Survival film atau film bertahan hidup merupakan genre di mana satu atau lebih karakternya melakukan usaha secara fisik untuk bertahan hidup. Biasanya karakternya terperangkap atau terdampar di suatu tempat dan terputus hubungan dengan dunia luar. Kebanyakan survival film diangkat dari kisah nyata, seperti James Franco yang terjatuh dalam jurang dan tangannya tertindih batu di 127 Hours (2010) atau Leonardo Di Caprio harus melawan beruang dengan tangan kosong di The Revenant (2015). Kemudian ada juga survival film fiksi seperti Blake Lively harus berhadapan langsung dengan ikan hiu ditengah lautan dalam The Shallows (2016), Tom Hanks terdampar di pulau tidak berpenghuni ditemani bola voli imutnya dalam Cast Away (2000) atau Ryan Reynolds yang terperangkap dalam peti mati yang dikubur jauh dalam tanah di Buried (2010). Kali ini Shailene Woodley dan Sam Claflin harus berjuang mengarungi lautan luas menuju ke Hawaii, di tengah rusaknya kapal mereka karena angin topan dalam film Adrift yang diangkat dari kisah nyata berdasarkan buku Red Sky in Mourning: A True Story of Love, Loss, and Survival at Sea.

Dibuka dengan adegan saat Tami Oldham (Shailene Woodley) yang kebingungan mencari tunangannya Sam Claflin (Richard Sharp) yang menghilang entah kemana sesaat setelah angin topan meluluhlantahkan perahu Yatch yang mereka tumpangi. Kemudian tiba-tiba adegan berubah menjadi alur mundur saat Tami pertama kali menginjakkan Tahiti. Tami merupakan seorang gadis remaja yang mencari jati diri sekaligus memiliki jiwa berpetualang ini, seorang diri ke Tahiti meninggalkan ibunya di Amerika Serikat. Adegan berpindah lagi saat Tami akhirnya berhasil menemukan Sam yang terdampar di perahu sekoci, Tami menyelamatkannya, namun Sam mengalami cedera punggung dan kaki yang sangat serius. Plot kembali mundur saat bagaimana Sam dan Tami bertemu dan memadu kasih.

Menggunakan plot maju-mundur atau non linear ini cukup beresiko dapat mengurangi mood atau pace dari film itu. Pada Adrift kali ini, alur mundurnya memperlihatkan keromantisan hubungan Tami dan Sam dan alur majunya memperlihatkan kegigihan dari Tami dan Sam dalam bertahan hidup. Puluhan kali adegan-adegan berganti dari masa sekarang dan masa lampau, bagusnya Sutradara dari Islandia, Baltasar Kormákur (2 Guns, Everest) mampu mengemas dan merangkai adegan-adegan tersebut sehingga menjadi klimaks yang sungguh menggetarkan.

Kekuatan sebuah cinta menjadi statement yang kuat dari film Adrift. Tami merupakan seorang yang rapuh karena Sam berbaring tidak berdaya, Tami juga tidak cakap dalam hal matematika yang diperlukan untuk menggunakan sextant (Alat navigasi di laut yang digunakan untuk mengukur ketinggian benda-benda langit di atas cakrawala agar dapat menentukan posisi kapal) supaya selamat tiba di Hawaii. Tami terus berjuang melawan segala peluang yang sangat kecil untuk hidup demi rasa cintanya kepada Sam. Keadaan Tami dan Sam seperti layaknya needle in the haystack di tengah lautan dan seperti menembak sasaran dari jarak jauh ketika menuju Hawaii karena begitu terbatasnya navigasi kapal mereka karena kerusakan yang cukup parah tersebut.

Ada satu momen yang sangat menyentuh saat Sam merasa bersalah telah mengikutkan Tami dalam perjalanan yang semula dari Tahiti menuju San Diego tersebut. Tapi Tami mengatakan bahwa tidak ada yang patut disesali karena adanya kenangan yang begitu indah saat mereka bersama di kapal. Tentu kenangan dan pengalaman menjadi sesuatu yang sungguh priceless bukan?

Shailene Woodley yang namanya mulai terangkat dalam serial tv The Secret Life of the American Teenager (2008–13), kembali memperlihatkan akting mempesonanya dalam melakoni berbagai adegan romantis maupun adegan yang menghancurkan hati saat bersama dengan Sam seperti yang dia perlihatkan di The Fault in Our Stars (2014) dan The Spectacular Now (2013). Pada Adrift aktingnya lebih matang dan lebih menantang karena harus memperlihatkan kegigihan dan perjuangan saat menghadapi alam yang kejam dan tidak bisa diprediksi. Manusia memang tidak bisa melawan alam, tetapi dapat berjuang terus untuk bertahan hidup. Seperti itulah yang dialami oleh sekian banyak survivor dalam survival story, ini berlaku juga pada film Adrift.

Menonton Adrift cukup mengingatkan akan film The Perfect Strom (2000) saat adegan-adegan angin topan dan ombak besarnya itu. Hal ini diamini oleh Baltasar Kormákur, dia terinspirasi dalam film tersebut untuk membuat sebuah efek CGI angin topan dan kapal laut yang terombang-ambing itu. Memang belum wah, mungkin karena keterbatasan budget, tapi sudah cukup untuk menggambarkan kedahsyatan alam yang dialami oleh Tami dan Sam.

Pujian patut diberikan untuk segi original score dengan alunan piano dan instrumen elekronik dari komposer Hauschka yang pernah mendapatkan nominasi untuk original score pada film Lion (2016). Hauschka berhasil menambah tensi saat Tami dan Sam kegelapan dan bahaya yang mengintai dan menambah perasaan bahagia dan menyenangkan saat keduanya memadu kasih.

Final Verdict:

Tidak hanya sebagai kisah perjuangan hidup yang menggetarkan hati, tapi juga memperlihatkan bagaimana dampak dari kekuatan cinta sehingga menghasilkan keberanian, keikhlasan dan kegigihan. Shailene Woodley kembali memberikan penampilan memikatnya seperti di The Fault in Our Stars dan The Spectacular Now.

Adrift is an incredible story of love and survival.

Review Adrift (2018) - Kisah Cinta dan Bertahan Hidup di Tengah Lautan yang Menggetarkan Hati
8Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0