Visually Gorgeous, Catchy Song but Cliche and Have some Bad Jokes
7Overall Score

Sejak Pixar menguasai dunia perfilman animasi, terasa Disney seperti kehilangan taji. Walau memang sejak 2006 Disney sudah membeli sebagian besar saham dari Pixar, namun tetap saja orang-orang pasti melabeli dengan film Pixar. Tetapi sejak rentetan film-film hebat dari Disney Wreck It Ralph, Frozen, Big Hero (sebenarnya hanya lumayan, tidak bagus, tetapi karakter Big Hero dan visualnya memanjakan mata) hingga Zootopia yang menurut gw salah satu film animasi terbaiknya Disney sepanjang masa (Akan gw bahas lebih lanjut di artikel “Zootopia – Perlawanan Terhadap Stereotip dan Diskriminasi”. Tentu ekspektasi tinggi disematkan pada Moana. Sayang sekali Moana tidak mampu menyamai kehebatan dari ke 4 film diatas.

Bercerita tentang Moana (Temuera Morrison) seorang putri dari kepala suku yang akan dijadikan penerusnya. Tetapi Moana lebih tertarik untuk mengarungi lautan luas yang tentu saja di tentang oleh Ayahnya. Sudah menjadi peraturan dari suku tersebut tidak boleh melaut melewati batas tertentu karena bahaya berbagai monster yang sudah diceritakan sejak usia kanak-kanak, termasuk kepada Moana. Akhirnya karena suatu sebab yang mengakibatkan tidak adanya ikan dan panen selalu gagal, Moana berjuang untuk mengarungi Samudera untuk menyelamatkan sukunya.

Pesan dari film Disney kali ini cukup bermakna. Seperti halnya tentang Moana seorang Disney Princess yang secara langsung di pertengahan film mengatakan “I am not a Princess!”. Moana seperti mengatakan kalau dia bukan seorang Princess yang hanya memerintah, lemah dan tergantung kepada orang lain. Sebuah hal yang berbeda dari film-film Disney tentang Princess lainnya. Selain itu Princess kali ini adalah seorang dari suku Polinesia yang mematahkan anggapan kalau Princess di film-film Disney biasanya selalu berkulit putih / Caucasian (Sebelumnya memang sudah dipatahkan di Princess and Frog yang rasnya African-American). Pesan “We Know Who We Are” (seperti salah satu lagunya)” juga cukup kuat. Pesan lainnya tentang merawat lingkungan hidup juga terasa sekali.

Karakter Moana yang kuat tidak bisa diimbangi dengan karakter-karakter lainnya, seperti Maui (Dwayne Johnson) yang karakternya terlalu goofy, sehingga lebih sering memberikan bad jokes dan kebanyakan miss daripada hitnya. Chemistry Moana dan Maui juga kurang terasa, sehingga tidak bisa membangun simpati lebih lanjut kepada kedua karakter ini. Karakter ayam yang terlalu stupid pun terasa lebih menjengkelkan dan repetitif daripada lucunya.

Secara tata visual sudah tidak diragukan lagi, merupakan salah satu film Disney yang paling baik secara visual, dapat memperlihatkan kehidupan suku Polinesia, hijaunya berbagai tumbuh-tumbuhan, birunya laut yang tetap sangat indah baik di kegelapan berkat bintang-bintang dan “plankton-plankton”.

Disney selalu menghadirkan berbagai lagu yang luar biasa hit dengan kualitas jempolan dan tidak akan bosan diputar hingga puluhan, bahkan ratusan kali. Seperti beberapa tahun lalu dengan “Let It Go” di film Frozen atau dari film-film Disney Classic seperti “Beauty and the Beast” (Beauty and the Beast), “A Whole New World” (Aladdin) “Reflection” (Mulan) “You’ll Be in My Heart” (Tarzan). Tidak terkecuali di Moana yang memberikan beberapa lagu yang catchy dan tentu akan menjadi hit (walaupun menurut gw tidak akan menjadi big hit) seperti “We Know Who We Are” dan “How Far I’ll Go”, namun lagu-lagu lainnya terasa biasa saja.

Ceritanya sendiri terasa klise di berbagai sisi, mudah tertebak dan beberapa bagian terasa terlalu lama durasinya.

Walau begitu dengan kualitas visual yang impresif, beberapa lagu-lagu yang enak di dengar, pesan moral yang bagus, menjadikan sebuah film Disney yang layak ditonton untuk semua kalangan, khususnya orang tua yang ingin mengajak anak-anaknya ke bioskop untuk mendapatkan suatu hiburan.