Sangat bagus di bagian awal dan pertengahan, sayang sekali terjun bebas di menjelang akhir
6Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0

Kesuksesan Danur di tahun ini yang sedemikan gegap gempitanya sehingga menjadi film horor tersukses sepanjang masa di Indonesia membuat produser-produser film di Indonesia berlomba-lomba untuk membuat dan merilis berbagai film horor di tahun ini. Jailangkung menjadi contoh sukses lainnya yang sampai saat ini mendapatkan penonton sekitar 2 juta orang. The Doll yang sebelumnya telah rilis tahun lalu, dibuatkan sekuelnya yang berjudul The Doll 2.

Maira (Luna Maya) dan Aldo (Herjunot Ali) merupakan sepasang suami istri yang hidup bahagia dengan anaknya yang masuh kecil Kayla. Suatu kecelakaan tragis yang merenggut nyawa anaknya membuat Maira menjadi depresi dan sering diganggu oleh sederetan kejadian-kejadian aneh yang meliputi boneka Sabrina yang merupakan kepunyaan dari Kayla. Atas saran dari Elsa, sahabat dari Maira. Maira mencoba untuk berkomunikasi kepada arwah Kayla dengan menggunakan medium boneka Sabrina. Sejak saat itu Kayla seperti ada di dalam diri boneka Sabrina dan seperti ingin menyampaikan sesuatu rahasia kepada Maira.

Mengambil cukup banyak inspirasi dari adegan dan tone film-film horor Hollywood seperti The Conjuring, Insidious hingga Annabelle, The Doll 2 dengan baik membangun atmosfir ketegangan dan juga jump scare yang sangat pas sekali dalam menimbukan efek kejut. Efek dan sudut pengambilan gambarnya dengan brilian mengambil setiap momen dan pula kadang dengan teknik shaky camera sehingga turut menambah suasana disturbing yang akan dialami penonton. Apalagi iringan musiknya yang dikomandoi oleh membuat suasana semakin mencekam dan pas sekali dalam membangun suasana sampai mencapai klimaks ketegangan. Ditambah pula akting dari Luna Maya yang sangat berhasil dalam menampilkan sosok seorang ibu yang kehilangan anaknya yang penuh dengan depresi, kebingungan dan ketakutan yang sangat dengan segala kejadian-kejadian aneh itu. Sosok boneka Sabrina yang menyeramkan (bukan lucu seperti yang dikatakan Elsa, sehingga membuat 1 penonton bioskop tertawa) itu sering menimbulkan kengerian melihat sosoknya yang kadang muncul dimana-mana. Begitu pula dengan berbagai petunjuk yang diberikan oleh boneka Sabrina membuat penonton bertanya-tanya apa yang ingin disampaikan Kayla kepada ibunya ini.

3 4

Sebuah build up yang sangat bagus di awal-awal hingga pertengahan untuk ukuran film Indonesia dan bisa jadi menjadi salah satu film horor terbaik dalam beberapa tahun belakangan ini dirusak oleh 1/3 bagian terkahirnya dengan twist yang dibuat-buat dan merubah film horor yang tadinya bergaya supernatural ini menjadi lebih ke arah film horor slasher dengan deretan penuh darah yang sayangnya menjadi sungguh monoton dan nyaris tidak ada ketegangan yang berarti. Motif dari sisi antagonisnya pun terasa lemah, begitu pula dengan aktingnya. Hanya Luna Maya saja yang berakting sangat baik. Herjunot Ali membuat penonton bingung kapan dia ketakutan, senang, sedih, ekspresinya seakan-akan sama. Sungguh sayang melihat 1/3 terakhir film ini, seakan-akan The Doll 2 adalah 2 film yang dijadikan 1. Satu lagi dari film horor Indonesia yang hanya baik dari segi komersial tetapi tidak dari segi kualitas.

1 2

Final Verdict:

2/3 awal filmnya sangat bagus dan memberikan kengerian yang sangat, sayangnya dirusak di 1/3 bagian akhirnya oleh twist yang dibuat-buat dan banyaknya darah bercucuran yang tidak perlu sehingga merusak segala tone dan build up horror yang telah dibangun sejak awal.