Setelah film To All the Boys I’ve Loved Before di Netflix dan film Searching di bioskop menjumpai Indonesia. Kali ini muncul Crazy Rich Asians. Jika pada To All the Boys I’ve Loved Before dan Searching hanya pemeran utamanya yang beretnis Asia, Crazy Rich Asians hampir semua pemeran pada film ini beretnis Asia! Hal ini sangat mengejutkan mengingat terakhir kali terjadi mayoritas etnis Asia dalam sebuah film Hollywood berlatar modern adalah seperempat abad yang lalu dengan film The Joy Luck Club. Apalagi mengingat banyak film yang sebenarnya diperankan oleh aktor/aktris Asia tetapi malah diperankan oleh orang kulit putih, seperti pada Scartlett Johansons pada film Ghost in the Shell, Jim Sturgess pada film 21 hingga Tilda Swinton pada film Doctor Strange. Tidak hanya dalam peran tetapi stereotip terhadap etnis Asia sungguh kental dan terkesan rasis pada film-film seperti Breakfast at Tiffany’s atau di Sixteen Candles yang menggambarkan dengan buruk dan konyol.

 

Crazy Rich Asians disutradarai oleh Jon M. Chu dari naskah Peter Chiarelli dan Adele Lim. Film ini berdasarkan novel populer dari Kevin Kwan di tahun 2013 yang berjudul sama. Crazy Rich Asians menceritakan Rachel Chu (Constantine Wu) seorang profesor Ekonomi di New York University yang diundang oleh pacarnya Nick Young (Henry Golding) untuk menemaninya ke Singapura. Rachel tidak mengetahui kalau Nick berasal dari keluarga yang sangat kaya raya. Rachel pertama kali kaget kalau Nick memesankan tempat duduk first class untuknya dalam penerbangan dari Amerika Serikat ke Singapura. Kejutan ini masih berlanjut saat Rachel memasuki halaman rumah dari Nick dan keluarganya yang layaknya seperti istana saja. Sesampainya di sana, Rachel mendapati kalau ibu dari Nick tidak menyukainya karena asal usul keluarganya yang tidak terpandang apalagi dia berdarah Asian-American (bukan China totok atau kaki lang dalam bahasa Hokkien). Belum lagi menghadapi berbagai teman wanita Nick yang menganggapnya hanya sebagai gold digger saja.

 

Sekilas ceritanya menggunakan formula khas rom-com yaitu seorang gadis sederhana yang love interest-nya adalah seorang kaya raya kemudian pula masalah klasik lain adalah pertentangan antara calon menantu dan mertuanya. Tetapi ada 2 hal yang membedakannya dalam Crazy Rich Asians yaitu segi kultural Asia khususnya dari etnis Tionghoa / China dan segi treatment dan tampilan yang dihadirkan oleh  John M Chu yang kabarnya terinspirasi dari segala warna vivid dari Wong Kai War dalam film In The Mood For Love.

 

Segi kultural dari Crazy Rich Asians sangat relatable khususnya kepada kebanyakan orang Asia. Pemilihan jodoh dalam keluarga di Asia biasanya harus mendapatkan restu dari orang tua, belum lagi kepercayaan dari bentuk muka yang mengatakan jodoh atau tidaknya dua sejoli. Selain hal tersebut, adalagi referensi mengenai warna merah yang membuat hoki yang merupakan warna baju digunakan Rachel saat mengunjungi temannya Peik Lin di Singapura. Kemudian ada referensi lain mengenai China tulen atau tidaknya seseorang yang telah menjadi imigran, dalam hal ini Peik Lin mengatakan kepada Rachel kalau dia bermuka Tionghoa, bisa bahasa Mandarin, tetapi dalam dirinya dia adalah orang Amerika Serikat, ini berlaku juga untuk orang China imigran lainnya apakah dia masih totok (berdarah murni) atau sudah terasimiliasi / peranakan. Ada lagi referensi-referensi lainnya seperti logat Mandarin yang berbeda-beda, pemilihan pasangan berdasarkan agama, old-money vs new-money.

Bagi pencinta kuliner khususnya kuliner dari Asia Tenggara tentu akan membuat perut dan mulut bergejolak melihat sate, kue-kue tradisional, pangsit hingga kepiting pedas Singapura yang menghiasi. Sebuah momen menarik yang seperti sindiran kepada orang-orang western kebanyakan, yaitu tidak tahan dengan pedas, begitu juga dengan Rachel yang kaget dengan masakan-masakan Singapura yang terlalu pedas itu. Momen menarik ini didahului juga dengan keusilan dari Nick yang dengan menggunakan bahasa Mandarinnya untuk memesan makanan kepunyaan Rachel dengan lebih pedas.

