Boneka bernama Chucky merupakan salah satu karakter ikonik dalam dunia sinema, khususnya genre horor. Bersama Michael Myers dari franchise Halloween, Jason Vorhees dari Friday The 13th, Freddy dari Nightmare On Elm Street, serta Leatherface dari Texas Chainsaw Massacre, Chucky menjadi bagian dari ikon horor di periode keemasan film horor slasher sejak tahun 1970-an.

Kini di tengah semaraknya film remake, reboot, spin-off, dan lain sebagainya, karakter boneka ciptaan Don Mancini ini kembali dihidupkan oleh rumah produksi Orion Pictures dan diarahkan oleh sutradara muda asal Norwegia, Lars Klevberg (Polaroid). Film yang diniatkan sebagai reboot dan interpretasi ulang dengan penyesuaian era modern ini tetap menggunakan judul pertama, Child’s Play dan direncanakan rilis reguler di bioskop Indonesia mulai tanggal 9 Juli 2019.

Film Child's Play

Loading...

Sinopsis

Seorang ibu, Karen Barclay (Aubrey Plaza) berniat memberikan hadiah kepada anaknya, Andy (Gabriel Bateman) sebuah boneka canggih bernama Buddi yang memiliki fungsi ganda, sebagai mainan dan sebagai alat yang mampu mengontrol alat-alat elektronik dan moda transportasi keluaran Kaslan Corporation, perusahaan yang memproduksi Buddi.

Tanpa Andy ketahui, boneka yang ia namakan Chucky (disuarakan oleh Mark Hamill) ini memiliki malfungsi akibat proses produksi yang tidak sesuai prosedur. Hal itu menyebabkan Chucky punya kecenderungan meniru tingkah laku Andy serta memiliki pikiran dan keinginan sendiri yang menyebabkan masalah pelik pada Andy dan orang-orang disekitarnya, serta lingkungannya yang mendadak timbul banyak kasus kematian misterius.

Ulasan

Keputusan drastis mengganti unsur supernatural yang ada di film Child’s Play tahun 1988 dengan unsur teknologi di versi reboot ini adalah keputusan berani dan memiliki resiko besar. Bagi penonton yang sudah mengenal karakter Chucky, keputusan tersebut berpotensi membelah pendapat mereka dalam menilai film ini. Keputusan yang tentunya sudah dipikirkan masak-masak oleh para pembuat film dan dituangkan ke dalam naskah karya Tyler Burton Smith yang baru pertama kali menulis naskah film panjang.

film Child's Play

Naskah yang ditulis memang mengubah arah film Child’s Play namun arah yang dituju bukanlah sesuatu yang baru. Film semacam Terminator, I, Robot, sampai serial TV Black Mirror sudah lebih dahulu mengangkat kisah tentang dampak buruk teknologi bagi manusia. Bahkan yang terdekat film Upgrade (2018) juga mengangkat kisah agak mirip dengan film ini. Hanya saja Chucky memiliki keuntungan lebih dengan karakter yang melekat dengan image horor dan mengerikan sehingga masuk akal diberikan lampu hijau untuk diproduksi karena dianggap akan meraih keuntungan secara box office.

Sutradara Lars Klevberg menggarap film Child’s Play dengan semangat film kelas B melalui adegan-adegan gore memakai efek praktis, gaya penyutradaraan yang khas, selipan berbagai tribute ke budaya pop, termasuk homage untuk film Texas Chainsaw Massacre, dan menambahkan unsur mainstream dengan klimaks yang cukup bisa dibilang sangat chaos dan terlihat ‘mahal’. Meskipun hasil akhir klimaks film terasa nanggung dan kurang terasa teror ‘hide and seek’-nya namun secara keseluruhan film berjalan ringan dan menyenangkan, layaknya sensansi yang dihasilkan seusai menonton film-film horor kelas B dengan kualitas sinematik film berbujet mahal.

film Child's Play

Dari sisi teknis, penggunaan efek praktis yang sangat baik tidak diimbangi dengan efek CGI boneka Chucky yang maksimal. Pergerakan mulut Chucky terlihat kurang mulus. Hal itu sangat terlihat di dalam satu adegan saat mulut Chucky dijadikan bahan kelakar. Namun secara keseluruhan efek CGI tidak banyak mengganggu. Sisi sinematografi, tata suara dan editing film tidak ada yang istimewa. Kredit lebih patut disematkan pada Bear McCreary (Godzilla: King of Monsters) selaku penata musik yang memberikan gubahan musik yang sangat bagus. Catatan ada dari sisi sensor yang cukup mengganggu bagi penggemar adegan gore, karena mengikuti rating 17+ di Indonesia, maka ada beberapa adegan yang dianggap terlalu sadis kena potong dan mengakibatkan adegan-adegan tersebut terasa meloncat-loncat.

Sisi akting juga tidak terasa istimewa, memakai nama karakter yang sama dengan versi terdahulu, praktis hanya karakter Andy yang diberikan banyak kesempatan menunjukkan range emosi yang luas. Aktor muda Gabriel Bateman dengan pengalamannya dalam film horor Lights Out mampu mengemban perannya dengan baik dan menyalurkan emosi secara konsisten. Sementara Aubrey Plaza (Safety Not Guaranteed, Ingrid Goes West) kurang maksimal dalam menggambarkan sebagai orang tua tunggal yang kerepotan membesarkan anak seorang diri. Karakter polisi milik Bryan Tyree Henry (Widows, If Beale Street Could Talk) malah lebih parah karena karakternya terasa sia-sia dan kurang dikembangkan dalam kemunculannya yang terbatas. Selain itu bakat suara Mark Hamill (Star Wars: The Last Jedi)kurang terasa maksimal akibat minimnya dialog yang dimiliki Chucky.

film Child's Play

Berbagai kekurangan yang diutarakan dalam ulasan tersebut bisa jadi mempengaruhi penonton dalam menikmati film ringan yang bertujuan menghibur ini. Pesan soal perlunya kebijakan dalam menyikapi teknologi, anti bullying, serta pesan subtil tentang hubungan saling percaya dan komunikasi intens antara orang tua dan anak menjadi beberapa hal yang bisa diambil dalam film berdurasi 90 menit ini.

Kesimpulan Akhir

Mengambil resiko besar dengan menginterpretasi ulang unsur krusial dalam film terdahulu dengan memberikan sentuhan modern dan hi-tech. Child’s Play versi reboot ini masih mampu menangkap unsur fun dan campy yang melekat pada film sejenis. Sebuah film horor slasher yang tidak sempurna dengan karakterisasi tipis dan ide cerita yang tidak baru, tapi masih menawarkan unsur hiburan tinggi dan mengajak bernostalgia dengan karakter Chucky yang kini tampil beda.

Loading...

Review Film Child's Play (2019) - Interpretasi Ulang Karakter Horor Legendaris Bernama Chucky
6.5Overall Score
Reader Rating 2 Votes
7.1