Mendengar kata “Bohemian Rhapsody” tentu akan mengingatkan dengan grup band Queen dan terlebih kepada sosok Freddie Mercury. Queen merupakan band rock asal Inggris yang terdiri dari empat anggota yaitu Freddie Mercury (vokalis utama, piano), Brian May (gitaris utama, vokal), Roger Taylor (drum, vokal) dan John Deacon (gitar bas) yang dibentuk pada tahun 1970. Dengan penjualan mencapai 150 – 300 juta kopi, menjadikan Queen sebagai salah satu musikus terlaris di dunia sepanjang masa.

Bohemian Rhapsody menceritakan awal mula grup band ini terbentuk sampai dengan penampilan terbaik mereka di konser Live Aid. Bohemian Rhapsody tayang mulai 30 Oktober 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

Farrokh Bulsara / Freddie Mercury (Rami Malek) begitu mengidolakan grup band Smile yang beranggotakan Brian May (Gwilym Lee), Tim Staffell and Roger Taylor (Ben Hardy). Saat dia bertemu dengan Brian May dan Roger Taylor setelah konser selesai, kagetlah Farrokh karena mendapati bahwa vokalisnya sudah pergi meninggalkan band itu. Seketika itu juga, Farrokh bernyanyi untuk audisi masuk ke band itu, dan seketika itu pula Brian May dan Roger Taylor menerima dia masuk ke grup band itu. Untuk melengkapi, bergabung lagi satu pemain bas, John Deacon (Joseph Mazzello). Setelah itu lahirlah nama Queen menggantikan Smile dan nama Freddie Mercury menggantikan nama Farrokh Bulsara.

Perjalanan mereka cukup sulit ketika banyak produser menolaknya, ada satu produser eksekutif EMI Ray Foster yang diperankan secara jenaka oleh Mike Myers  yang meremehkan lagu legendaris “Bohemian Rhapsody” dan menggangap grup band Queen tidak akan terdengar lagi. Belum lagi tampang dari Freddie Mercury yang kurang rupawan dengan giginya yang berantakan, ditambah pula Freddie merupakan seorang keturunan Persia, saat itu rasisme masih cukup kuat. Against all odds, band Queen ternyata sekarang ini terus dikenang sebagai salah satu band rock terbaik sepanjang masa dan Freddie Mercury adalah sebagai penghibur paling hebat sepanjang masa yang seakan mampu menyihir ratusan juta orang diseluruh dunia yang mengelu-elukan nama mereka.

Masa-masa produksi dari film Bohemian Rhapsody penuh lika-liku. Dimulai dari Sacha Baron Cohen yang mengundurkan diri sebagai Freddy Mercury karena perbedaan kreatifitas hingga ketidakprofesionalan yang terjadi sehingga menyebabkan Bryan Singer dipecat sebagai sutradara film.

Segala permasalahan itu bisa jadi mempengaruhi film Bohemian Rhapsody ini, ada sedikit masalah pada penyutradaran yang menyebabkan film tampak seperti loncat-loncat antar adegan dan kurang pendalaman pada beberapa hal. Kemudian lagi kabarnya jika Sacha Baron Cohen yang menjadi Freddie Mercury maka Freddie Mercury versinya akan lebih liar dan lebih kontroversial lagi, sehingga bisa jadi akan lebih dilirik oleh juri-juri Oscar. Memang film Bohemian Rhapsody ini cenderung mencari aman dengan tidak mengangkat lebih sisi gelap dan nakal kehidupan grup band Queen sebagai bentuk penghormatan kepada grup band Queen,.

Film Bohemian Rhapsody lebih fokus menceritakan kepada sosok paling vital dan kontroversial dalam grup band Queen, yaitu Freddie Mercury. Dia tidak rupawan dengan gigi yang berantakan, dia adalah seorang minoritas karena rasnya. Dia juga merupakan seorang gay. Dengan segala hal-hal yang memberatkannya itu, dia tidak menyerah begitu saja. Bahkan saat dia mengidap AIDS, dia tidak ingin menjadi sosok penyakitan yang berdiam diri saja, tetapi dia tetap berjuang untuk masa depannya. Berbagai hal inilah yang membuat dia menjadi inspirasi banyak orang. Menginspirasi bagaimana para minoritas seperti dia bisa berani dan bersuara lebih banyak.

Seperti cerita-cerita kehidupan grup band lain yang penuh dengan seks, obat-obatan, pesta pora. Begitu juga dengan grup band Queen. Tetapi pada grup band Queen lebih diperlihatkan sosok Freddie yang sudah kecanduan obat-obatan, rokok, pesta pora. Walau banyak yang mengidolakannya, ironisnya Freddie Mercury seperti seseorang yang kesepian sehingga sering mengadakan pesta pora.

