Rumah produksi Fourcolours Films pimpinan Ifa Isfansyah yang mendulang sukses lewat film Kucumbu Tubuh Indahku yang meraih banyak penghargaan termasuk film terbaik Festival Film Indonesia 2019 kembali hadir dengan produksi film terbaru karya Faozan Rizal berjudul Abracadabra  yang bergenre drama fantasi ini.

Film yang ditayangkan perdana pada event Jogja Netpac-Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta ini dibintangi oleh Reza Rahadian, Butet Kertaredjasa, Salvita deCorte, Egy Fedly, Dewi Irawan, Asmara Abigail, M. Adhiyat, Imam Darto, Ence Bagus dan direncanakan tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 9 Januari 2020.

film Abracadabra

Loading...

Sinopsis

Seorang pesulap bergelar Master, Lukman (Reza Rahadian) mengumumkan pensiun dini sebagai pesulap di atas panggung saat hendak memulai trik terakhirnya. Sebuah trik Kotak Ajaib yang mampu menghilangkang benda di dalamnya, baik benda hidup ataupun benda mati.

Trik yang diharapkan menjadi gong bagi akhir karirnya berbalik menjadi bumerang saat Iwan (M. Adhiyat) bocah kecil yang menjadi sukarelwan hilang di dalam kotak dan tidak dapat dimunculkan kembali. Ibu Iwan, Laila (Asmara Abigail) yang panik pun menyusul masuk ke dalam kotak dan malah ikut-ikutan hilang. Kasus itu sampai ke penyelidikan Kepala Polisi (Butet Kertaradjasa) yang menganggap Lukman sebagai penculik dan menyita kotak ajaibnya. Sialnya, di kantor polisi, Kotak Ajaib tersebut malah membuat kacau dengan melepas seekor harimau!

Ulasan

Menonton film-film milik Fourcolours Film harus didasarkan pada pengetahuan tentang film-film yang pernah diproduksi oleh perusahaan berbasis di Yogyakarta ini. Film-film semacam Siti, Turah atau Kucumbu Tubuh Indahku bisa menjadi sampel yang tepat untuk merepresentasikan standar konten dan kualitas dari rumah produksi yang berdiri sejak tahun 2001. Dengan semangat independen yang mereka miliki, Fourcolours selalu mengedepankan nilai seni pada film-film yang mereka produksi.

film Abracadabra

Abracadabra adalah salah satunya. Meskipun di luar dari kebiasaan dengan menggandeng sutradara sekaligur penulis naskah yang lebih akrab dengan ranah komersil dalam sosok Faozan Rizal (Habibie & Ainun, Say I Love You), namun nampaknya Fourcolours nampak percaya diri dengan film ini, terbukti dengan dijadikannya film ini sebagai film pembuka Jogja Netpac-Asia Film Festival (JAFF) 2019 bulan november lalu.

Hasilnya film Abracadabra mampu meneruskan tradisi film-film Fourcolours dengan nilai seni yang berestetika tinggi dikombinasikan penceritaan yang bermakna multiinterpretatif bagi penonton. Struktur plot naskah yang sederhana dengan gaya chaos comedy serta visual ciamik lewat penggunaan tone warna-warni yang memikat dan tata artistik apik disuguhkan oleh film ini dan akan memanjakan mata para penonton.

Sayangnya misteri hilangnya orang-orang di dalam kotak serta asal muaal kotak itu sendiri sebagai penggerak plotnya tidak diceritakan secara ‘ringan’. Mitologi Nordik yang melatarbelakangi kotak berjuluk Ygdrasil yang erat kaitannya dengan sejarah holocaust (kisah pembantaian etnis Yahudi di era Nazi) memang sedikit dijelaskan sebagai petunjuk. Hanya saja tidak mampu menjawab keseluruhan misteri dalam film.

film Abracadabra

Hal tersebut nampaknya menjadi ganjalan utama bagi para penonton memahami makna dan misteri yang ada dalam film ini. Film berdurasi 86 menit ini memang menantang penonton untuk berpikir, walau petunjuk yang minim disebar berserakan lewat dialog dan pengadeganan yang random. Tidak ada satu momen pun dari salah satu karakter untuk membantu penonton dalam merangkum semua petunjuk untuk mengungkap misteri tersebut.

