Love For Sale menjadi salah satu film kuda hitam dan menjelma menjadi film yang cukup banyak dibicarakan di sosial media beberapa lama setelah perilisannya. Film yang rilis tahun lalu dan menyabet Piala Citra untuk Gading Marten sebagai aktor terbaik di Festival Film Indonesia ini memang tidak meraih banyak penonton saat tayang di bioskop, namun menjadi ramai diminati setelah rilis di layanan media digital streaming.

Alhasil sekuelnya yang berjudul Love For Sale 2 pun diproduksi dan kembali ditangani oleh Andibachtiar Yusuf sebagai sutradara dan mengganti semua karakter kecuali karakter Arini yang diperankan Della Dartyan. Konsisten dengan tagline-nya “ The Most Horror Love Story”, film ini ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia untuk menyambut Halloween pada 31 Oktober 2019.

film Love For Sale 2

Loading...

Sinopsis

Indra Tauhid Sikumbang atau Ican (Adipati Dolken) merasa tertekan dengan ibunya, Rosmaida (Ratna Riantiarno), yang selalu menyinggung soal kawin dan kawin tanpa henti. Sebagai anak nomer 2, Ican yang berusia kepala tiga makin tertekan karena abang dan adiknya sudah menikah duluan, sementara dirinya masih asyik bermain-main dengan cinta.

Puncak kekhawatiran Ican pada ibunya muncul saat tetangganya meninggal dunia secara mendadak, Ican tidak mau ibunya mengalami hal yang sama dan memutuskan untuk menyewa pacar sewaan yang bernama Arini (Della Dartyan). Kehidupan keluarga Ican pun berubah seiring dengan kedatangan Arini, termasuk membuat Ibu Ican lebih bahagia dan tenang pikirannya. Tapi sampai kapan Arini ada di dalam hidup Ican dan keluarganya?

Review

Sekuel yang kembali ditulis oleh sang sutradara Andibachtiar Yusuf (Romeo & Juliet, Hari Ini Pasti Menang) bersama M. Irfan Ramly (Cahaya Dari Timur: Beta Maluku) ini melepaskan diri dari winning formula pada film pendahulunya. Dengan lebih berani, Love For Sale 2 malah lebih luas dalam bercerita yaitu dalam lingkup keluarga. Sebuah langkah yang potensial dan jelas progresif dalam sisi penceritaan tokoh Arini yang masih menjadi sosok misterius seperti dalam film pertama.

film Love For Sale 2

Perkenalan penonton pada keluarga Sikumbang ini berjalan mulus dari sisi plot yang langsung secara lugas membahas konflik utama film yaitu kekhawatiran Ibu Ros pada Ican yang belum menikah. Setelah dikenalkan pada seorang gadis alim, penonton pun mengenal Ican yang ternyata seorang playboy yang gemar “bermain cinta”

Perkembangan karakter Ican jelas dalam film beriringan dengan perkenalan orang-orang di sekitar dalam hidupnya. Abang dengan istrinya yang sedang hamil anak kedua, adik yang masih muda namun sudah menikah anak satu, para karyawan usaha jahit ibunya serta tetangganya sang paruh baya yang kerap nongkrong di depan rumah.

Cukup banyak karakternya, namun sayangnya mubazir, karena tidak ada karakter yang menarik sama sekali. Memang hampir semuanya memiliki andil dalam perjalanan karakter Ican dalam film, namun nyaris tidak memberikan simpati. Subplot adiknya si Buncun (Bastian Steel) yang sedang konflik dengan istrinya (Taskya Namya) cukup emosional namun tidak tersampaikan dengan baik oleh karakternya. Subplot lain tentang rasa benci Ibu Ros pada menantunya, Maya (Putri Ayudya), istri dari Ndoy (Ariyo Wahab) juga begitu. Walaupun Ratna Riantiarno tampil konsisten sepanjang film, namun karena naskah yang tidak detail menjadikan konflik pada subplot ini tidak berkembang dengan baik.

film Love For Sale 2

Untuk plot utamanya sendiri berjalan mulus walau terasa banyak pengulangan dengan beberapa kali Ibu Ros mengulang kata “kapan kamu kawin, Ican” di berbagai situasi, termasuk di beberapa situasi dan kondisi yang aneh. Penulis mengerti tujuannya untuk makin menekan posisi Ican yang disegerakan menikah, hanya saja beberapa terasa berlebihan dan jika diniatkan untuk lucu malah lucunya terasa repetitif dan cenderung basi.

