Sekolah merupakan tempat yang membosankan bagi Kevin (Kevin Anggara). Teman sekelasnya hanya tiga orang: Bonbon (Teuku Ryzki) yang suka lupa, Dimas (Joshua Suherman) penggila K-Pop dan Johanna (Kamasean Matthews) yang selalu mengingatkan kelupaan Dimas. Hingga menginjak tahun terakhir sekolahnya yaitu kelas 3 SMA, tidak ada prestasinya yang menonjol sehingga menimbulkan keresahan bagi keluarganya yang melihat Kevin tidak pernah belajar, hanya bermain game saja. Kemudian Kevin pun belum tahu rencana ke depannya mau jadi apa setelah lulus SMA.

Suatu ketika, Kevin tertantang untuk melakukan segala tantangan jail di sekolahnya karena didorong oleh suatu website misterius. Kevin mengajak ketiga temannya untuk melakukan keisengan terhadap guru, siswa songong, fasilitas sekolah, hingga membongkar skandal korupsi di sekolahnya. Tantangan-tantangan ini membuat kehidupan Kevin lebih hidup.

Film Generasi Micin yang diangkat dari buku Kevin Anggara berjudul Student Guidebook for Dummies 1 & 2 berfokus pada generasi Z yang lahir pada tahun 1995 sampai 2014. Generasi ini dilabeli sebagai generasi micin karena sifat mereka yang ingin serba instan dan terlalu fokus kepada gadget mereka. Hal ini sering menimbulkan perselisihan antara Kevin dengan orang tuanya (Ferry Salim dan Melissa Karim) yang merupakan generasi X yang juga diumpamakan generasi Orde Baru. Kevin juga sering berbeda pendapat dengan asuk / paman-nya Trisno (Morgan Oey) yang merupakan generasi reformasi yang bersifat lambat.

Selain mengangkat permasalahan tentang generasi, film terbaru dari sutradara Fajar Nugros (Terbang: Menembus Langit, Refrain, Yowis Ben, Cinta Brontosaurus) ini turut menangkat segala permasalahan sosial yang terjadi saat ini dan dibalut dengan unsur-unsur budaya keturunan Tionghoa. Terlihat berbagai stereotip orang keturunan Tionghoa yang dikemas dalam humor-humor yang cukup lucu, seperti begitu pelitnya sampai-sampai tawar-menawar dalam proses kelahiran Kevin, ahli dan luwes dalam berdagang hingga kritik sosial tentang minoritas yang harus tahu diri sehingga jangan macam-macam. Tidak hanya stereotip dari keturunan Tionghoa, ada juga stereotip mengenai orang Batak yang berbicara selalu kencang dan juga stereotip mengenai orang Jawa.

Humor-humor yang ditawarkan dalam Generasi Micin cukup menyenangkan dan lucu dengan dibalut berbagai kritik sosial yang mengena. Sayangnya, masih cukup banyak humor-humor yang miss karena berbagai karakter seperti kelakuan beberapa guru seperti guru yang menggunakan kaca pembesar untuk membaca, guru yang sering ketiduran, guru yang selalu mengulang-ngulang perkataan kepala sekolahnya (Mathias Muchus), guru yang berbicara sambil bernyanyi. Karakter dari gurunya tidak ada yang realistis, hanya kepala sekolahnya saja yang cukup berwibawa. Tidak hanya guru-gurunya yang hampir semuanya terlalu konyol dan bodoh. Karakter yang artifisial juga muncul dalam seorang hansip yang memiliki masalah dalam penglihatan, karakternya ini sama sekali tidak menimbulkan simpati, malah menimbulkan kejengkelan tiada tara.

Generasi Micin dijejali oleh berbagai humor-humor yang padat dengan berbagai punchline sindiran yang cukup ringan dan sederhana namun menohok. Masalahnya berbagai punchline terlalu banyak, seharusnya humornya pun bisa dirangkai lebih baik dan lebih mendalam lagi, tidak terburu-buru ataupun sepotong-potong saja. Kemudian ada juga beberapa humor yang lucu, tapi dilontarkan secara berulang-ulang sehingga akhirnya menimbulkan kebosanan.

Selain berbagai kritik sosialnya, film Generasi Micin memiliki cukup banyak pesan yang menarik seperti mengatasi keraguan dalam diri, tidak terpengaruh kepada kata-kata orang yang negatif tentang generasi micin, berani bangkit setelah melakukan kesalahan yang lazim dilakukan generasi micin dan juga yang paling penting tidak ada generasi yang terbaik, setiap generasi mempunyai jalannya masing-masing.

Seperti halnya Raditya Dika yang memerankan sebagai dirinya sendiri dalam film-filmnya yang diangkat dari buku-bukunya, Kevin Anggara juga memerankan dirinya sendiri. Akting Kevin Anggara sendiri biasa-biasa saja, tidak luwes seperti channel YouTube-nya. Begitu juga dengan Clairine Clay yang penampilannya lebih oke di channel YouTubenya. Mencuri perhatian adalah akting debut dari Kamasean yang merupakan jebolan Indonesian Idol, dia terlihat percaya diri sebagai seorang yang tomboi dan agak serampangan. Lebih baik lagi, Kamasean juga turut menyumbangkan satu lagu berjudul “If Only”. Morgan Oey tampil cukup lepas dan lucu di Generasi Micin sebagai seseorang yang mendambakan menjadi seorang musisi dan juga memiliki gebetan yang diperankan oleh Jessica Veranda.

Kesimpulan Akhir:

Generasi Micin menyuguhkan humor-humor yang cukup lucu dan menyenangkan dibalut dengan berbagai kritikan sosial yang mengena. Namun tidak sedikit juga humor-humor yang miss dikarenakan berbagai karakternya yang terlalu konyol dan artifisial sehingga menimbulkan kejengkelan.

Photo: Starvision

Review Film Generasi Micin (2018) - Kisah Problematika Generasi Serba Instan yang Cukup Lucu dan Mengena
7Overall Score
Reader Rating 1 Vote
8.6