Epik, Menggetarkan Hati, Spektakuler
8Overall Score
Reader Rating 5 Votes
7.1

Pendudukan Jepang pada masa penjajahan pada era tahun 1942-45 saat Perang Dunia Kedua telah menimbulkan banyak kesengsaraan bagi Indonesia karena kerja paksa (Romusha) maupun wanita penghibur (Jugun Ianfu). Hal ini juga terjadi di Korea yang sudah jauh lebih dahulu dijajah Jepang sejak tahun 1910 hingga sampai 1945. Berlatar di tahun 1945, saat dimana Jepang mendekati kekalahan telak di Perang Dunia Kedua. The Battleship Island merupakan salah satu film termahal sepanjang sejarah Korea dengan total biaya yang dikeluarkan sekitar 25 milyar Won atau sekitar 22.3 juta dollar Amerika ini telah memecahkan rekor pemutaran hari perdana di Korea dengan hampir 1 juta orang menyaksikannya. The Battleship Island telah rilis di Indonesia pada hari ini, 16 Agustus 2017 di bioskop CGV, Cinemaxx, Flix dan Platinum.

Baca juga: Bukan The Battleship Island, Ini 10 Film Korea Selatan Terlaris Sepanjang Masa!

Lee Kang-ok (Hwang Jung-min) adalah seorang musisi jazz yang memilih pindah ke Jepang bersama anak perempuannya, Sohee (Su-an Kim) dan seluruh anggota bandnya ternyata terjebak didalam pulau Hashima yang lokasinya tidak jauh dari Nagasaki. Tidak hanya mereka Choi Chil-Sung (So Ji-Sub) sang kepala gangster di Korea, Mal-nyeon (Lee Jung-Hyun) seorang wanita muda pemberani dan 400 orang Korea diharuskan kerja paksa. Para pria bekerja di tambang bawah tanah dengan kondisi mengenaskan, tanpa perlindungan dan sanitasi yang memadai. Para wanita dan anak-anak kecil harus menjadi penghibur bagi para pria hidung belang. Adapula plot lainnya yaitu seorang agen rahasia Korea, Park Moo-Young (Song Joong-ki) yang bertugas untuk menyelamatkan pemimpin pemberontak Hak-chul Yoon (Kyoung-young Lee) untuk melawan Jepang.

CBI pict 7 CBI pict 6

Penindasan Jepang terhadap orang-orang Korea diperlihatkan dengan gamblang seperti halnya pada film Schindler’s List. Walau tidak separah nasib bangsa Yahudi pada film dari Steven Spielberg tersebut, orang-orang Korea juga diperlakukan tidak lebih tinggi dari binatang. Ditelanjangi pada saat pendaftaran sebagai pekerja. Dipukuli dan dipecut jika malas-malasan atau tidak sanggup lagi bekerja. Bahkan sampai dengan diperkosa dan dibunuh bagi para wanitanya. Ryoo Seung-wan ingin memperlihatkan dengan sangat realistis apa yang dialami rakyat Korea pada zaman dahulu yang saat ini sudah sering dilupakan oleh generasi sekarang. Ryoo Seung-wan bahkan sampai membangun sebagian besar set yang luar biasa besar sehingga menjadi sebuah set terbesar sepanjang sejarah perfilman Korea ditambah lagi dengan balutan efek visual yang sangat jempolan dan memukau. Sinematografi dari Lee Mo-gae membuat setiap sudut dari pulau Hashima terasa semakin semakin nyata.

CBI pict 1. Hwang Jung Min, Kim Suan CBI pict 4. Song Joong ki

Deretan cast-cast kelas atas dari Hwang Jung-min yang banyak dipuji atas perannya yang sangat mendalam dan menyentuh hati di Ode to My Father, kembali memberikan kekuatan aktingnya atas seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya dan melakukan segala cara agar putrinya dapat selamat. Putrinya yang diperankan Su-an Kim yang terkenal di perannya di film Train to Busan, memberikan penampilan terbaiknya diantara segala aktor dan aktris yang berperan pada film ini. Su-an Kim membuat karakter Sohee yang paling disukai oleh penonton berkat segala kepolosannya dalam menghadapi segala masalah, kesedihannya saat harus terpaksa mengangkat tangan untuk mengucapkan “Banzai” untuk kaisar Jepang dan juga perjuanganya sebagai pembantu rumah tangga sekaligus sebagai penyanyi bagi rakyat Jepang. Song Joong Ki yang sudah menjadi aktor tenar, khususnya di para wanita remaja ini, apalagi serial Descendants of the Sun yang sukses luar biasa itu memperlihatkan aksi heroiknya untuk membangkitkan rasa nasionalisme dari rakyat Korea. So Ji Sub yang berperan sebagai kepala gangster yang keras namun berhati mulia membuat chemistry-nya dengan Lee Jung Hyun terasa cukup mengikat. Begitu juga dengan Lee Jung Hyun yang harus melayani hasrat seksual dari orang-orang Jepang itu, dia memperlihatkan sisi traumatis yang teramat sangat.

CBI pict 2. Song Joong ki CBI pict 10. So Jisub

Dibuka dengan berbagai adegan yang membuat hati ngeri dan marah terhadap kekejaman pihak Jepang ini ditutup dengan sebuah adegan bombastis, megah nan epik pada saat pertempuran terakhir dengan koreografi yang apik antara para orang-orang Korea melawan para tentara Jepang ini ditemani dengan musik syahdu nan merdu “The Ecstasy of Gold” karya Ennio Morricone dari film The Good, Bad and the Ugly. Berbagai adegan-adegan yang mengiris hati ini mencapai klimaks yang luar biasa spektakuler hingga dapat membuat penonton bertepuk tangan di berbagai adegan film dan pada akhir film. Hal-hal ini dapat mengobati kekecewaan dipertengahan film yang terasa terlalu lama dengan berbagai sub plot yang terlalu banyak. Akting dari Song Joong Ki, So Ji Sub dan Lee Jung Hyun juga baru terasa keluar di adegan klimaks tersebut.

CBI pict 9. Lee Jung Hyun CBI pict 12. SJS, LJH

Final Verdict:

Sebuah film epik Perang Dunia Kedua yang dapat membuat penonton bertepuk tangan berkat klimaksnya yang sungguh spektakuler nan mengiris-iris hati. Tentu saja bagi orang Korea akan membangkitkan rasa nasionalisme mereka. Biaya yang mahal memang terbayarkan melihat dari segi design produksi dan efek visual yang mewah dan menawan.

Tontonlah di layar ScreenX bioskop CGV untuk mendapatkan pengalaman sinematik yang tidak akan terlupakan berkat tampilan layar yang tidak hanya didepan, tetapi juga Anda dapat menyaksikannya di samping kiri dan kanan sehingga membuat Anda seperti ikut serta dalam perjuangan para rakyat Korea yang dimotori oleh Song Joong Ki ini.

Trailer: 

Photo and Trailer: CJ Entertainment & CBI Pictures