Mengadaptasi video game menjadi sebuah film bukanlah hal baru. Walaupun demikian, dari sekian banyak film yang diadaptasi dari media tersebut, hampir seluruhnya memiliki sejarah buruk. Bahkan, hal tersebut menciptakan sebuah fenomena yang disebut kutukan video game. Nah, mana saja yang akan masuk dala kategori film adaptasi game terburuk? Simak di bawah ini!

1. In The Name Of The King: A Dungeon Siege Tale (2007)

Disutradarai oleh Uwe Boll, In the Name of the King terinspirasi dari seri video game berjudul Dungeon Siege. Film yang diproduksi Jerman, Kanada, dan Amerika ini berkisah tentang Farmer (Jason Statham), pria dari kerajaan Ehb berusaha menyelamatkan istrinya yang diculik dan membalas dendam atas kematian putranya yang dilakukan oleh Krugs, animal-warriors yang dikendalikan oleh Gallian.

Memiliki kualitas dialog dan akting pemain yang buruk, In the Name of the King memperoleh 5 nominasi Razzies Awards. Untungnya, film ini hanya memperoleh satu saja yaitu Worst Director untuk Uwe Boll. Kritik buruk juga ditujukan atas miripnya film ini dengan beberapa film fantasi khususnya The Lord of the Rings. Tidak hanya mendapat kritik pedas, namun juga gagal di box office. Dari biaya pembuatan $ 60 juta, film yang dibintangi Jason Statham ini hanya mampu mengumpulkan $ 13 juta saja.

2. House of The Dead (2003)

House of the Dead merupakan film adaptasi game terburuk yang pertama kali disutradarai oleh Uwe Boll. Diadaptasi dari game berjudul sama yang dirilis tahun 1996, House of the Dead berkisah tentang sekumpulan anak kuliah yang pergi ke pulau misterius untuk acara makrab. Namun perjalanan tersebut pun menjadi bencana oleh serang zombie yang haus darah.

Merupakan jenis game arcade tembak yang tidak fokus pada karakter dan cerita, tentunya House of the Dead cukup aneh untuk diadaptasi menjadi film. Memiliki naskah yang tidak masuk akal, House of the Dead menduduki posisi ke 41 film terburuk pada tahun 2000-an di situs Rotten Tomatoes.

3. Double Dragon (1994)

Di era tahun 90-an, hampir setiap anak maupun remaja terobsesi dengan film martial arts. Mengambil kesimpulan dari sana, Imperial Entertainment Group mencoba mengadaptasi game martial arts Double Dragon menjadi film. Disutradarai oleh James Yukich, Double Dragon berkisah tentang kakak adik, Jimmy dan Billy Lee (Mark Dacascos dan Scott Wolf) melawan Koga Shuko (Robert Patrick), pebisnis dan penjahat di kota Los Angeles pasca apocalypse.

Mendapat kritik negatif, Double Dragon disebut memiliki jalan cerita yang tidak hanya buruk namun juga cheesy. Kegagalan pun berlanjut pada perolehan box office-nya. Dari biaya pembuatan $7,8 juta, Double Dragon hanya mampu mengumpulkan $2,3 juta.

4. Alone in the Dark (2005)

Kembali dari deretan film yang disutradarai oleh Uwe Boll, Alone in the Dark juga merupakan salah satu film adaptasi game terburuk. Diadaptasi dari game horor berjudul sama produksi Infragames, Alone in the Dark mengikuti kisah Edward Carnby (Christian Slater), detektif yang mengkhususkan diri untuk hal-hal dan subjek supranatural.

Kritik pedas untuk film ini ditujukan pada plot holes dan akting yang buruk. Tidak hanya itu, film ini pun dinilai hampir tidak ada kaitannya dengan video gamenya. Beberapa kesalahan editing juga ditemukan seperti adegan prajurit perempuan yang terbunuh mengangkat kepalanya begitu kru kamera pergi.

5. Bloodrayne (2005)

Dalam tahun yang sama, Uwe Boll kembali merilis film yang diadaptasi dari game yaitu Bloodrayne. Diadaptasi dari game berjudul sama, Bloodrayne berkisah tentang Rayne (Kristanna Loken), Dhampir (setengah manusia dan vampir) yang menjadi pemburu vampir.