Rami Malek adalah tulang punggung dalam film Bohemian Rhapsody ini, disaat sebenarnya penyutradaran dan naskah tidak ada yang istimewa. Dialah yang membuat filmnya menjadi istimewa. Segala mimik muka, body language, suara sangat mirip dengan Freddie Mercury. Puncaknya adalah penampilannya di Live Aid yang benar-benar sama persis dengan Freddie Mercury, seakan-akan penonton melihat bahwa Freddie Mercury asli lah yang sedang beraksi. Penampilan Freddie Mercury di Live Aid disebut-sebut penampilan musik terbaik dalam sepanjang sejarah karena mampu menyihir ratusan ribu orang di stadion Wembley untuk mengikuti segala ajakan Freddie dalam bertepuk tangan hinggga bernyanyi. Memang penguasaan panggung dan kharisma Freddie Mercury di atas panggung tidak ada yang mampu menyaingi hingga saat ini.

Tidak hanya sebuah penampilan, film Bohemian Rhapsody juga memiliki hati. Bagaimana Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor dan John Deacon sudah selayaknya keluarga saja. Peristiwa paling menyentuh hati saat Freddie memberitahukan kepada mereka kalau mengidap AIDS, ketiga sahabatnya inipun merahasiakannya dari orang-orang hingga sehari sebelum Freddie meninggal dunia, orang-orang baru mengetahui penyakit ini dari mulut Freddie sendiri. Selayaknya seorang sahabat pula, Brian May, Roger Taylor dan John Deacon memaafkan Freddie yang sempat bersolo karir, tanpa berdiskusi dahulu dengan mereka. Jika saja Brian May, Roger Taylor dan John Deacon tidak memaafkan Freddie, maka tidak akan ada momen spektakuler nan magis pada Live Aid itu.

Momen penuh hati juga tampak dari hubungan Freddie dan Mary, awal kisah percintaan mereka cukup manis. Mary melihat keunikan dari sosok Freddie akhirnya mereka saling jatuh cinta. Freddie bahkan menuliskan sebuah lagu berjudul “Love of My Life” khusus untuk Mary. Disaat-saat mereka berpisah karena orientasi seksual Freddie, Freddie masih menganggap Mary adalah common-law wife dan bersahabat baik dengannya. Mary pun demikian, masih peduli kepada sosok Freddie, bahkan Mary nekad untuk mengunjungi langsung Freddie di Jerman, disaat-saat kehidupan Freddie yang mulai berantakan itu.

Tidak hanya momen persahabatan antar band dan kisah cintanya. Terdapat momen-momen kehangatan keluarga, Freddie begitu menyanyagi ibunya yang selalu mendukungnya. Freddie memberikan sebuah gestur kiss bye yang khusus diberikan kepada ibunya. Momen hangat juga muncul saat Freddie bersama ayahnya yang konservatif, pada saat sebelum Live Aid dimulai.

Film Bohemian Rhapsody memberikan sebuah inspirasi kepada grup-grup band baru di luar sana, bagaimana sikap pantang menyerah dan percaya kepada style musik sendiri tanpa perlu disetir oleh orang lain. Awalnya memang sulit, saat lagu Bohemian Rhapsody ditolak oleh banyak radio karena berdurasi 6 menit itu, kemudian para kritikus musik juga memberikan review negatif untuk lagu itu. Nyatanya sekarang ini lagu Bohemian Rhapsody dianggap sebagai sebuah lagu mahakarya, buah dari kejeniusan grup band Queen.

Inilah sebuah bentuk selebrasi kepada grup band Queen, film ini penuh dengan lagu-lagu legendaris Queen seperti Killer Queen, Love of My Life, Bohemian Rhapsody, We Will Rock You, Another One Bites The Dust, Who Wants to Live Forever, Hammer To Fall, Under Pressure, Radio Ga Ga, We Are The Champions. Bahkan ada aransemen tersendiri untuk lagu tema logo 20th Century Fox. Begitu juga dengan berbagai kostum, alat-alat musik, penampilan panggung dibuat semirip mungkin.

Kesimpulan Akhir:

Dikisahkan sejak awal terbentuk hingga penampilan terhebat mereka di Live Aid. Bohemian Rhapsody merupakan sebuah film yang sungguh menggugah perasaan dan inspiratif dari salah satu grup band terbaik sepanjang masa dan juga salah satu penampilan panggung vokalis terbaik yang mampu menghipnotis ratusan juta orang di seluruh dunia.

Peforma Rami Malek sungguh mirip dengan Freddy Mercury, khususnya pada bagian Live Aid. Dialah yang membuat film ini menjadi istimewa.

Review Film Bohemian Rhapsody (2018) - Bentuk Selebrasi dan Penghormatan Terhadap Grup Band Queen dan Sosok Freddie Mercury
8.5Overall Score
Reader Rating 2 Votes
8.0