Sejak merilis film penutup trilogi The Hobbit tahun 2014 silam, kita tidak mendengar lagi nama Peter Jackson di jajaran film Hollywood terbaru. Dalam kurun waktu 4 tahun tersebut, sutradara yang terkenal dengan trilogi epik The Lord of The Rings tersebut hanya memproduksi satu film dokumenter tentang veteran perang berjudul They Shall Not Grow Old.

Kini, Peter Jackson kembali lagi dengan membawa sebuah film petualangan terbarunya berjudul Mortal Engines. Diangkat dari kuartet novel karangan Phillip Reeve, Mortal Engines menyajikan cerita post apocalyptic dengan pendekatan berbeda dan diisi dengan berbagai kritik sosial.

Namun kali ini, Peter Jackson hanya bertanggung jawab sebagai produser dan penulis naskah. Sementara kursi sutradara jatuh ke tangan Christian Rivers yang sebelumnya merupakan kru langganan Peter Jackson yang bertanggung jawab di departemen Art dan Visual Effect pada trilogi Lord of The Rings dan The Hobbit.

Sinopsis

3000 tahun setelah punahnya berbagai peradaban manusia di seluruh dunia karena sebuah tragedi perang 60 menit, para penyintas yang tersisa membangun kembali kota-kota untuk mereka tinggali. Kota yang memiliki roda dan mesin penggerak, yang juga bisa saling memangsa untuk merebut sumber daya di dalamnya.

Adalah Thaddeus Valentine (Hugo Weaving), seorang arkeolog kota London dan pemimpin penyerbuan terhadap kota-kota kecil, mendapatkan sasaran utamanya berupa kota kecil yang memiliki garam, batu bara dan aneka sumber daya lainnya. Kesuksesan memangsa kota tersebut ternyata justru mendatangkan masalah baru bagi Thaddeus. Hester Shaw(Hera Hilmar) yang ada di dalam kota kecil tersebut yang ternyata memiliki luka masa silam akibat perbuatan Thaddeus terhadap orangtuanya, bersiap untuk melawannya.

Di sisi lain, Katherine Valentine (Leila George) bersama Tom Natsworthy (Robert Sheehan) mengetahui sebuah rahasia gelap yang selama ini dilakukan Thaddeus, ayahnya. Bersama-sama mereka pun melalui petualangan demi petualangan untuk menyelamatkan kota kecil lainnya dari si kota pemangsa raksasa London yang digerakkan Thaddeus.

Salah Satu Film dengan Visual Effect Terbaik

Tak bisa dipungkiri, Mortal Engines menjadi salah satu film dengan visual effect terbaik tahun ini. Penggambaran kota-kota pemangsa yang berukuran raksasa mampu ditampilkan dengan detail yang mengagumkan. Gambaran kota London masa depan juga mengagumkan lengkap dengan box telepon umum berwarna merah dan stasiun bawah tanah Tottenham yang ikonik.

Layaknya penggambaran Middle Earth di seri LOTR yang menakjubkan atau megahnya pulau purba Skull Island di reka ulang film klasik King Kong, sekali lagi Peter Jackson berhasil memaksimalkan visinya menampilkan deretan kota bergerak di film Mortal Engines ini. Tak hanya di daratan, kota-kota yang bergerak di tengah laut hingga kota di tengah gumpalan awan pun benar-benar membuat kita seperti berada di sebuah negeri fantasi yang menakjubkan. Singkatnya, film ini menawarkan gabungan visualisasi khas Mad Max dan petualangan seru khas Avatar.

Tak hanya itu, adegan pembuka film ini yang berupa adegan kejar-kejaran antara si kota raksasa London dengan kota kecil juga menjadi adegan pembuka yang menakjubkan. CGI nya sangat halus dan mendekati sempurna. Bayangkan adegan kejar-kejaran ala Fast Furious, namun ini dilakukan oleh sebuah kota. Epik bukan?

Distopia Kota dengan Kritik Sosial di Dalamnya

Layaknya film bertema post-apocalyptic atau cyberpunk lainnya,  Mortal Engines tetap menawarkan sebuah penggambaran kota masa depan yang tidak nyaman untuk ditempati. Kota yang selalu menghadirkan kekhawatiran bagi penduduknya akan bahaya kota pemangsa yang lebih besar. Kota dimana yang lemah makin lemah, sementara yang kuat makin berkuasa dan tidak terkendali.

