Banyak orang mengira novel Harry Potter and the Deathly Hallows yang terbit tahun 2007 dan filmnya di tahun 2010 dan 2011 menjadi novel dari potterverse (Semesta Harry Potter) terakhir. Ternyata tidak, tahun 2013 dimulailah proyek film dari buku Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku pelajaran sekolah di Hogwarts mengenai hewan-hewan fantastis. Film ini rencananya akan berjumlah 5 film. Film keduanya berjudul Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald telah tayang mulai hari ini, 14 November 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

Tahun 1927, 6 bulan setelah kekacauan di kota New York, Newt masih bermasalah dengan Kementrian Sihir karena telah mengacak-acak kota tersebut. Sedangkan penyihir jahat Grindelwald (Johnny Depp) yang ditangkap 6 bulan lalu itu, berhasil lolos dari penjara. Grindelwald mulai mengumpulkan pasukan untuk melawan pada muggle (non penyihir) dan dia juga sedang membujuk obscurial Credence Barebone (Ezra Miller) di Paris. Newt yang sebenarnya dicekal ke luar negeri, ditugaskan secara rahasia ke kota Paris oleh Albus Dumbledore (Jude Law).

Selain plot diatas, terdapat banyak sub-plot seperti: Hubungan cinta terlarang antara muggle dan penyihir antara Jacob Kowalski (Dan Fogler) dan Queenie Goldstein (Alison Sudol) yang merupakan lanjutan dari film pertama, kemudian kisah cinta antara Newt Scamander (Eddie Redmayne) dan Tina Goldstein (Katherine Waterston) yang juga merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya. Kemudian kisah lainnya adalah Credence Barebone (Ezra Miller) yang ternyata masih hidup, dia ingin mencari jati diri dan asal usulnya. Kemudian ada kisah mengenai Leta Lestrange (Zoë Kravitz) yang dulunya merupakan murid nakal di Hogwarts dan memiliki kisah masa lalu dengan Newt. Belum lagi membahas sub plot mengenai kisah antara Albus Dumbledore dengan Grindelwald. Berbagai plot yang terlalu banyak itu, terasa tumpang tindih. Saat cerita yang satu berjalan, saat penonton mulai mendalami dan meresapi, tiba-tiba sudah dipotong dan mengisahkan cerita lainnya.

Tone film ini jauh lebih gelap daripada film pertamanya yang cukup banyak menggunakan warna-warna kuning keemasan yang memberikan suasana hangat dan magis. Kali ini berkutat ke warna-warna hitam yang menimbulkan suasana suram dan teror. Teror ini paling ketara muncul ketika Grindelwald ingin menghancurkan muggle dan puncaknya saat dia berorasi disuatu perkumpulan orang-orang ekstrim “sayap kanan”.

Sebagai potterhead (sebutan fans berat Harry Potter) pasti akan bersorak gembira dan penuh dengan luapan emosi ketika menonton Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, bagaimana tidak berbagai homage dan easter eggs dari film-film Harry Potter sebelumnya bertebaran, puncaknya adalah melihat Hogwarts kembali hadir. Penonton dalam theater bioskop, tanpa dikomando bertepuk tangan melihat bangunan kokoh yang penuh dengan sejarah itu. Tidak hanya memperlihatkan bangunannya, penonton disuguhi pengajaran dengan menggunakan boggart oleh Dumbledore yang dulunya adalah seorang guru pada Defence Against The Dark Arts. Dan tidak lengkap rasanya jika tidak ada Quidditch, walau adegan ini hanya sebagai background saja, tapi sudah cukup memuaskan dahaga. Masih banyak lagi referensi-referensi di Harry Potter lainnya, yang lebih seru jika dicari sendiri.

