Pada tahun 1860, kolonial Belanda masih menguasai Indonesia. Van Trach (Reinout Bussemaker) merupakan seorang Gubernur suatu kota kecil yang kejam dan lalim. Dua koboi dari Amerika Serikat yaitu Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) dan pamannya, Arana (Tio Pakusadewo) berusaha menghentikan kekejaman Van Trach, sekaligus membalaskan dendam karena Van Trach telah membunuh Sultan Hamza yang merupakan kakak dari Arana dan ayah dari Jamar dan Suwo.

Disutradarai oleh debutan Mike Wiluan, dia sebelumnya dikenal sebagai produser film Meraih Mimpi (2009), Dead Mine (2013), Headshot (2016) dan Beyond Skyline (2017). Buffalo Boys merupakan proyek yang sangat ambisius karena begitu besar budget yang dikeluarkan yaitu sekitar 30 miliar ini yang kebanyakan dihabiskan untuk sisi teknisnya, khususnya dari set-nya yang sangat megah dan berkualitas layaknya film Hollywood. Kualitas teknis yang sangat mengagumkan ini tidak berbanding lurus dari segi lainnya. Penyutradaraannya kurang fokus ingin mengangkat sisi romantisme, pembalasan atau kolonialisme. Naskahnya kurang matang terlebih dari karakternya yang cukup dangkal dan penggunaan dialog yang kaku. Dialognya menggunakan bahasa baku yang kurang cocok untuk dipakai dalam percakapan sehari-hari, sehingga beberapa adegan terasa agak menggelikan. Penggunaan bahasa Indonesia campur Inggris juga terasa kurang konsisten, kadang-kadang pemainnya yang merupakan tokoh Indonesia, menggunakan bahasa Inggris, terkadang Indonesia.

Selain production value yang sangat megah dan mewah ini, segi aksi patut diacungi jempol dengan memadukan unsur koboi serta silat Indonesia yang dilakoni oleh Ario Bayu dan Yoshi Sudarso. Kemudian ada Sunny Pang sebagai Leung yang bergaya Kung-Fu. Conan Stevens yang kekar dan besar ini berduel hand to hand combat dengan Ario Bayu di dalam kereta. Adegan ini sungguh keras dan berdarah-darah. Zack Lee sebagai Koen, sang pemilik bar dengan aksi bergaya old western. Alex Abbad dengan gaya perampoknya. Hannah Al Rasyid dengan gaya liar dan urakannya dalam adegan laga. Semuanya dikoreografikan dengan baik, sehingga menghadirkan adegan-adegan yang seru.

Terdapat cacat logika di beberapa adegan. Seperti saat Van Trach membunuh Sultan Hamzah dan adiknya Arana melarikan diri melalui sungai, tidak tampak Van Trach mengejar Arana, padahal jika diperhatikan jarak antara Van Trach dan Arana tidak terlalu jauh. Seharusnya ada long shot yang memperlihatkan hal ini. Kemudian lagi saat ada adegan rumah dikepung dan tiba-tiba Jamar dan Suwo bisa melarikan diri. Editing yang buruk juga memperburuk hal-hal ini.

Terdapat sebuah hubungan antara paman dengan keponakan-keponakannya, hubungan romansa antara Suwo dan Kiona (Pevita Pearce) dan yang terpenting adalah hubungan persaudaraan “Bufallo Boys” tapi itupun tidak pernah didalami lebih lanjut, konfliknya hanya terjadi di akhir dan itu tidak cukup bagi penonton untuk bersimpati terhadap tokoh-tokohnya.

Final Verdict:

Terdapat kekurangan dari sisi plot, karakter, editing hingga dialog-dialog yang kaku, namun Buffalo Boys patut diapresiasi karena genre western dengan kearifan lokal ini, tergolong hal yang cukup baru. Belum lagi production value-nya yang sekelas Hollywood dan berbagai adegan laganya yang sungguh seru. Membuat Buffalo Boys tetap layak untuk ditonton!

Review Buffalo Boys (2018) - Proyek Ambisius Kisah 2 Koboi dengan Kearifan Lokal
6.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0