Walaupun dilengkapi dengan jajaran pemain bintang seperti Ben Kingsley, Michael Madsen dan Michelle Rodriguez, sayangnya hal tersebut tidak mampu menyelamatkan Bloodrayne dari kritik negatif.

6. Postal (2007)

Masih tidak kapok mengadaptasi game menjadi film, Uwe Boll kembali mengarahkan Postal. Diadaptasi dari game kontroversial bernama sama, Postal berfokus pada kisah pecundang yang bekerja sama dengan paman pengikut kultus untuk merampok kekayaan di taman bermain. Di saat yang sama, sekelompok teroris Taliban juga memiliki fokus yang sama namun dengan tujuan yang lebih jahat.

Hampir di sepanjang film, ditampilkan adegan-adegan yang tidak hanya buruk namun juga menyinggung. Setiap aspek kontroversial dari game Postal 2 – kekejaman, rasis, agama, dan politik menjadikan film ini semakin tenggelam. Walaupun dinilai sangat buruk, menariknya Postal memenangkan Best Director dan Best of Festival di ajang Hoboken International Film Festival.

7. Street Fighter: The Legend of Chun Li (2009)

Mengadaptasi game Street Fighter, film yang disutradarai oleh Andrzej Bartkowiak ini berfokus pada kisah asal usul Chun-Li (Kristin Kreuk) hingga menjadi seorang Street Fighter. Kritik negatif terhadap film ini tidak hanya ditujukan pada naskah film namun juga adegan pertarungan. Tentunya hal tersebut fatal mengingat film ini mengandalkan adegan pertarungan sebagai nilai jualnya.

 

8. Wing Commander (1999)

Diadaptasi dari seri permainan pertarungan luar angkasa, Wing Commander berkisah tentang Letnan Christopher Blair (Freddie Prinze Jr.), fighter pilot yang bergabung dalam perang interstellar untuk melawan Kilrathi yang berusaha untuk menghancurkan alam semesta.

Disutradarai langsung oleh kreator game tersebut, Chris Robert, sayangnya Wing Commander tidak berhasil menjadi film adaptasi game yang baik. Pada masa perilisannya, film ini mengalami kegagalan baik dari segi kritik maupun pendapatan. Dari biaya pembuatan $ 30 juta, film ini hanya mampu mengumpulkan $11,6 juta.

9. Mortal Kombat: Annihilation (1997)

Diadaptasi dari game Mortal Kombat,Mortal Kombat: Annihilation merupakan film kedua yang diadaptasi dari permainan tersebut. Melanjutkan kisah dari film sebelumnya, kali ini film yang disutradarai oleh berfokus pada kisah sekelompok warrior menyelamatkan bumi dari serangan Shao Kahn (Brian Thompson).

Berbeda dengan film pendahulunya yang disebut sebagai salah satu film adaptasi game terbaik, Mortal Kombat: Annihilation tidak mampu menyamai prestasi prekuelnya. Tidak hanya kalah dari segi kritik, namun juga dari segi performa box office. Film pertamanya sukses secara box office, Annihilation harus puas dengan $ 51,3 juta dari budget $30 juta.

10. Silent Hill: Revelation (2012)

Diadaptasi dari game survival horror, Silent Hill 3, film yang disutradarai oleh Michael J. Bassett mengikuti kisah remaja bernama Heather Mason (Adelaide Clemens), yang menemukan identitasnya mungkin palsu di malam sebelum ulang tahunnya. Ia pun terbawa ke dimensi alternatif, sebuah kota fiksi di Amerika bernama Silent Hill.

Sama seperti Mortal Kombat: Annihilation, Silent Hill: Revelation juga menjadi salah satu adaptasi game yang tidak lebih baik dari seri pendahulunya. Walaupun menyajikan format 3D, sayangnya sekuel Silent Hill ini tidak mampu menghibur seperti film predesesornya. Paling tidak, dibanding film adaptasi game lainnya, Silent Hill: Revelation cukup sukses di box office dengan pendapatan $ 52,3 juta dari biaya pembuatan $ 20 juta.