Terasa hambar, seperti menyaksikan presentasi sebuah produk IT saja
4Overall Score
Reader Rating 1 Vote
5.0

Teknologi jelas dapat membantu manusia dalam segala hal, mulai dari mendekatkan orang yang lokasinya berjauhan dengan video call, informasi yang semakin cepat didapatkan sampai dengan memesan makanan. Tapi penggunaan teknologi yang berlebihan mengakibatkan intrusif dan distruptif yang mengancam privasi kita. Premis inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara James Ponsoldt (The Spectacular Now) dan penulis naskah yang juga novelis dari buku yang berjudul sama Dave Eggers.

landscape-1481043614-screen-shot-2016-12-06-at-115647-am

Mae Holland (Emma Watson) bekerja disuatu perusahaan korporat yang menjemukan dengan gaji rendah. Dia setiap hari harus mendengarkan keluh kesah dari konsumen. Suatu saat, temannya Annie Allerton (Karen Gillan) mengabarkan dia dipanggil wawancara di perusahaan korporat IT, The Circle yang seperti gabungan Apple, Facebook, Instagram dan Snapchat ini dengan suasana kerja yang nyaman layaknya perkuliahan, tempat kerja yang edgy dan tanpa sekat seperti halnya startup, gaji yang lebih besar dan tentu saja teknologi yang luar biasa maju. Tetapi dibalik itu ternyata sang co-founder / CEO dari The Circle, Eamon Bailey (Tom Hanks) merencanakan sesuatu yang mendobrak privasi yang tujuannya hanya untuk keuntungan saja.

Tidak ada yang salah dengan premisnya, bahkan cukup baik dalam memberikan sindiran terhadap perilaku manusia saat ini yang selalu ingin eksis di dunia maya sampai dengan pelanggaran privasi yang sering dilakukan pemerintah. Lihat saja sosok, Mae yang sebelumnya jarang mengupdate social medianya tetapi karena desakan rekan-rekan kerjanya dia pun malah ketagihan social media dan ingin berada di top ranking kepopularitasan seperti halnya Selebgram atau Youtubers. Dia meninggalkan kehidupan penuh petualangannya dan relasinya dengan pacarnya saat itu. Apalagi saat teknologi menyelamatkan hidupnya, diapun setuju untuk dipasang kamera dibajunya, rumahnya dan asrama tempat dia tinggal, mirip dengan film EDtv (1999) atau Truman Show (1998). Seperti halnya melakukan Facebook atau Instagram live 24 jam, kecuali saat ke toilet. Teknologi ini juga membantu dalam menemukan penjahat atau teroris yang ingin merencanakan kejahatan supaya bisa dicegah. Berbagai premis yang menarik itu sayangnya dieksekusi dengan buruk.

the-circle-movie-connections-700x300

Film ini tidak jelas arahnya kemana dan pesan yang ingin disampaikan membingungkan di akhir film. Narasinya tidak mampu untuk menyampaikan berbagai pesan dengan tepat sasaran. Begitu pula berbagai adegan terasa artifisial dan dipaksakan. Seperti saat drone yang mengejar mantan pacarnya Mae tersebut hingga endingnya yang cenderung konyol dan menjadi bahan tertawaan. Endingnya dapat dikatakan merusak apa yang dibangun film ini dari awal dengan ketidakjelasannya apa yang mau disampaikan oleh pembuatnya, ditambah ekspresi aneh dari Tom Hanks dan asistennya tersebut.

Penyutradaran dan naskah yang dibangun oleh James Ponsoldt tidak dapat membangun film techno-thriller menjadi sebuah thriller yang menegangkan, menggugah perasaan dan membangun keingintahuan penonton. Alih-alih hanya memperlihatkan bagaimana teknologi dari The Circle itu dipromosikan seperti menonton sebuah presentasi produk IT saja.

Emma Watson tidak ubahnya seperti aktivis disini yang mengkampanyekan penggunaan teknologi seperti yang dia sering lakukan dengan berkampanye tentang feminismenya di PBB. Berbagai pidatonya menjadi cenderung menggurui daripada memberikan pandangan yang lebih subtil. Tom Hanks layaknya seperti Steve Jobs atau CEO perusahaan IT wannabe, karakternya sungguh obvious dan tidak memiliki kharisma yang cukup untuk menjadi seorang CEO. Karakter terlemah ada di Ty Lafitte / Kalden (John Boyega) yang seharusnya bisa menjadi karakter yang penting dan misterius, tetapi akhirnya hanya menjadi sosok yang terlupakan yang tidak jelas ingin dibawa kemana karakter ini.

ElCirculo_ES_MovieStill7

Final Verdict:

Premis yang sebenarnya menarik dalam memberikan kritikan terhadap penggunaan social media yang berlebihan sampai dengan pelanggaran privasi oleh teknologi ini sangat buruk dalam eksekusinya, sehingga terasa hambar. Apalagi endingnya yang bisa dikatakan sebagai sebuah lelucon yang buruk.