Di luar naskahnya yang kurang memuaskan, sisi teknis film ini justru menjadi yang paling unggul terutama dari sinematografi dan tata artistik. Musik latar yang menjadi highlight pada film pertama kembali diulang dengan menghadirkan lagu Apa Salah dan Dosaku milik D’lloyd yang dapat membuat penonton ikut bersenandung saat diputar di dalam film.

Ada sedikit masalah dalam penggunaan green screen dan CGI dalam sebuah adegan di halte bus yang terasa amatiran, namun itu hanya sebagian kecil dan minor saja. Sementara departemen editing, tata suara, tata rias dan tata busana bekerja seperti seharusnya.

film Love For Sale 2

Kualitas akting aktris senior Ratna Riantiarno (Mama-Mama Jagoan) mampu menjadi nyawa film berkat pembawaan karakter ibu yang hangat dan sayang pada anak-anaknya, tapi juga bisa sarkas pada menantu dan khawatir pada Ican yang belum menikah. Adipati Dolken (Posesif, Teman Tapi Menikah) sendiri cenderung standar dan biasa saja. Chemistry-nya dengan Della Dartyan (Gundala) tidak sehangat Della dengan Gading Marten. Bukan perbandingan apple to apple sebenarnya karena poin dari film ini adalah bagaimana hubungan Arini dengan Ibu Ros dan anak-anaknya.

Ariyo Wahab (6,9 Detik, Suami Yang Menangis) dan Bastian Steel (CJR, Lima Elang) sendiri bermain cukup baik, hanya saja Bastian yang lebih menonjol dengan range emosi yang lebih luas kurang mampu membuat penulis bersimpati pada karakternya. Putri Ayudya (Kenapa Harus Bule?, Kafir) tidak mendapat screentime yang memadai untuk menunjukkan aktingnya, sementara Taskya Namya (Sesuai Aplikasi, Siap Gan!), Yayu Unru (Posesif), Egy Fedly (Marina Si Pembunuh Dalam Empat Babak), Revaldo (30 Hari Mencari Cinta, The Night Comes For Us) dan Abdurrahman Arif (Keluarga Cemara) terasa disia-siakan akibat peran yang tidak siginifikan.

Niat baik untuk membuat kisah lanjutan Arini yang lebih besar dan lebih luas menjadi bumerang akibat naskah yang lemah dalam film Love For Sale 2 ini. Kedekatan tema dengan kehidupan sehari-hari, soal tekanan untuk menikah di usia kepala tiga, masalah rumah tangga, serta hubungan mertua dengan menantu yang coba diangkat memang cukup hangat, namun tidak berhasil membuat film berjalan menyenangkan. Untungnya Arini masih seperti yang dulu, cantik, manis dengan tutur kata yang sopan yang tidak hanya memikat hati keluarga Sikumbang, tetapi juga mampu memikat hati penonton.

film Love For Sale 2

Kesimpulan Akhir

Usaha yang patut diapresiasi untuk membawa kisah Arini ke level kisah percintaan ‘horor’ yang mendera satu keluarga. Terasa repetitif dalam mengingatkan soal “Kapan Ican kawin”, yang berimbas membuat pesan filmnya tersesat dalam penyampaian di tengah jalan. Klimaksnya hangat walau mungkin akan banyak yang bertanya-tanya bagaimana nasib para tokoh di dalamnya. Tidak sekuat film pertamanya, namun buat para penggemar, tidak ada salahnya untuk menyaksikan Love For Sale 2 di bioskop dan berjumpa lagi dengan karakter ikonik, Arini.

 Note: Scroll / gulir ke bawah untuk melihat rating penilaian film

Loading...

Review Film Love For Sale 2 (2019) – Sekuel Yang Tidak Lebih Baik Dari Film Pendahulunya
6Overall Score
Reader Rating 3 Votes
8.0