Karakterisasi dalam film pun menjadi masalah manakala penonton tidak diberikan ruang untuk mengenal sang tokoh utama Lukman, yang entah dalam kondisi apa, usia masih relatif muda tetapi memutuskan untuk pensiun dini sebagai pesulap bergelar master. Akting Reza Rahadian yang frustrasi berusaha mengungkapkan kasus hilangnya orang-orang di dalam kotak pun tidak digambarkan secara detail dan tidak imbang dengan bagian komedi milik Butet Kertaradjasa dan kawan-kawan yang kadang mendominasi.

Secara teknis, film ini memang terlihat cantik dan estetik. Kualitas sinematografinya yang kompak dengan tim artistik serta tim color grading pada pasca produksi mampu meningkatkan kualitas gambarnya. Berangkat dari pengalamannya sebagai sinematografer film-film semacam Sultan Agung, Kartini (2017) dan Soekarno, Faozan tahu benar merangkai gambar yang cantik di dalam filmnya. Banyak ulasan yang beredar dan menyandingkan gaya film ini dengan gaya sutradara Hollywood, Wes Anderson. Tidak sepenuhnya salah sih, tapi entah merupakan inspirasi atau bukan, kehandalan Faozan Rizal dalam menyuguhkan visual di Abracadabra ini patut diapresiasi.

film Abracadabra

Sementara dari sisi penulisan naskah, Faozan yang menulis naskah film ini sendirian terlihat kesulitan dalam menyisipkan berbagai petunjuk-petunjuk dalam film untuk mendukung pengungkapan misterinya yang dijabarkan di klimaks film yang akan membuat penonton bertanya-tanya “siapa dia?”, “kok bisa begini?” atau “kok jadi begitu”. Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa akhir dan pesan film berpulang pada interpretasi masing-masing penonton. Sebuah jalan pintas yang kerap dilakukan oleh film-film sejenis, dimana karya seni tidak perlu dibatasi dengan satu interpretasi tertentu.

Secara kualitas akting film ini memang memiliki segudang aktor-aktor kawakan dalam ansambelnya, Reza Rahadian (Imperfect, Habibie & Ainun) sebagai Lukman si pesulap galau memberikan performa yang tidak usah diragukan lagi. Kebingungannya menghadapi trik sulap yang gagal dan mencoba memecahkan trik tersebut digambarkan dengan baik meskipun tercuri perhatiannya oleh sisi komedi film yang dipimpin oleh Butet Kertaradjasa (Petualangan Sherina).

Karakter Kepala Polisi memang cocok diperankan oleh budayawan senior tersebut, kualitas komedinya pun mengingatkan pada komedi klasik Three Stooges atau Warkop DKI, akan tetapi penempatan yang kadang mendistraksi plot utama berpotensi menjadikan para karakter komikal dalam film ini terasa mengganggu. Padahal chemistry trio Butet, Imam Darto (Pretty Boys) dan Ence Bagus (Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur) cukup berhasil.

film Abracadabra

Egy Fedly (Pengabdi Setan) dan Dewi Irawan (Imperfect, Tabula Rasa) sebagai peran pendukung lain dengan jatah screentime banyak,  bermain cukup sesuai porsinya dengan Salvita de Corte sebagai penarik perhatian utama. Setelah dua peran menonjol di Ratu Ilmu Hitam dan Love is a Bird serta Abracadabra ini, penulis rasa sudah saatnya Salvita diberikan kesempatan di film lain sebagai peran utama.

Kesimpulan Akhir

Abracadabra adalah film yang memiliki suguhan visual apik dan ciamik dengan premis yang menarik meskipun menantang penonton untuk berpikir mengenai apa yang terjadi dengan misteri di dalam filmnya. Meski komedinya kadang mendistraksi dan klimaks film tidak akan memuaskan semua orang, nikmati saja suguhan karya seni berbentuk audio visual dalam film Abracadabra yang akan memanjakan mata penonton selagi otak berpikir keras memecahkan misterinya.

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film

Loading...

Review Film Abracadabra (2020) – Visual Cantik Dengan Makna Laksana Trik Sulap Yang Sulit Dipecahkan
6.5Overall Score
Reader Rating 2 Votes
4.3