Sebagai negara demokrasi, pemilu bukanlah hal yang asing untuk warga Indonesia. Pemilu di Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 1955 yaitu ketika Indonesia baru saja berumur 10 tahun sejak kemerdekaan, Walaupun demikian, rakyat Indonesia baru bisa memilih presiden dan wakilnya secara terbuka pada tahun 2004 silam dan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pertama yang terpilih lewat pemilu terbuka.

Tak lama berselang, pemilihan kepala daerah juga tidak lagi dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah melainkan dipilih oleh warga daerah tersebut. Hal tersebut termasuk Jakarta. Hari ini (19/4), Pilkada DKI Jakarta memasuki putaran kedua yang mana akan menentukan apakah DKI Jakarta akan tetap dipimpin oleh Basuki Tjahaja Purnama atau digantikan oleh Anies Baswedan.

Tak dapat dipungkiri, baik dalam pemilihan gubernur maupun presiden, persaingan politik antar pihak-pihak yang bersangkutan tak dapat dihindari. Situasi tersebut tak jarang dijadikan sineas perfilman baik Hollywood maupun Indonesia untuk dijadikan suatu karya yang sarat makna dan kritikan. Berikut 5 film yang menjadikan pemilu sebagai inspirasinya.

1. 2014: Siapa di Atas Presiden (2015)

2014poster1

Pilpres tahun 2014 bisa dibilang sebagai tahun dimana segala kalangan terutama anak muda aktif dalam menyampaikan pandangan politiknya lewat media sosial. Berangkat dari fenomena tersebut, Hanung Bramantyo membuat film dengan judul 2014: Siapa di Atas Presiden. Awalnya, film ini direncanakan rilis pada Agustus 2014. Namun, karena ada perubahan dan penambahan adegan, akhirnya film tersebut rilis di bioskop 26 Februari 2015.

Film ini menceritakan tentang Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar) yang berusaha menelusuri penyebab mengapa ayahnya, Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy) yang mencalonkan diri sebagai presiden tiba-tiba dijebak dan dipenjara. Tak hanya itu, lawan politik ayahnya juga ditembak hingga tewas dan ia pun juga diserang oleh pihak tidak dikenal. Tidak terima, ia pun mengumpulkan demonstran lewat media sosial.

2. Ides of March (2011)

maxresdefault (1)

Persaingan untuk menjadi seorang presiden selalu sengit antar kandidatnya. Namun, sebelum berkompetisi melawan calon dari partai lain, persaingan telah dimulai dengan melawan kandidat lain yang berasal dari partai yang sama. Hal tersebutlah yang ingin digambarkan dari film Ides of March.

Dibintangi Ryan Gosling dan George Clooney, film ini menggambarkan bagaimana intrik-intrik yang terjadi di dalam partai guna merebut posisi capres dari suatu partai. Taktik kotor dan pertarungan sengit pun tidak lepas dari perebutan posisi tersebut.

3. Kentut (2011)

kentut-poster

Membaca judul film di atas, mungkin membuat kamu heran apa hubungannya dengan film bertemakan pemilu. Namun lewat taglinenya yang berbunyi “Di Negeri Ini Kebenaran dan Kebetulan Tipis Bedanya” tentu dapat terlihat bahwa ada makna tersirat yang ingin disampaikan Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa lewat film ini.

Alkisah menjelang pilkada di seluruh Kabupaten Kuncup Mekar tersebar berbagai baliho, spanduk, dan janji oleh dua kandidat Jasmera dan Patiwa. Suatu hari, Patiwa ditembak dadanya oleh orang tak dikenal. Ia pun berhasil diselamatkan lewat operasi. Namun, masalah muncul ketika dokter mengatakan kesehatannya terganggu jika ia tidak kentut setelah operasi. Mendengar hal tersebut, Jasmera pun melakukan segala macam cara agar lawannya tidak kentut.

4. Swing Vote (2008)

swing_vote_xlg

Setiap suara yang diberikan oleh rakyat untuk calon pemimpin tentu sangat berarti. Namun, hingga saat ini belum ada kejadian dimana kedua calon memperoleh jumlah suara yang sama. Nah, apa jadinya jika kamu adalah satu-satunya orang yang belum memilih dan suara milik kedua calon yang berhasil imbang?

Lewat premis tersebut, tercetuslah film yang berjudul Swing Vote. Disutradarai oleh Joshua Michael Stern dan dibintangi Kevin Costner, film ini berkisah Bud Johnson (Kevin Costner) yang hanya merupakan warga biasa Amerika dan cenderung apatis terhadap pemilu. Namun, siapa sangka ia akhirnya dapat merubah dunia dengan pilihan presidennya. Kedua calon pun berusaha merayu dan membujuknya dengan segala cara untuk memperoleh suara terakhir tersebut.

5. Yang Ketu7uh (2014)

2203318tujuh780x390

Jika biasanya film-film bertema politik dan pemiihan umum mengambil sudut pandang dari para pemimpin yang berseteru, Yang Ketu7uh mencoba mengangkat kisah pemilu lewat kacamata orang biasa. Melibatkan 19 jurnalis dan videografer, film ini memulai produksinya pada awal tahun 2014. Beberapa bahan pun sudah ada yang dikumpulkan sejak Pemilu 2009.

Film dokumenter produksi WatchdoC ini mencoba menyorot bagaimana rakyat melihat adanya peluang dan harapan lewat ajang pemilihan yang dilakukan setiap lima tahun tersebut. Masyarakat yang tampil dalam dokumenter ini pun dipilih secara acak dan tersebar di berbagai wilayah mulai dari Indramayu, Tangerang, Jakarta, Ende, hingga Samarinda.