Menyebut nama Roland Emmerich tidak bisa dilepaskan dari image dan khas film-film Hollywood berskala epik yang pernah ia tangani semacam franchise Independence Day, Godzilla (1998), The Day After Tomorrow dan 2012. Mengangkat kisah Perang Dunia II yang melibatkan negara Amerika Serikat dan Jepang dan berkaitan dengan peristiwa bersejarah Pearl Harbor, Emmerich menggarap film berjudul Midway yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 8 November 2019.

Sinopsis

Pagi tanggal 7 Desember 1941 armada pesawat Jepang secara tiba-tiba menyerbu dan meluluhlantakkan pangkalan militer angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor. Serangan yang diinisasi Laksamana Nagumo (Jun Kunimura) ini sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh salah seorang agen intelejen Edwin Layton (Patrick Wilson) yang selalu diragukan informasi intelnya.

Demi mempertahankan kedaulatan negara sambil berstrategi untuk membalas serangan Jepang, Presiden AS mengutus  Laksamana Chester W. Nimitz (Woody Harrelson) untuk mengorganisasi misi tersebut. Termasuk di antaranya memperkuat intelejen, kekuatan angkatan darat, laut serta angkatan udara, termasuk skuad pesawat pengebom yang dipimpin oleh Wade McClusky (Luke Evans) yang membawahi dua penerbang nekad Eugene Lyndsey (Darren Criss) dan Richard ‘Dick’ Best (Ed Skrein). Skuad pengebom inilah yang menentukan hasil 4 hari Perang Midway yang berpengaruh signifikan dalam Perang Dunia II.

Loading...

film Midway

Ulasan

Roland Emmerich menggarap film ini dari berbagai sudut pandang karakter. Memanfaatkan ensemble cast para aktor ternama dalam barisan pemainnya, Emmerich terasa mencoba ‘mengakali’ film yang sejatinya lebih cocok dipresentasikan dalam adegan peperangan berskala epik yang menjadi ciri khasnya dipadukan dengan lika-liku strategi peperangan dari dua sudut pandang Amerika Serikat dan Jepang.

Hasilnya sangat kentara, dalam 2 jam 18 menit durasinya Emmerich kesulitan untuk membangun narasi strategi perang yang melibatkan banyak tokoh. Terlalu banyak yang ingin diceritakan dalam film ini, dari sisi agen intelejen, para jenderal peracik strategi, penerbang pesawat tempur, tentara yang menyelusup ke Cina, istri penerbang pesawat tempur, dan lain-lain. Akibatnya film berjalan bertele-tele, apalagi eksekusi adegan di darat tersebut menggunakan treatment layaknya serial TV dengan gambar padat dan berisi dialog yang kurang menarik.

film Midway

Berbeda halnya dengan adegan di laut dan udara saat peperangan terjadi. Emmerich memamerkan skill-nya di sini. Adegan pesawat tempur yang bertarung meliuk-liuk menghindari peluru untuk menjatuhkan bom benar-benar memanjakan mata dan seru.  Dengan bujet hanya 59,5 juta dollar sepertinya memang Emmerich sangat memaksimalkannya untuk adegan-adegan perang yang epik ini.

Secara teknis adegan perang di udara adalah yang paling menonjol, departemen spesial efek CGI adalah yang patut diberi kredit lebih. Di luar itu mungkin sinematografi Robby Baumgartner yang memaksimalkan pengalaman sebagai kru dalam film Battleship saat adegan perang dan penyuntingan yang juga patut diapresiasi. Sementara kelemahan paling kentara adalah di tata suara, terutama dari sisi dubbing yang tidak terdengar baik dan terlalu ‘clean‘. Untuk suara ledakan bom, desingan peluru atau suara lainnya tidak masalah.

Sisi naskah yang ditulis Wes Tooke (serial Colony) adalah yang menjadi paling lemah dalam film, segudang sudut pandang dan karakter menjadikan film seperti berputar-putar di tempat saja. Penambahan sudut pandang negara Jepang juga terkesan tempelan yang diniatkan untuk memberikan dimensi pada tentara Jepang, namun tidak proporsional dan kurang greget. Tapi penulisan etos budaya Jepang yang pantang menyerah sangat ditampilkan di film ini.

film Midway

Segudang karakter dalam film ini juga berimbas pada tidak diceritakan lengkapnya kisah salah seorang karakter yang menyusup ke Cina. Karakter James Doolittle (Aaron Eckhart) yang sebenarnya memiliki peran penting dalam perang pasifik tersebut diceritakan dengan ceroboh dan mubazir. Belum lagi kegagalan pembangunan emosi antara pekerjaan dengan rumah tangga untuk karakter Layton, Best dengan istri masing-masing.

Keputusan mengambil berbagai sudut pandang dengan berbagai karakter berpotensi besar membuat penonton bingung dan menjadikan film berjalan membosankan. Apalagi film ini bisa dibilang tidak memiliki kejutan karena berdasarkan dari kisah nyata. Tapi film ini sepertinya akan memanjakan para penyuka film perang berlatarkan sejarah.

Departemen akting mendapat efek negatif dari naskah film ini, para aktor dalam film terasa tidak dapat memaksimalkan kualitas aktingnya akibat minimnya screentime atau momen-momen dramatis untuk menunjukkan aktingnya. Ed Skrein (Deadpool, Game of Thrones) selaku pemegang screentime terbanyak mungkin layak diberikan kredit lebih bersama dengan Patrick Wilson (The Conjuring, Aquaman). Sisanya tidak ada yang menonjol, bahkan Aaron Eckhart (The Dark Knight, Erin Brockovich) menjadi yang paling kurang beruntung dalam barisan cast berbakat ini.

film Midway

Nama-nama ternama dalam sosok Dennis Quaid (Frequency), Woody Harrelson (Zombieland, Three Billboards Outside Ebbing Missouri), Luke Evans (Dracula Untold, Fast & Furious 6), Tadanobu Asano (Battleship, Thor) Darren Criss (serial Glee), Nick Jonas (Jumanji: Welcome To The Jungle) dan Mandy Moore (A Walk To Remember) terasa mubazir untuk dihadirkan dalam film ini.

Satu hal yang menarik adalah diselipkannya sebuah momen yang unik saat awal pertempuran di Midway, yaitu menampilkan sosok sutradara legendaris John Ford (Geoffrey Blake) di tengah lokasi syuting dan ikut terluka karena serangan pesawat tempur Jepang. Hasil syuting di sana kemudian menjadi bagian dari film dokumenter pendek karya John Ford yang berjudul The Battle of Midway.

film Midway

Kesimpulan Akhir

Meski pembangunan narasinya terasa berputar-putar serta memiliki terlalu banyak karakter dan sudut pandang, Midway memiliki beragam pertempuran pesawat tempur yang digarap dengan apik oleh sutradara berpengalaman, Roland Emmerich (Independence Day, 2012) yang berpotensi memanjakan para penyuka film perang yang berlatarkan sejarah Perang Pasifik antara Amerika Serikat dan Jepang yang berpengaruh signifikan pada hasil Perang Dunia II.

Note: Scroll/gulir ke bawah untuk melihat rating penilaian film

Loading...

Review Film Midway (2019) - Film Aksi Perang Pesawat Tempur Yang Apik Dengan Narasi Ruwet
6Overall Score
Reader Rating 1 Vote
5.6