Prisia Nasution adalah salah satu aktris yang terbilang pemilih dalam mengambil proyek film. Peraih Piala Citra Aktris Terbaik FFI lewat film Sang Penari ini bahkan tidak pernah bermain dalam film horor. Adalah sutradara Hestu Saputra bersama produser Amrit Punjabi yang berhasil meyakinkan Pia, panggilan akrab Prisia, untuk bermain sebagai aktris utama dalam film horor thriller berjudul Lorong produksi Multivision Pictures.

Selain Prisia Nasution, film yang hampir 90% durasi film memakai setting di dalam rumah sakit ini juga dibintangi oleh Winky Wiryawan, Nova Eliza, Rifnu Wikana, Josephine Firmstone, Ade Firman Hakim dan aktor pendukung lainnya. Film Lorong dijadwalkan rilis di bioskop Indonesia mulai tanggal 12 September 2019.film LorongSinopsis

Mayang (Prisia Nasution) harus menerima kenyataan pahit seusai persalinan di rumah sakit. Bayi hasil pernikahannya dengan Reza (Winky Wiryawan) dinyatakan meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan pada saat Mayang masih di dalam pengaruh bius dokter. Di tengah kekalutan dan rasa tidak percaya, berbagai penampakan hantu di sekitar rumah sakit mengganggu dan memperingatkan Mayang bahwa anaknya masih hidup.

Loading...

Mayang pun mulai mencari keliling rumah sakit dan merepotkan suaminya, dokter kandungannya (Nova Eliza) bahkan sampai ke cleaning service merangkap pencuri uang pasien, Darmo (Rifnu Wikana). Di tengah kejaran para staf rumah sakit, Mayang ternyata berhasil meminta pertolongan polisi lewat telepon.

Alasan efek setelah melahirkan dan rasa trauma Mayang diberikan oleh rumah sakit kepada petugas Polisi yang menyelidiki laporan tersebut (Ade Firman Hakim). Polisi pun meminta rumah sakit untuk mengawasi Mayang lebih ketat lagi.  Saat kamar perawatannya di kunci, tekanan dari hantu yang memperingatkan Mayang makin hebat. Mayang pun semakin yakin bahwa anaknya masih hidup dan kembali mencarinya dengan segala daya upaya.film Lorong

Review

Kehebatan akting Prisia Nasution yang sudah malang melintang di industri perfilman Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Ia mampu menanggung beban film ini sendirian sepanjang durasi film. Karakter Mayang yang Pia mainkan sedemikian mendominasi dan diperankan dengan maksimal oleh Pia. Melalui aktingnya, Pia mampu menyampaikan kesan depresi, capek, sakit paska melahirkan serta kebingungan pada penontonnya. Meskipun adegan-adegannya repetitif saat Mayang berusaha berkeliling rumah sakit mencari bayinya, namun pengulangan akting tidak terasa dilakukan oleh Pia.

Sutradara Hestu Saputra (Pengejar Angin, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar) sudah mencoba mengakali dengan membedakan adegan kucing-kucingan dengan bantuan darah di jahitan bekas operasi, suasana hujan, dll. Namun rasa bosan penonton menyaksikan susah payahnya Mayang sembunyi-sembunyi sangat potensial bisa terjadi.

film Lorong

Itulah yang penulis alami saat menonton film ini. Film terlampau serius dan melupakan sisipan-sisipan drama ataupun komedi di tengah film untuk menghindari kelelahan penonton akibat pace yang serupa di tiap babaknya. Baru di perempat akhir, film terasa naik intensitasnya, terutama saat twist film mulai terbuka yang ditandai dengan momen komedi yang dilakukan oleh karakter Darmo.

Hestu yang baru pertama kali menyutradarai film horor terasa kesulitan menjaga pace film. Jumpscare yang dihadirkan pun tidak maksimal akibat gaya old school pada set up horornya (penampakan jari setan menggaruk tirai dan lampu kedap-kedip contohnya.. ) dan klimaks jumpscarenya. Film horor ini jadi terasa kuno dalam penggarapan teknisnya.

Sementara itu, sinematografi dan sisi artistik film tidak meningkatkan production value film ini karena gambarnya minim beauty shot dan cenderung menampilkan gambar yang padat untuk mendukung sisi depresi film. Tetapi menurut hemat saya, gambar yang kebanyakan diambil indoor dalam rumah sakit ini sepertinya disengaja untuk digunakan menambah rasa frustrasi penonton agar bisa lebih memahami dan berempati dengan apa yang Mayang alami sepanjang film. Sebuah langkah yang cukup beresiko tapi efektif mempengaruhi penonton.

film Lorong

Sisi akting selain Pia, tidak ada lagi yang bermain istimewa selain Gesata Stella yang memiliki aura suster jahat yang baik meski minim dialog. Winky Wiryawan (Jelangkung, Rasa) menjadi penampil yang paling lemah di film ini, aktingnya di klimaks terasa berlebihan dan terlihat dibuat-buat. Nova Eliza (Kafir, Susahnya Jadi Perawan) , Ade Firman Hakim (Sabyan: Menjemput Mimpi) dan Josephine Firmstone (Matt & Mou).

Naskah karya Andy Oesman berdasarkan cerita Hestu Saputra cukup baik bermain di ranah thriller psikologis dengan sedikit sentuhan horor supernatural khas film Indonesia. Meski agak repetitif mengalirkan plot menuju klimaks dengan jumpscare yang old school serta memakai konsep sederhana soal hantu yang memperingatkan manusia, naskah film yang disyuting sejak tahun 2017 ini sebenarnya mampu memberikan klimaks yang cukup memuaskan berdasarkan teka-teki misteri yang ditawarkan dari awal film. Hanya saja latar belakang akan apa yang terjadi di akhir film dijelaskan secara tiba-tiba akibat tidak jelasnya planting petunjuk-petunjuk di awal film.film LorongKesimpulan Akhir

Film Lorong terasa konvensional dan old school dari sisi produksi dan cara menakuti serta memiliki naskah yang bermain aman. Walaupun begitu, film ini mampu memaksimalkan akting Prisia Nasution sebagai seorang ibu di masa nifas yang depresi karena kehilangan anaknya. Repetitif dalam meraih empati penonton dan kurang didukung kualitas akting seimbang dari para aktor pendukung, akhirnya film Lorong hanya sekadar menjadi film horor thriller yang cenderung mengecewakan jika ditonton dengan ekspektasi lebih. Tidak terlalu seram dan cenderung bermain aman dengan akhir film bergaya horor Indonesia kekinian.

Note: Scroll / gulir ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Lorong (2019) – Horror Thriller Konvensional Dengan Akting Prisia Nasution Yang Menawan
6Overall Score
Reader Rating 4 Votes
7.8