Dengan perpaduan premis generik, Happy Death Day tampil seru, menegangkan sekaligus menyenangkan.
7.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0

Friday the 13th atau hari jum’at pada tanggal 13 adalah salah satu tanggal “keramat” bagi tradisi di Amerika Serikat. Tradisi yang berkaitan dengan horor dan misteri ini menjadi salah satu hal menarik yang sering digunakan dalam promosi film bergenre horor. Dan jum’at 13 Oktober 2017 di Amerika Serikat pun  dimanfaatkan sebagai tanggal rilis untuk film horor slasher terbaru berjudul Happy Death Day.

Film ini adalah karya produser film horor yang terkenal dengan motto “bujet minimal dengan hasil maksimal” bernama Jason Blum, dengan rumah produksinya Blumhouse Productions (Get Out, Insidious, The Purge). Menggaet sutradara jebolan seri Paranormal Activty, Christoper Landon, Blumhouse mengincar potensi penonton yang ingin menonton film horor pada momen friday the 13th dan masa-masa mendekati Halloween nanti. Menariknya lagi, film ini memadukan formula film pengulangan waktu (time loop) dengan film misteri pembunuhan remaja ala franchise Halloween, Scream atau Friday The 13th. Sebuah kombinasi yang unik dan sangat berpotensi mencapai box office.

Film ini berpusat pada sosok Tree (Jessica Rothe), seorang anak kuliah yang tinggal di sorority house atau asrama perkumpulan perempuan di kampus, yang pada suatu malam di hari ulang tahunnya mengalami sebuah kejadian aneh. Tree menjadi korban pembunuhan seorang pembunuh misterius bertopeng anak bayi, namun alih-alih mati, Tree malah terbangun di pagi hari untuk menjalani hari yang sama sampai kemudian ia kembali terbunuh dan terbangun lagi di pagi hari yang sama.

hdd4hdd5

Peristiwa aneh tersebut membuatnya bingung. Sampai kemudian Tree menyadari bahwa pengulangan waktu tersebut memberinya kesempatan untuk menemukan siapa pembunuh bertopeng tersebut dan mencegah sang pembunuh untuk membunuh dirinya, sambil berharap dirinya bisa terlepas dari peristiwa pengulangan waktu yang tengah ia hadapi.

Premis pengulangan waktu adalah premis yang cukup sering digunakan dalam film-film Hollywood semacam Groundhog Day, Edge of Tomorrow dan Triangle adalah beberapa contohnya. Sedangkan premis remaja perempuan yang dikejar-kejar pembunuh bertopeng malah lebih sering lagi. Ketika kedua premis ini dipadukan, bisa dibayangkan betapa generiknya film akan berjalan. Ya, film ini masih terhitung generik, terutama perempat terakhir film. Namun beberapa faktor menjadikan film ini memiliki nilai lebih.

hdd8hdd3

Faktor pertama adalah betapa tingginya nilai hiburan di sepanjang 96 menit durasi film. Menggunakan gaya film remaja Hollywood kita mengenal Tree sebagai tipikal remaja Amerika yang cantik, populer, angsty, bitchy dan penuh drama. Penonton dibuat sebal dengan karakternya, dan dipancing untuk sedikit bersorak saat Tree dibunuh untuk pertama kalinya. Namun tidak sampai perempat kedua film, karakter Tree mulai bergerak ke arah yang berbeda dan memberikan alasan untuk penonton mendukungnya mencari tahu sang pembunuh, selain dari rasa penasaran tentunya.

Faktor kedua adalah akting. Aktris pendatang baru, Jessica Rothe, yang tahun lalu muncul dalam film musikal La La Land, bermain sangat bagus dan mencuri perhatian. Ia mampu membawa film ini satu tingkat dari level film horor/slasher remaja biasa. Beban berat dipundaknya mampu ia taklukkan secara matang dengan kemampuan akting ekspresifnya yang natural dan interpretasinya yang berkualitas. Penonton bisa membenci karakter Tree sekaligus mencintainya di waktu yang sama. Menjadikan Tree sebagai the final girl (gadis yang selamat didalam setiap film horor) yang sempurna.

hdd2hdd7

Dari departemen produksi teknis, Christopher Landon berhasil mengarahkan film ini lewat shot-shot  yang menarik, sehingga mampu mengurangi keletihan penonton saat melihat pengulangan adegan di dalam film. Skrip dari Scott Lobdell juga mampu diterjemahkan dengan baik oleh Landon. Kendati formula generiknya membuat film mudah ditebak, namun usaha Lobdell untuk mengecoh penonton di klimaks film patut diberikan apresiasi tersendiri. Karena, seperti yang Joko Anwar bilang dalam wawancara saat promosi film Pengabdi Setan. Sangat sulit membuat film horor, karena harus berusaha mengecoh ekspektasi penonton. Dan pada Happy Death Day kecohan Lobdell dalam twist di akhir film menjadi sedikit trying too hard to be a twist.

Final Verdict

Secara umum film ini adalah film yang sangat seru dan cocok untuk disaksikan beramai-ramai dengan keluarga atau teman-teman. Misterinya terjaga sampai detik terakhir film, akting pemeran utamanya memukau dan sisi produksinya sama sekali tidak mengecewakan. Walaupun premisnya sedikit umum, tetapi predikat film yang memiliki nilai hiburan yang tinggi patut disematkan pada film Happy Death Day yang akan tayang midnight pada Sabtu 14 Oktober 2017 dan reguler Rabu 18 Oktober 2017 nanti.