Berjudul Fantastic Beasts tentu saja hadiran dari berbagai hewan-hewan fantastis ini bertebaran. Positifnya adalah kali ini banyak mereprentasikan dari berbagai negara misalnya: Kappa makhluk mitologi dari Jepang yang berbentuk seperti anak kecil dengan tubuh dan kulit reptil, berkepala botak di tengah dengan moncong seperti mulut burung; Zouwu dari China yang merupakan kucing/macan berbentuk sebesar gajah dengan tubuh loreng, 4 taring tajam dan ekor berbulu yang panjang; Matagot kucing Sphinx dari Mesir dengan mata menyerupai Alien. Dan tentu Nagini (Nagini tercipta karena kutukan yang menyebabkan seseorang menjadi beast secara permanen) yang merupakan Naga dari Indonesia. Sayangnya, pemeran Nagini seharusnya berasal dari Indonesia yang akan diperankan oleh Acha Septriasa, tetapi urung dilakukan karena Acha tengah mengandung. Bagi penggemar Niffler di film pertamanya tidak akan kecewa, karena Niffler kembali ada dengan segala gerak geriknya yang menggemaskan itu dalam mencuri berbagai benda-benda berkilauan.

Eddie Redmayne kembali berperan sebagai Newt Scamander, kali ini aktingnya lebih matang sebagai seseorang yang kikuk, kutu buku, quirky dan penuh dengan hati untuk membantu orang lain dan juga khususnya kepada para hewan-hewan fantastis. Kisah cintanya dengan Tina Goldstein, lebih terasa chemistry-nya daripada film pertamanya. Dan Fogler kembali sebagai Jacob Kowalski, dia memberikan sebuah comic relief yang cukup segar, walau tidak selucu film pertamanya. Alison Sudol sebagai Queenie Goldstein yang tertekan secara lahir dan batin, karena hubungan cinta yang terlarang itu. Dia berhasil memperlihatkan seseorang yang sedang putus asa dan tidak tahu akan kemana.

Jude Law memerankan sebagai seorang tokoh paling dihormati di Harry Potter yaitu Dumbledore, dia memperlihatkan sosok yang berbeda dari Dumbledore yang ada sebelumnya. Dumbledore kali ini lebih flamboyan dan necis. Mungkin juga karena masih muda wibawa dan kharismanya belum kelihatan. Kepiawaian magisnya juga masih ditutup rapat untuk film-film selanjutnya. Hal yang menarik adalah sosok orientasi seksual Dumbledore akan semakin terlihat di sini. Johnny Depp sebagai Grindelwald, agaknya kurang bisa memperlihatkan sosok yang benar-benar kejam, seperti ada yang ditahan-tahan, Johnny Depp di sini kurang liar dan bengis. Claudia Kim sebagai Nagini, memperlihatkan sosok yang sungguh cantik, tapi sayangnya dia dikutuk untuk menjadi ular secara permanen. Penampilan cantik dari Claudia Kim ini juga berkat balutan gaun ungu menawan nan anggun dari rancangan costume designer pemenang Oscar yaitu Colleen Atwood (Fantastic Beasts and Where to Find Them). Claudia Kim seperti berumur 23 tahun di film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, bukan umur 33 tahun yang merupakan tahun kelahirannya.

Penonton yang mengharapkan klimaks atau pertempuran super dengan tongkat sihir agaknya akan sedikit kecewa, karena memang ini merupakan film kedua dari rencananya lima film dari Fantastic Beasts. Memang tidak mudah untuk membuat film yang berada di tengah-tengah dari film pembuka maupun film penutup. Tapi, setidaknya penonton akan dibuat lebih penasaran dengan apa kelanjutan dari film ketiganya. Semoga saja, film ketiganya akan lebih fokus kepada hubungan khusus antara Dumbledore dan Grindelwald, karena pada film ini hanya diceritakan secara sekilas saja.

Kesimpulan Akhir:

Walau terlalu banyak yang ingin diceritakan, Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald cukup baik dalam membuat penonton tidak sabar untuk menyaksikan film-film berikutnya. Ditambah lagi cukup banyak adegan-adegan seru nan magis menyertainya.

Hal yang terbaik dari Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald adalah sangat banyaknya referensi, homage, easter eggs dari film-film Harry Potter sebelumnya yang tentunya akan membuat para potterhead bersorak gembira!

Review Film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018) - Suguhan Spesial untuk Para Fans Harry Potter
8Overall Score
Reader Rating 5 Votes
9.4