Posesif merupakan film (anti) romantis Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir
8Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0

Tahun ini berbagai film Indonesia remaja bergenre romantis telah rilis dan mendapatkan respon yang lumayan bagus, walau tidak ada yang menembus 1 juta penonton. Sebut saja Dear Nathan, Promise, One Fine Day dan Galih & Ratna. Secara kualitas hanya Galih & Ratna saja yang diatas rata-rata. Akhir Oktober ini telah ditayangkan film Posesif. Berbeda dari film-film lainnya, Posesif bukan drama remaja yang menampilkan indahnya percintaan. Melainkan lebih fokus pada hubungan percintaan yang destruktif dan abusif.

Lala (Putri Marino) merupakan seorang gadis SMA pada umumnya yang baru merasakan jatuh cinta pertama kali dengan Yudhis (Adipati Dolken), siswa baru di sekolahnya yang rupawan. Namun perjalanan cintanya berubah drastis karena sifat posesif dari Yudhis yang sangat berlebihan dan membuat hubungan ini kental dengan kekerasan yang dilakukan oleh Yudhis terhadap Lala. Lala juga dirundung masalah karena ayahnya yang memaksanya untuk terus menjadi atlit loncat indah seperti almarhum ibunya.

Ini Cinta Pertama Lala, Yudhis Ingin Selamanya. Begitulah tagline film yang tertulis jelas di posternya. Lala karena baru merasakan cinta pertama, tidak mengetahui bahwa hubungan yang sudah destruktif dan abusif ini seharusnya sudah tidak dipertahankan. Teman-temannya menganggap Lala masih bau kencur soal percintaan dan menganggap masalahnya hanya persoalan kecil.

1 2

Yudhis karena masa lalunya yang kelam ingin menjadikan Lala segala-galanya, pelampiasan dan satu-satunya orang yang dikasihinya. Sikap Yudhis menghalalkan segala cara untuk terus dapat bersama Lala, dia tidak segan-segan menggunakan kekerasan kepada teman Lala, sering mengecek handphone Lala, tidak mengizinkan Lala berteman dengan sahabat prianya bahkan seringpula Yudhis membentak, mengeluarkan kata-kata kasar dan memukul Lala. Disaat Lala tidak kuat menghadapinya dan menginginkan putus, sesaat itu pula menangis meminta maaf karena terbawa emosi. Siklus ini terus saja berulang dan dapat dikatakan menjadi Stockholm Syndrome. Stockholm Syndrome adalah sindrom dimana seseorang jatuh cinta terhadap penculik/sandera. Penculik/sandera ini dapat diibaratkan dengan Yudhis.

3 4

Judul “Posesif” sendiri tidak hanya dalam urusan pasangan saja, tetapi dalam hubungan orangtua dengan anaknya, bahkan hubungan antara peraturan sekolah dengan siswanya. Posesif menjadi film yang sangat relatable, realistis dan tidak menjual mimpi. Karakter-karakternya terasa dekat dengan kita. Cukup banyak dari kita pasti pernah mengalami atau menjumpai karakter Lala dan Yudhis. Begitu juga dengan kedua orangtua mereka yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya dengan memaksanya mengikuti kemauan mereka, walau yang diinginkan oleh orangtua belum tentu itu hal yang terbaik untuk anaknya.

5 6

Lala merupakan sosok remaja yang masih mencari jatidiri dan hanya mengikuti kata orangtua dan teman-temannya. Menginjak usia yang sudah 17 tahun, seharusnya Lala sudah cukup besar dan bisa memutuskan apa yang terbaik dalam hidupnya. Hal ini terlihat jelas saat loncat indah yang dilakukan oleh Lala hampir setiap harinya diibaratkan dengan loncatan keraguan dari Lala, dia tidak pernah merasa percaya diri dalam melakukannya. Ada adegan dimana Lala setelah meloncat dan terjun, dia larut di dalam kolam renang tersebut, ibaratnya Lala yang sedang tenggelam dalam kesedihan karena keputusannya itu.

Sebuah kejutan bahwa film Posesif menurut saya merupakan film terseram atau paling menegangkan Indonesia di tahun ini setelah Pengabdi Setan. Kisah perjumpaan Lala dan Yudhis yang manis dan cute itu di ruang guru dilanjutkan dengan hukuman yang unik yaitu kedua kaki mereka diikat oleh tali sepatu dan harus mengitari lapangan sekolah berkali-kali. Tiba-tiba tone film berubah saat Yudhis mulai posesif dan emosi, suasana muram dan temaram dengan scoring yang cukup menggetarkan menjadikan nuansa thriller-nya sangat kental.

Adipati Dolken yang berperan sebagai Yudhis memberikan penampilan terbaiknya sepanjang karirnya, bahkan dia menjadi yang terdepan untuk memenangkan Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia 2017. Sorotan matanya penuh kemarahan saat cemburu dan tangisan saat meminta maaf, terkadang sambil menyakiti dirinya sendiri sungguh sangat menjiwai. Putri Marino yang merupakan debut aktingnya sebagai Lala, juga dapat mengimbangi Adipati Dolken dalam berakting. Sayangnya mungkin Tatjana Saphira lah yang akan memenangkan Piala Citra.

Disutradarai oleh Edwin yang dulunya menghasilkan berbagai film arthouse yang melanglang buana di berbagai festival film seperti Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcards from Zoo. Edwin masih sanggup memberikan signature style-nya dengan shot-shot yang indah dipandang di film mainstream pertamanya ini. Ditulis naskahnya oleh Gina S. Noer (Hari Untuk Amanda, Habibie & Ainun, Ayat-Ayat Cinta), walau ada sedikit permasalahan, namun kekuatannya jelas di karakter Yudhis dan Lala yang cenderung abu-abu dan tidak hanya two-dimensional saja. Penonton tidak serta merta dapat men-judge salah satu dari tokoh ini adalah antagonis. Penyutradaraan dan naskahnya membuat chemistry Yudhis dan Lala sangat kuat, dunia seperti punya mereka. Hanya Yudhis yang dapat mengerti Lala, maupun sebaliknya.

Final Verdict:

Manis, menegangkan, menyentuh hati dengan penampilan terbaik dari kedua tokoh utamanya. Posesif merupakan film (anti) romantis Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir.