Menceritakan ulang kisah sejarah dengan bumbu fiksi nampaknya bukan menjadi hal baru di industri film Hollywood. Abraham Lincoln: Vampire Hunter dan Inglorious Bastards sudah pernah melakukannya. Jika dalam Abraham Lincoln: Vampire Hunter menceritakan kisah alternatif Abraham Lincoln yang di masa mudanya ternyata seorang pemburu vampir, maka dalam Inglorious Bastards menceritakan kisah lain pembunuhan Hitler dalam balutan dark comedy yang kental.

Di Indonesia pun sebenarnya pernah ada konsep film berlatar belakang sejarah seperti dua film tersebut. Ya, film Rengasdengklok yang merupakan film pendek dalam omnibus Fantastic Indonesian Short Film Competition (Fisfic vol.1) di tahun 2008 silam pernah membuat konsep senada meskipun dengan eksekusi seadanya. Menceritakan serangan zombi di tengah penculikan Soekarno di Rengasdengklok yang akhirnya memaksa Soekarno mengeluarkan kemampuannya dalam membabat zombi. Sayang, premis yang menarik dan nyeleneh ini tidak pernah dibuat feature film pada akhirnya.

Di tahun ini pun kembali kita disuguhi kisah alternatif berdasarkan sejarah lainnya dalam film Overlord. Film ini pada awalnya disebut-sebut sebagai film dalam semesta Cloverfield, namun pada akhirnya dibantah oleh sang produser J.J.Abrams yang mengatakan bahwa film ini berdiri sendiri.

Disutradarai oleh Julius Avery yang sebelumnya terkenal lewat film Son of A Gun dan film pendek Jerrycan yang mendapat banyak penghargaan Internasional, Overlord menghadirkan sisi lain perang D-Day di Normandia yang dikenal juga dengan kata sandi Operation Overlord.

Sinopsis

Di malam pertempuran D-Day, pasukan penerjun payung Amerika diturunkan di wilayah musuh guna menyelesaikan misinya menghancurkan menara milik Nazi. Menara harus dihancurkan agar pesawat dan bantuan pasukan lainnya bisa masuk ke dalam wilayah musuh dengan mudah.

Boyce (Jovan Adepo), Ford (Wyatt Russel) dan tiga pasukan lainnya yang tersisa pada akhirnya harus menyusun rencana terbaik mereka agar tetap bisa menyelesaikan misi. Pertemuan mereka dengan Chloe (Mathilde Ollivier) pada akhirnya membuka fakta baru dan rentetan kejadian yang menuntun mereka ke dalam menara Nazi.

Di dalam perjalanannya, pada akhirnya mereka menemui sesuatu yang janggal di dalam menara tersebut. Sesuatu yang mistis, kuat dan berbahaya bagi siapapun yang memanfaatkannya.

Kisah Film Layaknya Video Game

Menyaksikan Overlord mengingatkan saya akan pertempuran melawan monster atau zombie ala video game.Sajian aksi yang intens sudah ditampilkan sejak awal dan konsisten hingga akhir film. Munculnya villain utama juga nampak seperti boss yang harus dihadapi pada sebuah misi final di dalam game.

Pun pertempuran di dalam menara dan di jalanan Eropa klasik mengingatkan pada game semisal Wolfenstein dan versi downloadable content dari serial game Call of Duty.

Menghabisi Nazi dengan Fantasi ala Amerika

Tidak bisa dipungkiri, Overlord nampak menjadi sarana fantasi Amerika dalam hal membabat habis Nazi yang menjadi mesin propaganda perang terbesar dalam sejarah. Inglorious Bastards sudah melakukannya kala membuat plot nyeleneh perihal kematian Hitler yang ternyata ada di tangan seorang letnan Amerika.

Kali ini Overlord menyajikan fantasi pada pertempuran D-Day. Pertempuran yang ternyata bukan hanya soal pertempuran antar manusia, namun juga pertempuran melawan pasukan super (yang bisa disebut juga sebagai zombie) hasil percobaan Nazi. Percobaan yang dilakukan untuk mewujudkan Thousand Year Reich ala Hitler yang fenomenal, yang sayangnya nampak kesulitan kala berhadapan dengan pasukan patriotik khas Amerika.

Jovan Adepo Mencuri Perhatian

Meskipun perannya di film ini nampak seperti Finn nya John Boyega pada saga Star Wars, namun tak bisa dipungkiri Jovan Adepo cukup mencuri perhatian di film ini. Perannya sebagai seorang prajurit yang baru 3 minggu direkrut dan langsung menghadapi perang besar di Normandia mampu ditampilkan dengan sangat baik. Ketakutan, kekhawatiran namun juga kepatuhannya terhadap perintah di satu sisi, menyebabkan karakternya mengalami dilema yang sangat besar.

Perkembangan karakternya pun cukup baik. Dari seorang yang tidak mau melakukan kekerasan hingga nuraninya tergerak melihat segala ketidakadilan yang terjadi.

