Karena akhir-akhir ini agak jarang nonton baik di bioskop maupun di rumah dan salah satu film horror favorit gw yaitu Saw sudah pasti akan dilanjutkan kembali, maka sedikit bernostalgia, berikut film-film horror favorit gw sekaligus yang menurut gw terbaik sepanjang masa. Let’s go!

Menurut situs Horror on Screen, film horror dibedakan menjadi 6 genre: Gore & Disturbing, Psycological, Killer, Monster, Paranormal dan Zombie. Sebenarnya dari ke 6 itu dibagi-bagi lagi menjadi sub genre yang lebih kecil lagi seperti: Slasher, Torture, Vampire, Virus, Ghost/Spirit, Possesion, dll. Lebih jelasnya bisa cek di http://www.horroronscreen.com/2013/06/10/horror-genres/.

Berikut ini adalah film-film horror terbaik yang pernah gw tonton yang gw susun dalam 6 genre utama yang berbeda:

Gore & Disturbing

Horror yang menonjolkan sisi berdarah-darah dengan gambar-gambar yang menggangu.

– Saw (2004): Inilah film yang membuat gw pertama kali mengetahui genre gore & disturbing. Ceritanya sungguh unik dengan sosok Jigsaw yang seakan-akan seperti seorang penegak hukum atau tuhan dan Jigsaw membuat seseorang/sekumpulan orang yang harus melakukan kegiatan di luar nalar untuk menebus kesalahan-kesalahan terdahulu. Sungguh banyak alat-alat trap (jebakan) penyiksaan yang sungguh dibuat sedemikian rupa supaya unsur gore dan violencenya sangat tinggi, tetapi disitu nilai plus film ini. Dengan trap-trap yang sungguh unik dan twist yang mengejutkan, menjadikan sebuah horror yang berbeda dari biasanya.

– Hostel (2005): Torture-porn itulah yang disematkan untuk film ini dan juga Eli Roth sang sutradara. Sebuah istilah yang cukup negatif, karena sebenarnya kekuatan dari Hostel ada di survival story dan penyutradaraannya. 30 menit terakhir film ini sungguh menegangkan, mungkin salah satu 30 menit paling menegangkan yang pernah gw rasakan selama menonton sebuah film. Hostel juga menembus batas, bagaimana violence/kekerasan dalam suatu film ditampilkan untuk ukuran horror yang cukup mainstream saat itu.

– Cannibal Holocaust (1980): Film yang sangat kontroversial yang di larang/banned oleh puluhan negara saat itu karena animal cruelty, kadar gore & violence di luar batas, bahkan sang sutradara sampai di bawa ke pengadilan untuk membuktikan film tersebut hanyalah sebuah rekayasa. Bergaya dokumenter dengan banyak adegan yang disturbing, salah satunya impale, rape dan pembantaian dari suku kanibal tersebut ke orang-orang pendatang sampai adegan kanibalnya itu sendiri, iya benar, adegan manusia memakan manusia! Setelah menonton film ini, pertanyaan muncul, siapakah yang sebenarnya yang savages (liar/pedalaman) dan tidak beradab, kru-kru film tersebut yang jauh lebih berpendidikan atau suku pedalaman tersebut?

– House of 1000 Corpses (2003): Sebuah film yang menjadi cult, karena sampai sekarang pun masih banyak para fans dari film ini dan khususnya kepada sutradara Rob Zombie. Kekuatan film ini dari segi production, make up, costume, directing, kekejaman, gore dan para karakter-karakter yang unik. Banyak tokoh-tokoh supranatural, legenda, monster-monster juga turut ditampilkan. Sebuah film yang menurut gw berbeda dari kebanyakan film horror lainnya karena begitu chessy dan exploitative nya dalam artian yang positif. Sekuel dari House of 1000 Corpses pun juga patut diacungi jempol, walau dari sisi produksi dan settingnya tidak sebaik yang ke 1. It’s trash art film in a good way!

– Salo (1976): Film yang sekali lagi sangat kontroversial, kabarnya pembunuhan Pasolini (sutradara Salo) disebabkan oleh film ini. Beberapa orang menyebut Salo adalah sebuah masterpiece, yang lain menyebutkan film sampah, Bagi gw ini adalah sebuah film yang sungguh disturbing, thoughtful, penuh dengan simbol-simbol dan dengan adegan-adegan yang mencengangkan, khususnya sexual crueltynya yang bagi sebagian besar orang sulit untuk dicerna dan ditonton (unwatchable). Anyway, Salo merupakan sebuah film tentang kekuasaan yang tanpa batas sehingga menindas yang lemah.

Psychological

Film horror yang menampilkan seseorang yang sedang dalam kejiwaan yang tidak stabil atau situasi dimana sedang terperangkap di suatu tempat

– Frozen (2010): Bukan, tentu bukan film Frozennya Disney. Sebuah ketakutan yang sangat nyata bagaimana jika sky lift berhenti pada saat jam operasi berakhir, tetapi masih ada beberapa orang yang masih terjebak di lift tersebut. Sebuah horror film yang efektif dari awal hingga akhir dan bagaimana mereka harus survive di kondisi kondisi yang dingin dengan para serigala yang akan memangsa mereka di bawah sana.

– Buried (2010): Penuh dengan teka teki, claustrophobic dengan akting yang menawan dari Ryan Reynolds. Menceritakan seorang supir Amerika yang bekerja di Irak dan terperangkap dalam peti mati dan harus berjuang demi hidupnya sebelum oksigen habis.

Killer

Film horror yang sering dibuat, sudah menjadi mainstream, intinya adalah seseorang baik manusia atau karakter supranatural yang berupaya membunuh korbannya satu per satu

– Texas Chainsaw Massacre (1974): Film inilah yang dikatakan sebagai salah satu dari “the father of slasher film”. Leatherface yang menjadi pemeran antagonis menjadi sebuah nama yang melegenda. Berbagai sekuel dan remake sudah dibuat, namun tidak ada yang mengalahkan film originalnya dari segi atmosfir, pengambilan gambar yang bergaya dokumenter hingga kengerian di sepertiga bagian terakhir film ini yang menjadikan sebuah film paling seram sepanjang masa.

– The Friday 13th (1980): Sebuah film horror yang sangat klasik. Camp, sex, drug, teenager, good/bad boy, popular/old-fashioned girl, formula yang diulang terus menerus hingga kini, but it works! Ya benar, mungkin itu merupakan formula yang terbaik, tinggal masalah eksekusinya saja. Tentu Jason Voorhees menjadi salah satu horror villain paling klasik dalam sejarah horror Amerika. Credit patut juga diberikan kepada remake tahun 2009 yang masih mempertahankan sisi entertaining dan kengeriannya.

– House of Wax (2005): Mungkin bagi kebanyakan orang biasa saja, namun bagi gw, House of Wax sungguh entertaining dengan akting yang prima dari Elisha Cuthbert. Sekali lagi, klasik namun kadar tensi ketegangan dapat dijaga dari pertengahan film sampai menjelang akhir. House of Wax ini merupakan sebuah remake dari tahun 1953, dan gw belum menonton versi original dari film ini.

– The Hills Have Eyes (2006): Merupakan sebuah remake dari film terdahulu yaitu tahun 1977, gw juga belum menontonnya. Sebuah film dengan fast paced, menegangkan, berdarah-darah. Yang patut di acungi jempol adalah penyutradaraan Alexandre Aja, dia juga dapat membuat kita bersimpati dengan karakter-karakternya khususnya kepada karakter ayah dan anak laki-lakinya, bahkan kepada mutannya!