
5Overall Score
Reader Rating 15 Votes
5.8

Dalam 5 hari penayangannya, Danur sudah menghantui 837rb orang sehingga menjadikannya sebagai film horror dengan penonton terbanyak dalam 5 hari. Kesuksesan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi melihat hype yang dibuat oleh tim marketing dan PR-nya yang “menghantui” mulai dari film ini berdasarkan buku “Danur – Karena mereka juga ada” yang juga berdasarkan pengalaman supernatural yang dialami sendiri oleh penulisnya Risa Sarasvati, poster film yang diubah karena permintaan hantu Belanda yang ada di dalam buku hingga 3 bangku penonton yang mesti dikosongkan di setiap teater bioskop. Apalagi tentu pesona Prilly Latuconsina yang melejit karirnya berkat serial Ganteng Ganteng Serigala.

Baca Juga: 7 Hal Menarik yang Harus Kamu Tahu dari Film Danur

Dikisahkan Risa (Asha Kenyeri Bermudez) adalah seorang gadis kecil yang meminta teman dihari ulang kedelapannya. Dia kesepian karena ibunya (Kinaryosih) selalu sibuk dalam urusan pekerjaan. Permintaan tersebut bagai gayung bersambut, datanglah ketiga teman makhluk halusnya yang merupakan anak kecil keturunan Belanda yang telah meninggal sejak zaman penjajahan Jepang. Mereka adalah William (Wesley Andrew), Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh) dan Peter (Gamaharitz). Karena ibunya memanggil orang pintar untuk mengusir mereka, akhirnya Risa tidak lagi dapat bermain bersama mereka di rumah neneknya tersebut.

Selang 9 tahun sejak peristiwa tersebut, Risa yang telah besar dan diperankan oleh Prilly Latuconsina, kembali lagi ke rumah tersebut untuk menjaga neneknya. Kali ini Risa bersama adiknya Riri (Sandrinna Michelle) mendapati Asih, suster perawat neneknya (Shareefa Daanish) tersebut ternyata berperangai aneh dan dimulailah kejadian-kejadian supernatural yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.

DANURR-640x426

Sutradara Awi Suryadi yang sukses sebelumnya dalam membangun atmosfir ketegangan dan suasana yang mencekam di film Badoet, tidak dapat mengulangi kegemilangannya tersebut. Alih-alih dengan pelan membuat penonton penasaran dan menunggu kapan hantunya akan muncul, Awi seperti mengumbar berbagai adegan jump scare dengan menampilkan berbagai ekspresi dari Shareefa Daanish mulai dari muka yang tertutup rambut seperti di film The Ring hingga mengangetkan dengan gigi busuk nan menyeramkan seperti di film Drag Me to Hell. Kredit terbesar diberikan kepada Shareefa Daanish yang melejit berkat aktingnya di Rumah Dara. Penampilan dan ekspresi yang tajam dan menakutkannya memang dapat membuat penonton sudah lebih dahulu merasakan ketegangan sebelum hantu Asih ini beraksi. Tapi sekali lagi ibaratnya seorang pria yang mendekati wanita idamannya dengan berbagai hadiah dan pujian tapi tidak dapat membangun chemistry atau rasa penasaran terlebih dahulu.

086743300_1488253911-16585496_692203737607743_1072388239286861824_n

Plot cerita dan karakternya sangat ringan sehingga bisa dikatakan penonton tidak perlu berpikir untuk menonton film ini. Tidak ada misteri, kecuali pohon rindang nan besar yang saat itu Risa dilarang didekati oleh ketiga hantu itu. Sosok nenek Risa yang sebenarnya menimbulkan tanda tanya kenapa bisa sakit seperti itu, ternyata sama sekali tidak dijelaskan. Malah sosoknya seringkali menimbulkan gelak tawa penonton karena aktingnya dan karakternya yang lebih menggelikan daripada menarik simpati penonton seperti film parodi horor di Scary Movie. Karakter lainnya pun sungguh tipis, ketiga hantu tidak didalami dengan baik. Saya pun lupa siapa yang Peter, Jansen, William karena sifat mereka sama saja.

Walau begitu, tidak semuanya buruk memang. Ada beberapa momen yang dramatis, salah satunya saat Prilly memainkan piano tersebut di awal film yang ada hubungannya dengan adegan penting di pertengahan film. Lalu cukup baik dalam mengambil berbagai inspirasi film-film seperti The Conjuring untuk beberapa adegannya dan ada sesuatu hal yang mirip dengan film tersebut yang jika saya ceritakan tentu akan menjadi spoiler, Insidious dalam hal masuk ke dunia makhluk halus dan beberapa film yang telah saya sebutkan diatas. Sinematografinya juga bisa dikatakan lumayan baik dalam memberikan sudut-sudut ruang yang menjadikan suasana semakin mencekam. Lalu beberapa adegan memang terasa cukup menyeramkan di awal-awal film dan saat suster Asih diperkenalkan.

Final Verdict:

Terlalu banyak mengumbar adegan kemunculan makhluk halus yang mengagetkan tanpa membangun dulu atmosfir mencekamnya. Begitu pula dengan plot, karakter hingga dialog yang sangat ringan. Membuat Danur tidak dapat menakuti penonton hingga merinding, gelisah atau berkeringat dingin. Tapi ironisnya mungkin saja hal-hal ini yang membuat film Danur bisa menjadi film horror Indonesia tersukses sepanjang masa melihat perolehan jumlah penontonnya dalam beberapa hari pemutarannya. Tentu saja ditambah dengan strategi marketingnya yang sungguh brilian dan nama besar Prilly Latuconsina.

Trailer Film Danur: