54 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1964, rilislah sebuah film musikal fantasi berjudul Mary Poppins. Film ini merupakan film satu-satunya yang mendapatkan nominasi Best Picture pada masa itu untuk filmnya Walt Disney.

Sekuelnya sendiri sudah sempat direncanakan langsung setelah kesuksesan yang gilang gemilang itu, tetapi sayangnya ditolak oleh penulis novelnya P.L. Travers. Baru pada tahun 2015 proyek sekuelnya benar-benar dijalankan.

Mary Poppins Returns tayang reguler mulai hari ini, 25 Desember 2018 di bioskop-bioskop Indonesia. Movieden.net sendiri berkesempatan untuk menyaksikan terlebih dahulu screening film ini yang diselenggarakan oleh CGV Cinemas yang bertempat di CGV Grand Indonesia.

Mary Poppins Returns mengambil latar 25 tahun setelah peristiwa pada film pertama. Pada tahun 1935, Michael Banks yang telah dewasa dikaruniai oleh 3 orang anak yang masih belia yaitu John (Nathaneael Saleh), Annabel (Pixie Davies) dan Georgie (Joel Dawson). Michael dilanda kesulitan keuangan yang dikarenakan juga masa depresi ekonomi di Inggris pada waktu itu. Michael dihadapi oleh tunggakan utang yang telah menggunung, dalam beberapa hari pihak bank akan menyita rumahnya itu.

Michael dan adiknya Jane (Emily Mortimer) teringat kalau ayahnya mempunyai saham di bank tersebut dan mereka berusaha mencari bukti kepemilikan saham itu. Semakin Michael sibuk dengan urusannya, semakin itu pula anak-anaknya tidak terurus dan Michael semakin emosional. Tiba-tiba seperti pada film dahulunya, Mary Poppins (Emily Blunt) turun dari langit. Mary Poppins kemudian mengasuh anak-anak Michael sedari membantu Michael juga dalam mencari jalan keluar.

Sutradara film musikal tersohor Rob Marshall dipercaya untuk menukangi Mary Poppins Returns. Dia setia kepada film pertamanya dengan banyak memasukan unsur-unsur filmnya seperti rumah keluarga Banks yang dibuat serupa, Admiral Boom dan asistennya Binnacle yang selalu mendentumkan meriam sebagai penanda waktu, penyatuan unsur animasi klasik 2D khas Disney dengan live-action hingga yang terpenting adalah berbagai adegan lagu dan pertunjukan musikal yang sungguh bergaya old-fashioned dan bernuansa sangat nostalgik.

Jika dahulu kita disuguhi berbagai lagu yang sangat catchy, memorable dan klasik dengan berbagai koreografi yang jempolan seperti “A Spoonful of Sugar”, “Supercalifragilisticexpialidocious” dan “Chim chiminey”. Kali ini agaknya lagu-lagunya kurang dapat menyamai ketiga lagu itu. Hanya lagu “Trip a Little Light Fantastic” saja yang bisa dikatakan benar-benar bagus. Namun begitu dengan set yang megah, sinematografi warna-warni pastelnya dan staging yang ciamik tentu dapat memukau penonton dengan visualnya itu.

Penampilan memikat diperlihatkan oleh Emily Blunt sebagai Mary Poppins. Dia tentu dibayang-bayangi oleh Julie Andrews yang dahulu mendapatkan Oscar atas perannya sebagai Mary Poppins di film tahun 1964 itu. Emily Blunt bisa keluar dan tidak berusaha mengimitasi Julie Andrews. Dia memperlihatkan sosok yang lebih serius dan terkadang sarkastik. Emily Blunt juga memperlihatkan keanggunannya, kepercayaan diri, kharisma sekaligus kelincahannya dalam berbagai sekuen musikal. Dia dengan pas dan cocok berduet bersama Lin-Manuel Miranda sebagai Jack seorang penjaga lampu. Jack di sini seperti halnya sosok Bert di film originalnya itu. Lin-Manuel Miranda bersama Emily Blunt mampu memancarkan senyuman, harapan dan energi-energi positif sehingga mampu membuat ketiga anak-anak itu kembali bangkit dari keterpurukan, jangan menyerah dan teap memiliki harapan dalam berbagai masalah yang diibaratkan dalam lagu “Trip a Little Light Fantastic”. Selain penampilan memikat dari mereka berdua, penampilan yang apik juga diperlihatkan oleh aktris langganan Oscar, Meryl Streep sebagai Topsy yang eksentrik dengan aksen Eropa Timur nya itu dan Colin Firth sebagai tokoh antagonis William “Weatherall” Wilkins sebagai pemimpin bank. Tidak lupa juga supaya menampilkan kesan nostalgik adalah peran cameo Dick Van Dyke yang dulunya berperan sebagai Bert.

Mary Poppins pada masa itu mempengaruhi sisi visual effect untuk dunia film untuk selamanya. Dimulai dari George Melies sang kreator awal visual effect dalam dunia perfilman dengan double exposure, kemudian dilanjutkan teknologi blue screen yang dikembangkan oleh Lawrence ButlerPetro Vlahos pada film Mary Poppins,  memperkenalkan teknologi terbaru yaitu menggunakan warna kuning lampu neon yang dinamakan teknologi sodium vapor matte untuk menciptakan gabungan live-action dengan animasi hand-drawn selama lebih dari 16 menit yang seperti tampak nyata, bukan tempelan seperti pada teknologi-teknlogi sebelumnya. Pada Mary Poppins Returns masih tetap menggabungkan live-action dengan animasi gambar tangan saat Mary Poppins, Jack dan ketiga anak-anak itu masuk kedalam dunia keramik yang sungguh penuh dengan warna-warni pastel yang mencolok mata. Sampai puncaknya ketika dengan teknologi CGI canggih yang sangat halus dan seperti menyatu saat Mary Poppins dan Jack beraksi di Royal Doulton Music Hall.

Ada beberapa hal negatif dalam Mary Poppins Returns. Seperti halnya pada awal-awal film terasa cukup draggy, sehingga menjadi membosankan. Lalu, terdapat sedikit masalah dalam storytelling sehingga terkesan seperti sebuah sajian beberapa pertunjukan musikal yang dikaitkan menjadi satu. Kemudian lagi sosok Jack yang kurang masuk ke dalam cerita, dia seperti tiba-tiba muncul saja dan juga hubungan asmara Jack dengan Jane kurang terasa.

Kesimpulan Akhir:

Tidak sebagus film klasiknya dahulu memang, namun tentu Mary Poppins Returns masih memancarkan magisnya berkat akting memikat dari Emily Blunt, visual memukau penuh warna, kehangatan sebuah keluarga, hingga deretan sekuen musikal yang sungguh nostalgik.

Review Film Mary Poppins Returns (2018) - Bernostalgia Bersama Deretan Lagu dan Pertunjukan Musikal Klasik
7.5Overall Score
Reader Rating 2 Votes
8.5