 

Paling mengundang tawa adalah keluarga dari Peik Lin yang diperankan dengan eksentrik oleh Awkwafina. Tidak hanya mengundang kesegaran, tetapi Peik Lin memberikan sebuah arti persahabatan yang kuat dengan Rachel. Keluarga dari Peik Lin semuanya memberikan kesegaran, mulai dari ayahnya yang diperankan oleh Ken Jeong (Hangover Trilogy). Ken Jeong tidak bersuara saja sudah dapat menimbulkan senyum melalui segala ekspresi konyolnya. Kemudian lagi ada ibu dari Peik Lin dengan aksen Sing-lish yang kental dan nuansa tante-tante tajirnya itu.

Terdapat suatu momen yang magis dalam satu adegan pernikahan di gereja yang dihiasi dengan berbagai macam ornamen dan tumbuhan khas kebun, sehingga terkesan bukan lagi di dalam suatu gereja. Ditambah lagi dengan deburan air di tengah jalan setapak / aisle menuju panggung dan dikelilingi oleh pengunjung yang . Begitu mewah, ekstravaganza dan spektakuler set ini sehingga bisa jadi akan menjadi inspirasi bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan di dunia nyata. Tidak hanya magis dalam hal latarnya, tetapi juga pada adegan ini terdapat sebuah turning point dalam pengembangan character arc-nya dan sebuah momen yang sangat menyentuh hati antara Rachel dan Nick, padahal tidak ada ucapan sama sekali, hanya sebuah tatapan yang penuh arti antara mereka berdua.

 

Ada satu karakter yang menimbulkan character study yang cukup mendalam yaitu karakter Michael Teo (Pierre Png) suami dari Astrid Leong-Teo (Gemma Chan). Astrid merupakan sepupu dari Nick Young yang sungguh sangat kaya raya dan memiliki suami yang meskipun kaya, tetapi perbedaan kekayaannya tetap seperti bumi dan langit. Perbedaan mendasar dari karakter Michael dengan Rachel adalah Michael tidak berani dan tidak mau berusaha dalam menghadapi perbedaan kasta yang cukup tinggi dengan istrinya sendiri itu. Rachel membuktikan diri sebagai seorang yang berkualitas dengan segala kepintaran, keberanian dan kebaikan hatinya yang dapat mengalahkan segala latar belakang keluarganya maupun kekayaan yang tidak dia miliki.

Berbagai soundtrack-nya sangat merdu dan enak didengar, ditambah lagi berbagai aransemen lagu western seperti lagu Yellow-nya Cold Play dan lagu Material Girl-nya Madonna, dinyanyikan dengan bahasa Mandarin. Ini menjadi sebuah perpaduan westernasian yang sungguh apik. Tidak juga melupakan lagu lawas Mandarin seperti Wo Yao Fei Shang Qing Tian dan Ni Dong Bu Dong.

Spoiler alert untuk paragraf di bawah ini tentang adegan mahjong pada akhir cerita.

Konflik antara Rachel dan calon mertuanya yaitu Eleanor mencapai puncaknya ketika mereka berdua berhadapan bermain mahjong yang perlu kelihaian dalam komunikasi, strategi maupun kerjasama. Permainan khas China sejak 1927 ini penuh dengan simbolisme dan secara pintar berhubungan dengan salah satu adegan awal di film saat Rachel memberikan pelajaran dalam suatu seminar dengan bermain poker. Adegan mahjong ini penuh makna mengenai western vs eastern dengan letak duduk Rachel dan Eleanor, rasa cinta Rachel kepada Nick, pemahaman Rachel yang menanggap kalau keluarga adalah hal paling penting sehingga dalam permainan mahjong itu dia rela untuk mengalah dan yang paling krusial adalah memberikan pesan kalau Rachel bukan seorang sosok yang lemah dan bergantung kepada orang lain dalam hal ini bergantung kepada Nick.

Final Verdict:

Hal yang membedakan Crazy Rich Asians dengan film sejenisnya adalah segi sosiokultural yang kental dengan budaya Asia, khususnya China yang pastinya akan membuat tersenyum dan tertawa melihat berbagai referensi-referensinya. Kemudian lagi adalah segi penyajiannya, walau produksinya sungguh ekstravaganza dan spektakuler, tetapi cerita dan pesannya masih tetap membumi.

Review Film Crazy Rich Asians (2018) - Film Komedi Romantis yang Sangat Mengena bagi Orang Asia
9Overall Score
Reader Rating 2 Votes
6.2