Seperti narasi yang dibawa pada Mad Max, Blade Runner, ataupun City of Ember, Mortal Engines tetap memberikan kisah perjuangan si lemah dalam mencari keadilan. Tak hanya itu, kota London dalam Mortal Engines juga menggambarkan sebuah negara adidaya yang hanya mementingkan kekuasaan untuk terus bertambah besar serta mengutamakan kebutuhan akan sumber daya negaranya tanpa memikirkan eksistensi negara lain yang lebih lemah dan kecil.

Tak hanya itu, gambaran sebuah negeri besar nan makmur di sebelah timur yang menjadi incaran si raksasa London juga seakan menggambarkan realita dunia saat ini. Dimana negara-negara timur kerap ditindas dan dimanfaatkan sumber dayanya semata oleh negara barat.

Deretan Aktor Muda dan Senior yang Memukau

Film ini juga menghadirkan deretan aktor dan aktris muda berbakat seperti Robert Sheehan (Bad Samaritan, Geostorm) dan Hera Hilmar (Anna Karenina, Ottoman Liutenant) dan beradu akting dengan aktor senior seperti Hugo Weaving (Trilogi Lord of The Rings, Trilogi The Matrix) dan Stephen Lang (Don’t Breathe, Avatar) yang tampil full CGI.

Namun dari semuanya yang paling mencuri perhatian adalah karakter yang diperankan Hugo Weaving. Hugo mampu memainkan peran Thaddeus yang jahat serta ambisius namun juga di sisi lain dipandang sebagai pahlawan oleh warga kotanya berkat beragam penemuannya untuk kemajuan kota.

Tak lupa, Hera Hilmar juga tampil memukau sebagai pemeran utama film ini. Penggambaran sebagai seorang wanita pemberani yang akan melakukan hal apapun untuk membalaskan dendam masa lalunya, mampu ditampilkan dengan penggambaran yang apik dan tidak berlebihan.

Poin Negatif

Meskipun diangkat dari novel best seller yang mendapat banyak penghargaan, film ini sejatinya kembali mengangkat sebuah tema yang cukup membosankan. Gambaran distopia dunia masa depan nyatanya sudah terlalu banyak digambarkan di berbagai film. Jadi, meskipun menggunakan latar kota bergerak yang berbeda, sejatinya film ini tidak menghasilkan sebuah cerita yang benar-benar segar.

Pun banyaknya karakter yang diperkenalkan cenderung membuat film ini tidak fokus di pengembangan beberapa karakter yang sejatinya cukup penting. Namun mungkin itu merupakan salah satu trik sutradara untuk menggarap potensi sekuel di masa depan.

Selain itu, sederhananya konflik yang terjadi menyebabkan film ini nampak tidak memiliki sebuah titik balik yang cukup untuk menciptakan adegan pamungkas yang spesial. Tidak buruk memang, bahkan bisa dibilang tetap seru. Hanya saja rasanya akhir kisahnya rasanya kurang greget untuk ukuran film yang sudah menyajikan sajian epik sejak awal.

Penutup

Mortal Engines dan kritik sosial dalam distopia kota pemangsanya memang tidak menyajikan sesuatu yang segar dari sisi cerita. Perebutan kekuasaan antara bangsa kuat dan lemah, pembalasan dendam masa lalu, hingga petualangan di dunia masa depan yang kaya unsur fantasi, jelas sudah lebih dulu digambarkan di berbagai film post-apocalyptic lainnya. Namun dari sisi visual dan intensitas ketegangan serta aksi yang memukau, film ini masih menyajikannya dengan baik.

Film ini juga masih menyajikan pertempuran epik khas Peter Jackson meskipun memang tidak semegah LOTR ataupun seperti pertempuran terakhir King Kong yang menguras emosi. Datarnya konflik yang terjadi menyebabkan adegan pertempuran tampak biasa meskipun sajian visualnya luar biasa.

Namun begitu, film ini tetap bisa menjadi alternatif tontonan di minggu ini sebelum serangan Aquaman dan film keluarga seperti Bumblebee dan Marry Poppins memenuhi layar bioskop. Apalagi bagi para penggemar setia Peter Jackson, nampaknya wajib menonton film ini.

Mortal Engines tayang di Indonesia seminggu lebih cepat dari Amerika, tepatnya di hari ini, 5 Desember 2018.

Review Film Mortal Engines (2018) - Kritik Sosial dalam Distopia Kota Pemangsa
7Overall Score
Reader Rating 2 Votes
9.0