Loading...

Film aksi John Wick 1 & 2 dengan aktor utama Keanu Reeves sukses dengan perolehan total 259 juta dollar AS di seluruh dunia. Tentu tidak heran, tahun ini kisah pensiunan pembunuh bayaran ini kembali berlanjut dalam John Wick: Chapter 3 – Parabellum. Film John Wick: Chapter 3 – Parabellum tayang mulai hari ini, 15 Mei 2019.

Sinopsis:

Langsung melanjutkan dari ending film John Wick: Chapter 2, John Wick (Keanu Reeves) diberikan waktu 1 jam oleh koleganya Winston (Ian McShane) sang pemimpin hotel Continental atas dasar respek supaya dia bersiap-siap untuk menghadapi jutaan pembunuh bayaran yang menginginkan kepalanya supaya mendapatkan imbalan senilai 14 juta dollar AS. Dalam pelariannya, John Wick kemudian bertemu dengan the Director yang merupakan salah satu anggota High Table (Anjelica Huston) hingga Sofia (Halle Berry) untuk meminta bantuan mereka. Saat John Wick bersembunyi seraya mencari pemimpin dari High Table, salah seorang anggota dari High Table yaitu The Adjudicator (Asia Kate Dillon) mengincar Winston dan The Bowery King (Laurence Fishburne) yang membantu John Wick untuk memberi mereka hukuman. The Adjudicator juga menyuruh salah satu pembunuh terbaik yaitu Zero (Mark Dacascos) untuk membunuh John Wick.

Review:

John Wick: Chapter 3 – Parabellum kembali menggunakan formula klasiknya yaitu pertarungan brutal, berdarah-darah dan tanpa ampun dengan koreografi ciamik. Visual yang dihadirkan kembali sangat stylish dengan permainan cahaya neon dan palet warna yang sangat kaya, mengkilap dan indah yang pastinya akan memanjakan mata penonton. Tentunya lagi masih dengan kharisma Keanu Reeves yang seakan semakin bertambah usia, performanya semakin mantap. He’s so bad-ass!

30 menit awal dari John Wick: Chapter 3 – Parabellum benar-benar menghadirkan aksi kelas atas dan membuat jantung penonton berdebar-debar dan tidak sedikit adegan sadis yang dapat membuat penonton ngilu. Beberapa adegan-adegan terbaik film ada di 30 menit film ini, yaitu jika di film sebelumnya John Wick mampu membunuh musuhnya hanya dengan pensil saja, kali ini dengan buku di perpustakaan! Setelah itu adegan pertarungan dengan pisau juga mampu dikoreografikan dengan sangat lincah, cepat dan tentunya seru. Adegan dahsyat lainnya saat John Wick menaiki kuda dan harus berjibaku dengan musuhnya yang menggunakan motor.

Sayangnya setelah 30 menit berlangsung, film seperti makin kehilangan bensin, puncaknya di akhir film yang bisa dikatakan antiklimaks. John Wick: Chapter 3 – Parabellum seperti film yang tanggung, terlalu panjang, terlalu bertele-tele dan hanya menjadi jembatan penghubung saja untuk kemungkinan kisah selanjutnya.

Ekspektasi penonton makin meninggi mengingat John Wick 1 dan 2 yang benar-benar memuaskan dengan pembangunan universe yang besar mengingat akhir dari film John Wick: Chapter 2, John Wick akan dikejar-kejar oleh semua pembunuh di seluruh dunia. Namun dalam John Wick: Chapter 3 – Parabellum universe-nya menjadi jalan di tempat, tidak banyak bisa diceritakan tentang apa itu High Table dan berbagai karakter-karakter lainnya, khususnya karakter Halle Berry yang seakan numpang lewat saja walau performanya aksinya sungguh cakap dan mantap ditambah lagi 2 anjingnya yang sungguh buas itu. Lokasinya juga hanya berkutat di Hotel Continental saja, lokasi terbaru hanya ada di teater balet dan kota Casablanca di Maroko. Mengingat John Wick diincar oleh banyak pembunuh dari berbagai negara, bisa jadi penonton menginginkan agar John Wick dapat “dipaksa” untuk mengunjungi berbagai negara, tidak hanya berlokasi di situ-situ saja.

Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman berperan sebagai Shinobi 2 dan 1 yang merupakan anak buah dari Zero. Dari segi aksi koreografi sudah tidak perlu diragukan lagi dengan beladiri silatnya dengan senjata Kurambik, senjata khas Indonesia yang menyerupai kuku Harimau. Mereka berdua telah berpengalaman dalam koreografi dalam film-film The Raid / The Raid 2 hingga Wiro Sableng sehingga tidak heran dipercaya juga menjadi koreografer dalam beberapa adegan di film John Wick: Chapter 3 – Parabellum. Adegan perkelahian dengan Keanu Reeves yang berlatar di ruangan kaca yang rumit dan menarik di Hotel Continental ini di menjelang akhir film menjadi sebuah kepuasan tersendiri hingga sampai pada adegan yang membuat decak kagum dan bahkan membuat penonton bersorak-sorai, di mana saat dua pertiga terakhir film John Wick: Chapter 3 – Parabellum terasa dragging. Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman bisa dibilang menyelamatkan film John Wick: Chapter 3 – Parabellum.

Selain koreografi perkelahian, kharisma dan kualitas aksi dari Keanu Reeves, sinematografi, design produksi hingga performa duo Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman. Scoring / iringan musik dari John Wick: Chapter 3 – Parabellum patut diberikan kredit tersendiri. Iringan musik-nya bergaya klasik dan menyerupai musik dari lagu ballet. Iringan musiknya ini mampu seirama dengan koreografi perkelahian dengan tangan, pisau, golok, pedang, pistol, shotgun dan berbagai senjata lainnya sehingga koreografi perkelahiannya seperti layaknya orang menari saja dengan ketepatan timing yang sungguh pas antara musik dan adegan aksi.

Kesimpulan Akhir:

Terasa antiklimaks dan jalan ditempat. Namun tentu koreografi aksi yang dirangkai dengan sempurna, brutal, berdarah-darah dan tanpa ampun. Kemudian juga kharisma dan kualitas aksi dari Keanu Reeves; sinematografi dan desain produksi yang sangat indah, mengkilap, megah dengan permainan cahaya terang-gelap dan kaya akan warna neon; performa koreografi beladiri silat dari Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang sudah tidak perlu kita ragukan ini membuat tentu saja John Wick: Chapter 3 – Parabellum tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Review Film John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019) - Keanu Reeves Melawan Para Pembunuh Bayaran di Seluruh Dunia!
7.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0