Just sit back and enjoy this King Kong show on IMAX 3D!
6Overall Score
Reader Rating 7 Votes
6.5

Kong: Skull Island merupakan satu lagi remake dari film King Kong (1933), setelah sebelumnya telah dibuat berbagai remake maupun sekuel. Yang paling terkenal dan sukses tentu versi tahun 1976 oleh John Guillermin dan 2005 oleh Peter Jackson (The Lord of the Rings Trilogy). Namun film ini tidak mengikuti pakem aslinya, yaitu sebuah hubungan antara King Kong dan pemeran utama wanitanya, tetapi ini adalah film kedua dari Warner Bros dan Legendary Picture untuk dunia Monsternya (Monsterverse), setelah sebelumnya pada tahun 2014 telah dirilis film Godzilla.

Berlatar Amerika Serikat pada tahun 1976, dimana tingginya kontroversi pemerintahan Nixon atas ikut campurnya Amerika Serikat atas perang Vietnam yang merupakan salah satu dari peristiwa di Perang Dingin yang akhirnya dimenangkan oleh Uni Soviet dimasa itu atas Vietnam Utara yang berbasis komunis. William “Bill” Randa (John Goodman) adalah seorang penjelajah yang meminta bantuan senator untuk membiayai penelitiannya di salah satu pulau yang belum pernah terjamah oleh manusia di Asia Tenggara. Akhirnya setelah disindir dan diberikan “propaganda” kalau Uni Soviet juga akan ke pulau itu lebih dahulu, senator itupun mengizinkan ekspedisi ini.

Bill dibantu oleh satu kompi tentara yang baru saja selesai dari perang Vietnam yang menguras darah dan tenaga yang dikomandoi oleh Letnan Kolonel Preston Packard (Samuel L. Jackson). Bill juga dibantu oleh James Conrad (Tom Hiddleston), seorang pemburu ekspedisi, Mason Weaver (Brie Larson), seorang jurnalis foto sekaligus aktivis perdamaian yang cantik, San Lin (Jing Tian), biologis muda dan berbagai staff lainnya yang membuat ekspedisi ini menjadi berhasil.

Jordan Vogt-Roberts yang dipercaya menjadi sutradara Kong: Skull Island membuat film ini ibarat mashup dari Jurassic Park dan Apocalypse Now. Kesan adventurous dan discoverynya sangat terasa sekali di sepertiga awal film, apalagi melihat banyaknya makhluk-makhluk eksotis seperti kerbau raksasa, burung purbakala yang berwajah jelek seperti yang diutarakan Samuel L. Jackson, serangga raksasa dengan banyak kaki seperti bambu, serangga yang sejenis bunglon dengan berbentuk seperti kayu hingga musuh besar dari Kong itu sendiri yaitu kadal raksasa yang sungguh seram dan agresif dalam mengincar mangsanya.

Keputusan merubah konsep awal film King Kong memang beralasan, jika film mengenai King Kong ini di remake lagi dengan cerita yang sama dengan versi klasiknya, tentu akan membuat penonton menjadi bosan dan akan berpikir untuk apa dibuat kembali. Namun hal ini menjadi salah satu kelemahan Kong: Skull Island yang membuat film ini kurang mempunyai hati, karakter dan jiwa untuk menggugah perasaan penonton dan bersimpati terhadap para tokohnya, khususnya kepada Kong. Chemistry antara para manusia penjelajah dengan Kong sungguh minim. Kong disini tak ubahnya sesuai premis awal menjadi sebagai salah satu monster dari monsterverse saja dan tidak lebih daripada itu. Bahkan kurang terasa bagaimana Kong menjadi sebagai pelindung salah satu penduduk asli disana. Ironisnya, ada suatu adegan yang menyentuh hati yang terdapat bukan di Kong Island ini tetapi adegan terakhir film yang berlokasi di salah satu rumah di Amerika Serikat.

Sepertiga terakhir film ini menjadi bagian yang terlemah, padahal dua pertiga awal sudah cukup baik dalam memberikan segala sisi petualangan, rasa ingin tahu tentang pulau yang eksotis ini hingga sisi kejamnya perang layaknya Apocalypse Now itu. Untungnya diselamatkan oleh adegan terakhir yang cukup spektakuler antara Kong dengan monster kadal raksasa tersebut.

Dari sekian banyak A-List Stars (Tom Hiddleston, Samuel L Jackson, Brie Larson, John Goodman, Jing Tian, John C. Reilly) hanya Goodman dan John C. Reilly saja yang benar-benar bagus. John C. Reilly berperan sebagai seseorang yang terjebak selama 30 tahun di Kong Island dan tinggal bersama dengan penduduk lokal disana, dia memberikan cukup banyak hati dan humor bagi film ini. Brie Larson sebenarnya cukup bagus, tapi sayangnya cukup jauh kualitasnya dari perannya di Room yang membuatnya mendapatkan Oscar 2016 untuk Best Actress, bahkan bisa dibilang dia hanya sebagai pemanis saja, seperti halnya Jing Tian yang memukau di The Great Wall, namun disini dia layaknya seorang pemanis, “turis” dan titipan rumah produksi dari China yang turut berpartisipasi dalam pembuatannya. Hiddleston kurang dapat memberikan performa layaknya jagoan utama. Samuel L. Jackson walaupun terkadang humanis, namun terlalu banyak stereotip yang muncul pada seorang Letnan yang sudah sering sekali terdapat di film-film perang lainnya.

IMAX 3Dnya terasa lebih immerse, sehingga terkesan Anda layaknya Indiana Jones yang menjelajahi tempat-tempat eksotis. Efek-efek 3Dnya juga cukup pooping. Kualitas suarapun cukup menggelegar.

Terasa sedikit mengejutkan jika film ini tidak mendapatkan rating R, namun hanya PG-13. Padahal ada salah satu adegan yang mengingatkan dengan film Cannibal Holocaust. Selain itu terdapat cukup banyak darah dan sedikit kata-kata kasar.

Final Verdict:

Perubahan premis dari film klasiknya yaitu hubungan antara seorang wanita dengan King Kong-nya memang beralasan dan menjadikannya menjadi lebih menghibur. Namun itu pula yang menjadi kelemahannya. Kurang hati, kepribadian dan jiwa untuk menggugah penonton, hingga kurangnya kedalaman karakter. Dua pertiga film terasa adventurous layaknya Jurassic Park dan memicu adrenalin dan suasana perang layaknya Apocalypse Now. Sepertiga terakhir film seperti kekurangan gas, tapi untunglah ditutup dengan pertarungan Kong melawan monster yang spektakuler.

P.S. Jangan kebalik ya, Logan tidak ada post-credit scene sama sekali, tetapi Kong: Skull Island ada! Jadi jangan dahulu cepat-cepat meninggalkan theater, Anda akan dibuat terkejut dan menjadi tidak sabar untuk menunggu sekuelnya!