City Hunter adalah manga yang diciptakan oleh Tsukasa Hojo dan diterbitkan sejak tahun 1985-1992 di Shonen Jump, Shueisha. Hingga saat ini sudah dikumpulkan 35 seri buku seri City Hunter yang memiliki tokoh utama seorang detektif bayaran (Sweeper) flamboyan nan genit dan mesum, Ryo Saeba beserta partner dan love interest-nya Kaori Makimura.

Setelah berbagai serial anime TV yang ditayangkan pada periode tahun 1987-1991, diikuti film layar lebar live action yang dibintangi Jackie Chan serta berbagai versi anime layar lebar dan adaptasi serial live action Korea Selatan, film anime layar lebar City Hunter: Shinjuku Private Eyes karya sutradara Kenji Kodama hadir tahun ini dan akan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 2 Oktober 2019.

Film City Hunter: Shinjuku Private Eyes

Loading...

Sinopsis

Ryo Saeba (disuarakan oleh Akira Kamiya) dan Kaori Makimura (Kazue Ikura) mendapatkan seorang klien wanita cantik bernama Ai Shindo (Marie Iitoyo) yang bekerja sebagai model dan mengalami kejadian tidak menyenangkan karena selalu diikuti oleh sekelompok orang yang mencurigakan. Apalagi kejadian tersebut baru ia alami pasca kematian ayahnya akibat kecelakaan lalu lintas.

Tanpa basa-basi Ryo pun menerima kasus ini, ia bersama Kaori menguak lebih banyak misteri di balik permasalahan sang model.  Banyak hal terjadi di tengah penyelidikan, pertemuan kembali Kaori dengan teman masa kecilnya Mikuni Shinji (Koichi Yamadera) yang kini menjadi CEO perusahaan teknologi, serta kemunculan para pedagang senjata di Shinjuku, membawa mereka pada satu kesimpulan mengerikan. Tak disangka kasus Ai adalah “kunci” dari sebuah konspirasi yang mengancam kota Shinjuku dan dunia.

Film City Hunter: Shinjuku Private Eyes

Ulasan

Manga City Hunter yang diciptakan di periode 1980-an sejatinya merupakan salah satu manga legenda dengan berbagai karakter yang memorable baik dari manga, anime sampai versi live action-nya. Ryo Saeba akrab di kalangan penggemar manga atau komik asal Jepang berkat karakterisasinya yang konsisten, jago menembak dan berkelahi, tampan, playboy, genit dan mesum sampai tidak malu-malu menunjukkan kemesumannya.

Agak cukup berseriko sebenarnya bahwa City Hunter: Shinjuku Private Eyes ini tetap mempertahankan karakter Ryo yang seperti itu, mengingat dewasa ini segala hal yang berhubungan dengan pelecehan yang ditampilkan di seluruh media akan berhadapan dengan jari-jari netizen yang akan membahasnya ke ranah sosial media, dan otomatis akan memberi preseden buruk pada film tersebut. Bagi penulis sendiri hal ini hanya sebatas resiko saja, karena kami memahami karakter Ryo Saeba tersebut memang sudah begitu dari sananya dan mengerti kalau film ini dan adegan mesumnya Ryo hanyalah sebuah hiperbolik karena diikuti juga dengan adegan ikonik Kaori membawa palu besar dan memukulkannya ke Ryo yang sedang bertingkah mesum.

Film City Hunter: Shinjuku Private Eyes

Di luar catatan di atas, film City Hunter: Shinjuku Private Eyes memiliki kualitas yang cukup standar. Elemen nostalgia dengan gaya animasi, karakter-karakter yang akrab bagi pemerhatinya serta lagu-lagu ala ’80-an yang diputar agaknya akan membuat histeris para penggemar City Hunter. Namun dari sisi naskah yang ditulis Yoichi Katoh sayangnya tidak memiliki keistimewaan sama sekali selain mengakomodasi plot dan memasukkan berbagai karakter yang akrab bagi penggemarnya.

Selain karakter utamanya, karakter seperti Saeko Nogami, Omibozu dan Miki hadir dalam film ditambah lagi dengan kehadiran 3 wanita pencuri ulung dari kelompok Cat’s Eye Hitomi, Ai, dan Rui Kisugi yang merupakan serial lain rekaan Tsukasa Hojo. Kehadiran trio Cat’s Eye dalam film ini menjadi kekurangan paling signifikan akibat kehadirannya yang tidak bermakna dan berfungsi bagi plot dan terasa hanya dimasukkan sebagai fans service saja.

Elemen misteri dalam film ini juga tidak tergarap dengan baik, Ryo dan Kaori seakan tidak memiliki tantangan dan kesulitan berarti untuk mengungkap kasus yang dihadapi Ai. Semua berjalan mulus-mulus saja tanpa adanya petunjuk-petunjuk yang ditanamkan untuk membuat penonton penasaran. Agaknya adegan aksi dan tingkah lucu Ryo dan Omibozu serta elemen nostalgia adalah jualan utama dari film ini.

Film City Hunter: Shinjuku Private Eyes

Secara kualitas produksi film ini mengingatkan pada anime-anime yang lazim diproduksi oleh studio-studio film Jepang. Dengan goresan gambar yang khas manga-nya membuat nuansa 1980-annya sangat terasa. Akan agak sulit untuk meraih penonton milenial yang belum mengenal City Hunter, tapi sekali lagi akan menyenangkan para penggemar beratnya. Sutradara Kenji Kodama yang juga pernah menyutradarai serial TV City Hunter pada periode 1987-1988 dan beberapa versi TV Movie dan videonya sukses memberikan sentuhan nostalgia dalam film ini.

Para pengisi suara di dalam film ini sendiri cukup baik dalam menyuarakan karakternya.  Sedikit agak lucu  pada adegan perubahan sikap Ryo melihat Kaori menggantikan seorang model baju pengantin. Karakter suara Akira Kamiya dibuat lebih berat menyesuaikan Ryo yang mendadak sok cool, tidak biasa tapi menjadi variasi yang unik.

Kesimpulan Akhir

Mengembalikan banyak kenangan manis pada para penggemarnya, film City Hunter: Shinjuku Private Eyes sayangnya tidak memberikan sesuatu yang istimewa pada presentasi filmnya untuk khalayak umum. Ceritanya cenderung standar dengan pembangunan misteri yang tidak mampu membuat penonton penasaran yang selayaknya ada pada film bertema detektif.  Komedi pervert-nya sendiri terasa kuno walau beberapa tingkah lucu Ryo dan Omibozu lainnya cukup bisa memancing tawa. Akhir kata sebuah sajian anime Jepang yang cukup menarik dan bisa menjadi alternatif tontonan di awal oktober ini.

Note:  Scroll/gulir ke bawah untuk melihat rating penilaian film

Loading...

Review Film City Hunter: Shinjuku Private Eyes (2019) - Aksi Sang Jagoan Mesum Yang Masih Tangguh Tapi Datar Dalam Bercerita
6Overall Score
Reader Rating 1 Vote
7.5