Siapa yang tidak kenal beruang oranye menggemaskan bernama Winnie the Pooh yang kerjaannya selalu mencari madu? Pertama kali sosok ini diperkenalkan oleh A.A. Milne melalui bukunya berjudul Winnie the Pooh di tahun 1926. Nama Winnie the Pooh semakin mencuat saat tahun 60 an, Disney membeli lisensinya dan dibuatlah berbagai sajian animasinya mulai dari film, serial tv, film pendek hingga video game tentang beruang lucu ini. Tahun ini, dibuatkanlah film live action-nya oleh Walt Disney Pictures, tetapi bukan tokoh Winnie the Pooh yang menjadi pemeran utamanya, melainkan sosok teman manisianya bernama Christopher Robin yang juga merupakan judul dari filmnya. Christopher Robin akan tayang mulai 21 Agustus 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

Sebagai seorang bocah laki-laki yang tinggal di pedesaan bernama Sussex, Christopher Robin (Ewan McGregor) menghabiskan berbagai waktunya, bermain di hutan bernama Hundred Acre Wood bersama dengan teman-teman magisnya: Winnie the Pooh (Jim Cummings), Tigger (juga disuarakan oleh Jim Cummings) seekor macan yang selalu bersemangat dan melompat-lompat, Eeyore (Brad Garrett) seekor keledai yang muram dan sarkastik, Piglet (Nick Mohammed) seekor babi yang penakut, Kanga (Sophie Okonedo) seekor kangguru dan anaknya Roo (Sara Sheen) yang baik hati, Owl (Toby Jones) seekor burung hantu yang pintar dan Rabbit (Peter Capaldi) seekor kelinci yang pemarah. Karena Christopher harus bersekolah dan tinggal di asrama dia harus meninggalkan teman-teman terbaiknya itu. Sejak itu, Christopher harus menghadapi kerasnya dunia, saat di sekolah dia sering dimarahi oleh gurunya, kematian orang tuanya hingga menghadapi Perang Dunia ke 2.

Tahun 1949, Christopher Robin sekarang tinggal di London dengan istrinya Evelyn (Hayley Atwell) dan anak perempuannya yang masih belia, Madeline (Bronte Carmichael) dan bekerja sebagai manager efisiensi di Winslow Luggage yang menjual koper. Ketika Christopher ingin menghabiskan akhir pekan bersama dengan keluarganya di daerah pedesaan di kota Sussex, bosnya Giles Winslow (Mark Gatiss) menugaskan dia untuk melakukan efisiensi secepatnya, jika perlu merelakan beberapa karyawan untuk dipecat atau kalau tidak seluruh departemennya terancam untuk dipecat. Christopher harus merelakan waktu bersama keluarganya dengan tetap tinggal di London. Suatu kejadian ajaib membuat Pooh tiba-tiba muncul di belakang rumah Christopher Robin di London. Sejak itu mulailah petualangan baru Christopher bersama dengan Pooh.

Disutradarai oleh Marc Forster (Finding Neverland, The Kite Runner, Quantum of Solace, World War Z) dan naskahnya ditulis oleh Alex Ross Perry (Queen of Earth), Allison Schroeder (Hidden Figures) dan Tom McCarthy (Spotlight), Christopher Robin berhasil menyajikan visual maupun cerita yang mengikat tidak hanya kepada anak-anak tetapi juga kepada orang dewasa yang menemani anak-anak mereka menonton Christopher Robin ataupun yang kembali ingin bernostalgia masa kecil bersama Pooh dan teman-temannya. Berbagai perilaku karakter-karakter Pooh dan teman-temannya sungguh lucu, polos dan menghibur bagi anak-anak. Cerita mengenai permasalahan di kantor dan berdampak pada waktu bersama keluarga tentu relatable dan sering terjadi pada masa sekarang ini bagi orang dewasa.

Terdapat 2 quote yang menggambarkan film ini “People say nothing is impossible, but I do nothing every day.” dan Christopher menanyakan “hari apa ini? / what day is it?”, selalu saja Pooh mengatakan bahwa “hari ini / today”. Sekilas tanpa arti, tapi jika ditelaah lebih dalam dan memang berhubungan dengan klimaks film ini, karakter Pooh sebagai sesosok anak kecil yang memiliki keingintahuan dan kepolosan yang tinggi. Karakternya juga tak lekang oleh waktu karena Pooh memeberikan contoh kepada semua orang supaya lebih senang dan terkadang kita hanya harus duduk diam dan menikmati madu (enjoy / embrace the moment).

Visual yang ditampilkan oleh Marc Forster cenderung sederhana, vintage, muram, tidak terlalu banyak warna dan mencoba untuk serealistis mungkin. Jauh berbeda tampilan visual yang sangat bewarna dan terkesan mewah pada film Paddington yang juga menampilkan sosok beruang lucu. Visual maupun ceritanya cukup sederhana dan membumi itulah yang mengingatkan penonton akan banyak film-film Disney klasik yang menggunakan formula tersebut.

Menggunakan photo-real CG, tampilan dari Pooh dan teman-temannya seperti sangat nyata, Christoper dan karakter-karakter lainnya seperti beraktivitas layaknya dengan seekor hewan yang asli. Segi produksinya pun sangat baik dalam merekayasa London menjadi terasa pada tahun 40 an lagi.

Seperti film kartunnya yang penuh dengan pesan moral, film Christopher Robin juga menampilkan banyak. Paling utama adalah tentang persahabatan, keluarga dan kapitalisme. Bagaimana persahabatan Christopher dan Pooh, dkk yang saling membantu dan tidak melupakan walau sudah lama tidak bertemu. Persahabatan Christopher dengan Pooh, dkk sebenaranya mulai koyak karena Christopher lebih mementingkan pekerjaannya dan menganggap Pooh hanya mengganggunya dan menganggapnya beruang yang bodoh. Keluarga juga seperti itu, biar bagaimanapun, keluarga adalah selalu yang harus didahulukan dibandingkan dengan hal lain. Sisi kapitalismenya adalah bagaimana perusahaan tidak mementingkan karyawan dan menganggap mereka hanya sebagai objek perahan saja tanpa memperhatikan perasaan mereka, lalu ada juga sentilan mengenai kapitalisme yang juga merupakan klimaks film ini yang sungguh memuaskan.

Final Verdict:

Tidak hanya menyuguhkan kehangatan sebuah keluarga, tetapi juga memberikan sentuhan nostalgia yang indah, manis dan lucu bersama Pooh, Tigger, Piglet dan Eeyore.

Review Christopher Robin (2018) - Film Disney Klasik yang Kental dengan unsur Nostalgia dan Kehangatan Keluarga
8Overall Score
Reader Rating 3 Votes
6.8