Review Film Parasite (Korea, 2019) - Film Tragicomedy Pemenang Cannes 2019 tentang Strata Sosial yang Sungguh Menohok
10Overall Score
Reader Rating 48 Votes
6.7

Parasite merupakan film Korea Selatan pertama yang mendapatkan penghargaan Palme d’Or (Penghargaan tertinggi) pada Festival Film Cannes 2019. Disutradarai oleh sutradara kenamaan dan sering juga disebut seorang auteur yaitu Bong Joon-ho, Parasite tayang hari ini dan besok di beberapa bioskop pilihan di CGV dan Cinemaxx, lalu tayang reguler pada Senin, 24 Juni 2019.

Sinopsis:

Kisah satu keluarga yang hidup di bawah jurang kemiskinan, keluarga ini terdiri dari seorang ayah bernama Ki-taek (Song Kang-ho), istrinya bernama Chung S0ok (Jang Hye-jin), anak lakinya bernama Ki-woo (Choi Woo-shik) dan anak perempuannya bernama Ki-jung (Park So-dam). Suatu hari Ki-woo mendapatkan pekerjaan sebagai guru les privat bahasa Inggris untuk anak perempuan dari keluarga Park yang kaya raya. Sejak Ki-jung masuk ke dalam rumah super mewah itu, serangkaian kejadian mengejutkan dimulai.

Loading...

Review:

Seperti style khas dari Bong Joon-ho, Parasite penuh dengan komedi gelap, tema yang membuat orang tidak nyaman dan perpindahan mood film yang terjadi secara tiba-tiba. Awal film berjalan penonton akan menduga ini akan menjadi sebuah film komedi ringan bertema con-artist, namun dari pertengahan hingga akhir genre film seakan berubah secara cepat dan tanpa peringatan apapun dengan berbagai kejadian-kejadian yang akan membuat penonton terhenyak, tegang dan melongo dibuatnya.

film korea parasite

Tidak seperti film-film Bong Joon-ho yang berbalut fiksi ilmiah lain seperti The Host, Okja, Snowpiercer kali ini yang menjadi monster adalah manusianya itu sendiri. Berbagai karakternya tidak ada yang dapat dikatakan protagonis maupun antagonis, tetapi abu-abu. Bagaimana terlihat orang-orang miskin menghalalkan berbagai cara untuk menjadi orang kaya kemudian lagi bagaimana seorang kaya berpandangan negatif dan merendahkan harkat dan derajat orang-orang yang tingkat ekonominya jauh di bawahnya. Terlihat juga orang-orang kaya yang kurang mampu dan terlihat sulit merawat anak mereka dan lagi melakukan pekerjaan rumah yang cukup simpel seperti mencuci piring.

Dahulu ada suatu cerita menarik yaitu orang kampung masuk ke sebuah kamar hotel dan dia tidak mengetahui cara menggunakan toilet duduk, sehingga akhirnya dia buang air di sungai dekat hotel. Begitulah kejadian yang nampak di film Parasite, orang-orang miskin seakan terkaget melihat kecanggihan rumah keluarga kaya, bahkan ada suatu kejadian lucu saat salah satu karakternya memakan daging yang sesungguhnya diperuntukan oleh anjing. Ada statement penting lainnya yaitu apakah orang miskin layak untuk masuk ke dalam suasana yang elite karena sudah terbiasa dalam kondisi kemiskinan, sehingga menjadi tidak nyaman dalam suasana yang sedemikian glamornya itu.

Belum lama ini ada sebuah iklan di dalam kereta yang viral, bagaimana orang lain harus maklum dengan bau badan dari orang-orang di dalam kereta. Hal ini terdapat pula di Parasite, bagaimana orang kaya yang tidak pernah menaiki kendaraan umum, terlihat jijik terhadap bau khas dari pengguna komuter itu. Menjadi sebuah perdebatan, bau tersebut seharusnya diterima dan dimaklumi oleh orang lain atau seharusnya orang-orang yang bau tersebut harus menghilangkannya dengan pewangi.

Bong Joon-ho membuat film Parasite penuh dengan kritik sosial yang dirangkai secara subtil maupun keras dan apa adanya. Terlihat dengan jelas rumah keluarga kaya yang benar-benar diatas layaknya di bukit, kemudian rumah keluarga miskin itu terpisah dengan berbagai tangga-tangga yang seakan tidak ada habisnya sampai ke dasar, bahkan memang benar-benar di bantaran sungai. Ada sebuah momen subtil lainnya saat keluarga miskin memandang jendela dan yang dilihat hanyalah seorang pemabuk yang setiap hari kencing di dekat jendela rumahnya, keluarga kaya memandang jendela rumahnya dengan keindahan taman yang benar-benar hijau itu. Puncaknya adalah saat hujan deras, keluarga kaya aman dan tidak terusik dengannya, namun tentu tidak dengan keluarga miskin yang tinggal di dekat sungai itu. Menjelang akhir Bong Joon-ho seakan meluapkan “amarah”nya kepada ketidakadilan sosial di Korea Selatan, dia tidak lagi bermain dalam suasana subtil melainkan suasana yang benar-benar diungkapkan secara gamblang dan apa adanya.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak sering tertawa terbahak-bahak namun dalam film Parasite ini, saya beberapa kali tertawa lepas. Parasite menjadi sebuah film terlucu dari Bong Joon-ho, timing komedinya sungguh pas, komedi gelapnya tidak tanggung-tanggung dalam menertawakan sebuah ironi atau tragedi. Salah satu momen terlucu yaitu saat salah satu karakternya meniru gaya pembawa acara Korea Utara yang begitu ekspresif dan memuji dengan sangat Supreme Leader dari Korea Utara yaitu Kim Jong Un. Karena komedinya pula dan jalan ceritanya yang cenderung cukup mudah diikuti, tidak seperti film pemenang Festival Film Cannes lainnya yang cenderung berat dan membuat penontonnya harus berpikir keras, Parasite secara mengejutkan, cukup membuat penontonnya terhibur.

Kesimpulan Akhir:

Sangat lucu, menegangkan, mengejutkan dengan berbagai kritik sosial tentang strata sosial yang sungguh menohok dan tentu akan membuat penontonnya merenung. Bong Joon-ho memang benar-benar jenius dan gila! Dia sangat layak mendapatkan Palme d’Or di Festival Film Cannes 2019 yang merupakan penghargaan tertinggi di ajang festival film paling bergengsi itu. Jelas Parasite adalah salah satu film terbaik tahun ini!

Note: Scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film

Loading...