Mathilde Ollivier juga sangat baik memerankan satu-satunya karakter wanita di film ini. Perannya sebagai Chloe yang tegar namun juga rapuh di satu sisi akibat seringnya mendapat pelecehan seksual dari Warner (Pilou Asbæk), mampu ditampilkan dengan cukup baik. Dan tak lupa,pada akhirnya dia ikut mengangkat senjata disini.

Pun peran Pilou Asbæk sebagai pasukan Nazi yang pada akhirnya menjadi penjahat utama di film ini cukup meyakinkan dan mengerikan. Penampilannya sebagai sosok penjahat yang licik mampu ditampilkan layaknya karakter penjahat pada video game. Motivasinya sebagai main villain pun masih masuk akal dan bukan serta merta ingin menguasai dunia.

Sinematografi Memikat

Overlord menyajikan sinematografi dan visual yang sungguh memikat. Adegan pembukanya bahkan bisa disebut salah satu adegan pembuka terbaik. Adegannya seakan tidak mengizinkan kita untuk bernafas sebentar kala menampilkan suasana mencekam yang terjadi di atas pesawat. Permainan palet warna yang dominan abu-abu dan merah dari flare serta beberapa ledakan, membuat adegan terjun payung terasa mengerikan namun juga artistik di satu sisi.

Pujian patut diberikan pada Laurie Rose dan Fabian Wagner yang mampu mewujudkan adegan tersebut. Mereka berdua juga sebelumnya dikenal sebagai sinematografer dalam penggarapan film seperti Justice League, Free Fire dan Game of Thrones.

Teknik pengambilan gambar di film ini pun cukup memukau. Pada beberapa adegan yang menghadirkan jump scare, permainan kamera spekulatifnya mampu membuat penonton merasa tidak nyaman sebelum benar-benar dikagetkan. Tidak banyak memang adegan jumpscare nya, tapi sekalinya muncul cukup efektif.

Pun suasana creepy di laboratorium dalam menara juga mampu disuguhkan dengan sangat baik. Bukan bermaksud spoiler, namun tampilan kepala wanita tanpa badan yang menangis karena sedang diuji coba di laboratorium tersebut, cukup membuat bulu kuduk berdiri. Belum lagi deretan visual efek khas zombie yang nampak meyakinkan dan mengerikan, semakin menambah kengerian film ini.

Scoring yang Memukau

Jed Kurzel yang sebelumnya dikenal dalam penggarapan musik untuk film Son of a Gun, Assassin’s Creed dan Macbeth, dipercaya untuk menggarap scoring pada film ini. Hasilnya cukup memuaskan.

Scoring pada adegan perang dan investigasi menara mampu ditampilkan dengan porsi yang sesuai. Pun efek suara pada adegan jumpscare cukup efektif membuat jantung berdebar. Permainan silent sound di beberapa adegan juga membuat beberapa adegan menjadi lebih mencekam dan dramatis. Scoring-nya juga membuat seakan kita menyaksikan film perang klasik yang megah.

Penutup

Pada akhirnya Overlord menyajikan kisah alternatif perang D-Day dalam balutan thriller ala zombie. Entah bahan percobaan Nazi di film ini lebih cocok disebut pasukan super atau pasukan zombie, yang pasti film ini menampilkan keseruan khas film aksi dengan latar perang dunia ke dua namun juga menampilkan kengerian khas film-film zombie. Sebagai film aksi perang, Overlord menyajikan kisah alternatif yang cukup seru dan menegangkan. Dan sebagai film zombie, Overlord menampilkan sosok zombie yang cukup revolusioner dan berbeda dari deretan film zombie yang sudah lebih dulu muncul.

Overlord menjadi tipikal film yang cukup seru untuk dinikmati di akhir pekan bagi siapapun yang menginginkan ketegangan dan keseruan di dalam satu film. Hanya saja, nampaknya film seperti Overlord ini akan dengan mudah dilupakan berkat ceritanya yang tidak terlalu dalam dan berkesan bagi siapapun yang menyaksikannya, meskipun harus diakui film ini memang menyajikan jalan cerita yang bisa dibilang cukup segar.

Overlord hanya ditampilkan layaknya wahana roller coaster yang seru dan mengerikan namun tidak menghasilkan after taste yang terus diingat setelah selesai melaluinya.

Pada akhirnya lewat film ini kita hanya diberi kesimpulan, bahwa siapapun yang berada di arena perang, siapapun yang haus berkuasa dan mengabaikan keadaan sekitarnya, dialah zombie sebenarnya yang harus dihentikan penyebarannya.

Overlord tayang mulai hari ini, 7 November 2018.

Review Film Overlord (2018) - Kisah Alternatif Perang D-Day dengan Bumbu Fantasi Zombie-Nazi
7.5Overall Score
Reader Rating 2 Votes
7.9