Review Film Aruna & Lidahnya (2018) - Petualangan Aruna dalam Mencari Rasa
9Overall Score
Reader Rating 1 Vote
8.5

Aruna & Lidahnya merupakan film adaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak. Novelnya sendiri dirilis pertama kali di 2014. Aruna & Lidahnya disutradarai oleh Edwin dan ditulis naskahnya oleh Titien Wattimena. Aruna & Lidahnya telah tayang sejak 27 September 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

Aruna (Dian Sastrowardoyo) adalah seorang ahli epidemiologi (ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit) menginjak usia pertengahan 30 dan masih lajang. Aruna sangat terobsesi dengan kuliner sehingga dia turut menjajal berbagai macam kuliner saat dia menyelidiki sebuah kasus flu burung di Surabaya, Pamekasan, Pontianak dan Singkawang. Tidak hanya sendiri, dia ditemani kedua temannya, seorang koki bernama Bono (Nicholas Saputra) dan seorang kritikus kuliner bernama Nadezhda (Hannah Al Rashid). Dalam perjalanan ini, Aruna tidak sengaja bertemu mantan rival dan gebetannya, Farish (Oka Antara).

Dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, sontak pikiran penonton akan teringat kisah cinta mereka di film Ada Apa dengan Cinta 1 dan 2. Lalu ada juga film 3 Cinta dan 3 Doa yang kembali memperlihatkan kebersamaan mereka. Namun pada Aruna & Lidahnya mereka bukan seorang kekasih, melainkan seorang sahabat. Tidak ada rasa canggung antar mereka berdua, dialog-dialog antar mereka berdua sangat mengalir, karena memang dikehidupan nyata antara Dian dan Nicholas, mereka adalah saling bersahabat. Penonton dapat melihat bagaimana mereka berdua saling bercana, ejek dan curhat satu dengan yang lain. Tidak pernah penonton melihat hal-hal ini di film-film mereka sebelumnya. Selain itu Nicholas berubah jadi lebih cerewet, berbeda dengan film sebelumnya Nicholas harus menjadi lelaki yang misterius dan pendiam.

Sutradara Edwin namanya mulai terdengar sejak film Kara, Anak Sebatang Pohon menjadi film pendek Indonesia pertama yang berhasil menembus ajang Festival Film Cannes 2005, karirnya makin menanjak setelah merilis film Babi Buta yang Ingin Terbang (2008). Puncaknya ketika dia mendapatkan Piala Citra untuk sutradara terbaik di tahun 2017 atas film Posesif. Aruna & Lidahnya menjadi filmnya yang paling ngepop, tidak seperti film-film terdahulunya yang kental dengan suasana art house. Aruna & Lidahnya ringan dan mudah dicerna oleh penonton awam, walau masih ada beberapa momen surealis yang menaungi dari Aruna & Lidahnya.

Dari segi plot tidak ada sesuatu yang mengesankan, tetapi sisi penyajian dan penceritaan dan segi karakterisasi maupun akting yang sungguh berkelas sehingga mampu membuat Aruna & Lidahnya dapat berbicara banyak.

Sisi penyajiannya sungguh menggiurkan dan menggugah selera saat berbagai kuliner mulai dari Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, dan tentunya, Nasi Goreng yang konon serupa cita rasanya dengan Nasi Goreng Si Mbok yang Aruna cari-cari resepnya itu hingga ke Pontianak. Segala macam kuliner ini diperlihatkan banyak yang secara close up dan sering juga diperlihatkan pembuatan dari segala kuliner itu. Tidak hanya mengeksplorasi segala shot-shot makanan yang indah, tetapi juga tetap menyisipkan segala filosofi tentang makanan itu. Seperti contohnya saat Aruna menceritakan tentang rujak soto yang rasa rujaknya terlalu dominan sehingga rasa soto tidak berasa. Aruna mengibaratkan ini dengan hubungan antar manusia yang sudah tidak lagi menyatu. Filosofi lainnya seperti lauk dalam makanan bisa terasa terlalu asin atau terlalu pedas kalau hanya dicicipi satu per satu, tapi ketika diambil sedikit-sedikit lalu dicampur dan dilahap dalam satu sendok maka nikmatnya baru terasa.

Karakter-karakter dari para pemainnya sangat berwarna, Aruna digambarkan sebagai sosok yang sedang mencari “rasa”, walau sebenarnya rasa itu telah ada dan seharusnya bisa dia ungkapkan. Farish digambarkan sebagai sosok yang dingin, skeptis dan keras kepala, dia menggangap makanan itu merupakan sesuatu hal yang biasa orang makan untuk melangsungkan hidup, tidak ada hal yang lebih dari suatu makanan. Nadezhda merupakan sosok seorang bad girl dan free spirited yang ternyata memiliki pemikiran menohok mengenai seseorang yang ganti-ganti pasangan seks. Bagi banyak orang berhubungan seks merupakan puncak dari suatu hubungan, ternyata tidak, Nadezhda mengangap berpegangan tangan merupakan sesuatu yang tingkat yang lebih tinggi daripada seks yang diibaratkan sebagai friend with benefit saja. Sedangkan Bono merupakan seorang sahabat yang baik dan sebagai sosok yang dapat mencairkan suasana. Terlebih yang terpenting adalah kebersamaan dari keempat karakter ini di meja makan dengan obrolan-obrolan sederhana seperti layaknya “obrolan warung kopi” yang membahas banyak hal mulai dari sosial-politik, asmara maupun agama.

Ada momen spesial Aruna di Singkawang saat festival barongsai. Momen ini menjadi puncak bagi Aruna untuk breaking the fourth wall. Setelah adegan ini, muncul sebuah adegan yang memperlihatkan kegemilangan akting Dian Sastro, saat dia dengan sinis mengatakan kepada seseorang di dalam suatu mobil, karena sebuah rahasia besar telah terungkap. Adegan ini sungguh crowd-pleaser dan membuat penonton tersenyum puas.

Kesimpulan Akhir:

Menyaksikan Aruna & Lidahnya bagaikan menyantap suatu hidangan yang teracik dan bersatu padu secara pas, sederhana, hangat, manis dan menyenangkan. Salah satu film Indonesia terbaik tahun ini!