Loading...

Sutradara Rupert Wyatt merupakan sosok anomali di hollywood. Kesukesan komersil dan kritik saat mengarahkan film Rise of The Planet of The Apes yang menjadi dasar dari trilogi prekuel saga Planet of The Apes, ternyata tidak menjamin proyek film besar lain bagi dirinya.  Tercatat setelah itu, Wyatt hanya menyutradarai film The Gambler yang semenjana dan salah satu episode serial TV The Exorcist.

Film Captive State produksi Amblin Partners dan Participant Media ini  pun bukan merupakan proyek film dengan bujet besar, walaupun terlihat ambisius dari sisi premis dan marketingnya. Dibintangi oleh John Goodman, Ashton Sanders dan Vera Farmiga, film ini mulai tayang di bioskop Indonesia tanggal 10 April 2019.

Sinopsis

Dibuka dengan kepanikan suasana kota Chicago yang tengah mengalami invasi alien, seorang polisi berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya menuju zona aman. Namun sungguh malang karena ia dan sang istri harus tewas terbunuh alien meninggalkan kedua anak lelakinya di mobil.

9 tahun kemudian ketika invasi berubah menjadi kolonialisme alien terhadap seluruh bumi, manusia tidak mampu melawan dan hanya bisa berdamai dan menurut pada perintah alien penjajah yang memiliki teknologi persenjataan lebih tinggi. Sementara itu, Gabriel Drummond (Ashton Sanders) salah satu anak yang selamat 9 tahun yang lalu pun harus menerima kenyataan bahwa kakaknya, Rafe (Jonathan Majors) tewas saat melakukan aksi pengeboman terhadap alien di wilayah Wicker Park.

William Mulligan (John Goodman), polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki aksi pengeboman Wicker Park mencoba mengungkap gerakan pemberontak bernama Phoenix yang dipimpin oleh sosok The One yang misterius itu. Salah satu lagkahnya adalah dengan menyadap keseharian Gabriel demi memperoleh informasi keterlibatan Rafe dengan Phoenix. Mulligan yang menyembunyikan ambisinya menjadi seorang komisaris polisi ternyata bukan polisi yang sempurna. Ia sulit fokus dan tidak bisa melepaskan kebiasaannya berkunjung ke rumah bordil demi menemui pelacur langganannya Priscilla (Vera Farmiga).

Pengawasan terhadap Gabriel makin intens manakala Mulligan mendapat petunjuk akan aksi lanjutan yang hendak dilakukan oleh Phoenix. Mulligan pun menduga Gabriel akan terlibat kali ini dan mencoba mencegah kembali terjadinya teror bom demi menjaga hubungan damai antara manusia dengan alien.

Ulasan

Tema Invasi Alien merupakan tema yang lazim dalam film bergenre sci-fi dan naskah tulisan Rupert Wyatt dan Erica Beeney memadukannya dengan genre investigasi dengan menjadikan karakter Mulligan sebagai detektif yang mencoba melacak Phoenix. Sudut pandang anggota Phoenix dalam melaksanakan aksi pengeboman pun ditampilkan dengan detail.

Hasilnya, film ini menjadi sangat minim adegan aksi dan cenderung banyak bermain di ranah prosedural polisi dalam menyadap Gabriel, penyelidikan mendalam dan kesibukan para pemberontak mempersiapkan pengeboman secara sembunyi-sembunyi. Terlalu banyaknya karakter serta membingungkannya adegan para karakter mondar-mandir menjadi kelemahan film utama ini.

Kelemahan tersebut sebenarnya bisa dihindari seandainya sejak awal film penonton dibuat peduli dengan karakter utama. Konflik antara alien dengan warga bumi pun tidak diceritakan lewat gambar. Film terlalu cerewet memaparkan detail lewat dialog dan teks di layar. Bisa dipahami memang karena keterbatasan bujet untuk membuat adegan CGI, akan tetapi sangat fatal akibatnya bagi penonton di paruh pertama film.

Overload karakter, tidak jelasnya pergerakan mondar-mandir para karakter, penuturan plot yang rumit, tokoh utama yang tidak simpatik dan misteri perihal The One yang tidak ditegaskan kepentingannya memenuhi paruh pertama film. Untungnya paruh kedua menjadi lebih baik saat aksi pengeboman mulai dieksekusi yang berdampak pada teror alien yang lebih meningkat dan misteri soal The One yang mulai terbuka satu demi satu. Semua bermuara pada klimaks yang memuaskan, setidaknya bagi penonton yang peduli dan tetap terjaga selepas paruh pertama film.

Pengarahan Rupert Wyatt nampaknya yang menjadi masalah besar dalam film ini. Keputusannya banyak bermain di retorika dan proses internal Phoenix dan praktis hanya menyelipkan satu aksi teror alien sangat mempengaruhi impresi penonton. Saya sendiri sempat menguap beberapa kali menyaksikan film yang sebenarnya memiliki premis sederhana tetapi dibuat sedemikan rumitnya oleh Wyatt.

Sisi teknis tidak memiliki masalah berarti kecuali efek visual yang sangat kentara dibuat dengan bujet minim. Karakter alien yang muncul hanya pada suasana gelap di malam hari dan wujud kapal alien yang tidak enak dilihat menjadi indikasinya. Penata suara dan musik adalah dua departemen yang patut diberikan kredit lebih dalam film berdurasi 109 menit ini.

Departemen akting juga cukup menonjol dengan John Goodman (10 Cloverfield Lane) dan Ashton Sanders (Moonlightmemimpin barisan cast dengan akting yang cukup mumpuni. Walaupun keduanya tidak mampu membuat penonton bersimpati akibat penulisan karakter dalam plot yang membingungkan, namun setidaknya kualitas akting mereka tetap terjaga.

Kesimpulan Akhir

Memiliki paruh pertama film yang minim aksi dan cenderung membingungkan dengan akibat terlalu banyaknya karakter dan terlalu banyak hal yang ingin diceritakan, film Captive State mampu memikat lewat paruh kedua yang superior, pengungkapan misteri yang cukup baik dan klimaks yang bisa membuat penonton bersorak. Dengan catatan asalkan tetap terjaga melalui paruh pertama film yang membingungkan dan melelahkan.

Loading...
Review Film Captive State (2019) - Pemberontakan Terhadap Teror Penjajahan Alien Di Bumi
7Overall Score
Reader Rating 1 Vote
7.0