80 menit awal yang solid dan 30 menit akhir yang menjemukan
6Overall Score
Reader Rating 6 Votes
6.9

Critical Eleven, sebuah novel laris oleh penulis anyar Indonesia yaitu Ika Natassa yang telah menelurkan 7 buku yang semuanya tergolong best seller ini menggunakan analogi 3 menit sesaat setelah take off dan 8 menit sebelum pesawat landing. Masa itu merupakan saat-saat tergenting karena hampir semua kecelakaan pesawat berada pada dalam jangka waktu tersebut.

Critical-Eleven288

Analogi itu diterapkan saat Anya (Adinia Wirasti) yang karena tuntutan pekerjaannya sering bolak balik ke luar negeri sehingga airport merupakan rumah keduanya. Begitu pula dengan Ale (Reza Rahadian) karena bekerja di oil rig. Pertemuan dia di dalam pesawat mengubah kehidupan mereka, 3 menit awal yang manis dan tentu 8 menit terakhir yang membuat mereka tidak ingin turun dari pesawat. Hingga akhirnya mereka menikah dan memutuskan tinggal di New York supaya Anya lebih dekat dengan Ale yang ditugaskan di Mexico City. Berbagai kejadian merenggut kebahagiaan cinta mereka dari manis menjadi pahit.

Baca juga: Intip 7 Perbedaan antara Novel dan Film Critical Eleven!

Dapat dikatakan ini adalah sebuah film anti romantis, kebanyakan lebih berisi air mata dan bagaimana kedua tokoh ini mengalami berbagai permasalahan yang membuat mereka depresi tingkat akut. Mungkin jika mau diibaratkan seperti film Blue Valentine yang dibintangi oleh Ryan Gosling dan Michelle Williams.

Critical-Eleven-2

Proses pacaran kedua tokoh ini dianggap kurang penting oleh sutradara maupun penulis naskahnya, tiba-tiba saja mereka sudah menikah dan cerita langsung berlari saat mereka memutuskan untuk tinggal di New York. Fokus utama film memang dititikberatkan pada permasalahan anak yang dikandung oleh Anya yang menyebabkan konflik yang berkepanjangan dan mengubah tone film ini menjadi lebih muram, berbagai warna cerah dan riang gembira yang menggambarkan indahnya dan hiruk pikuk kota New York yang tidak pernah tidur itu kontras dengan pilihan warna muram saat konflik mencapai klimaks. Sinematografi inilah yang menjadi segi terbaik, selain akting dari kedua tokoh utama. Inilah sebuah film romantis Indonesia yang digarap dengan serius, tidak main-main seperti kesan kebanyakan film sejenis lainnya.

Reza Rahadian dan Adinia Wirasti menghadirkan chemistry yang luar biasa sebagai sosok suami istri, lengkap dengan segala permasalahan yang membelit dimulai saat Ale yang terlalu over protektif terhadap bayi yang dikandungnya, di sisi lain Anya yang seakan-akan terlalu cuek dan menggampangkan masalah. Segala raut muka, bahasa tubuh dan perilaku yang diperlihatkan oleh kedua aktor/aktris ini layak membuat mereka sebagai salah satu ikon percintaan masa kini. Penonton dapat merasakan apa yang dialami oleh kedua tokoh utama, tidak jarang mungkin akan menahan tangis melihat berbagai adegan memilukan yang akan mengiris-ngiris hati. Rasanya tidak heran nantinya kalau mereka akan mendapatkan nominasi di ajang FFI atau Piala Maya nantinya.

poster-critical_DB99AA97B3F841B590B9B7ACE87981B5

Tergolong tidak ada masalah yang berarti dari dua paruh awal film. Paruh ketiga terakhir menjadi sumber permasalahan. Terasa sangat dipanjangkan, melelahkan, memutar-mutar dan terlalu berbelit-belit. Jika diawal diperlihatkan bagaimana analogi 3 menit di awal dan 8 menit di akhir. Dapat dikatakan 80 menit awal film ini terasa mulus, tapi tidak di 30 menit akhir. Bahkan sebenarnya film ini terasa 30 menit terlalu panjang, apalagi dengan penyelesaian yang terburu-buru dan kurang menyentuh karena penonton sudah merasa capek untuk menyaksikan berbagai adegan depresif. Ada beberapa momen juga yang terasa klise yang menambah gangguan penonton.

Final Verdict:

Kualitas akting, sinematografi dan musiknya jauh diatas rata-rata film sejenis. Ada cukup banyak pula adegan memilukan yang dapat mengiris-ngiris hati penonton. Tapi, sesuai analogi film ini (3 menit awal dan 8 menit akhir). Jika mau dibalik dan di kulik sedikit, 80 menit pertama film tidak ada permasalahan yang berarti, tetapi 30 menit terakhir terlalu melelahkan, berbelit-belit dan menjemukan untuk ditonton.

P.S. Boleh jadi bagi sebagian orang setelah menonton akan semakin ingin untuk pindah negara karena gemerlap dan indahnya kota New York. Menurut saya kurang elok karena masih banyak yang mesti diperjuangkan. Jikapun pindah berarti menyerah dengan keadaan sekarang yang memang tidak mengenakkan. Walaupun begitu permasalahan ini masih dapat diperbaiki jika makin banyak orang yang peduli dan bersuara demi bangsa dan negara ini.