Sebagai salah satu tokoh superhero komik paling populer di dunia, tak heran jika Spider-Man kemudian diangkat ke berbagai versi serial televisi, film direct to dvd hingga film layar lebar. Untuk film layar lebarnya sendiri, bahkan sudah mengalami dua kali reboot setelah kemunculan perdananya di tahun 2002 silam yang digarap oleh Sam Raimi. Baik reboot versi Andrew Garfield maupun Tom Holland, keduanya mendapatkan review beragam baik dari kritikus, penonton reguler maupun fans garis keras. Namun rata-rata memang berpendapat bahwa Spider-Man versi live action sudah terlalu banyak versi sehingga diharapkan tidak ada versi lainnya lagi yang membawa narasi hampir sama.

Maka ketika diumumkan proyek film layar lebar Spider-Man terbaru yang digarap dalam bentuk animasi, banyak pihak yang sempat menyangsikan proyek ini namun tak sedikit juga yang antusias menyambut petualangan terbaru si manusia laba-laba tersebut. Pasalnya, proyek yang digagas Phil Lord dan Christopher Miller sejak tahun 2014 silam ini akan membawa kisah Spider-Man yang benar-benar baru dan segar. Kisah dimana karakter utama yang digunakan bukan lagi Peter Parker, melainkan remaja kulit hitam bernama Miles Morales yang diciptakan oleh Brian Michael Bendis dan Sarah Pichelli di tahun 2011 silam untuk kebutuhan babak baru semesta Ultimate Spider-Man.

Kisahnya pun kemudian diangkat dari serial komik Spider Verse yang dirilis tahun 2014 silam. Dimana inti utama ceritanya mengenai munculnya Spider-Man dalam berbagai versi dari berbagai semesta yang saling terhubung. Maka dari itu, kemunculan Spider-Man: Into The Spider Verse dianggap sebagai versi Spider-Man paling segar dan paling baik dari berbagai versi yang telah lebih dulu muncul.

Sinopsis

Miles Morales(Shameik Moore) merupakan seorang remaja kulit hitam yang cerdas sekaligus memiliki problematika kepercayaan diri layaknya remaja akil balig pada umumnya. Kedekatannya dengan paman Aaron(Mahersala Ali) membuatnya mendapatkan banyak pelajaran termasuk kesempatan untuk mengembangkan talentanya di bidang grafitti. Dimana hal tersebut pada akhirnya menyebabkan dirinya tidak sengaja tergigit oleh laba-laba radioaktif layaknya Peter Parker di masa silam.

Miles yang di kemudian hari menyadari ada efek yang membuatnya berbeda setelah tergigit laba-laba tersebut, pada akhirnya mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan pada tubuhnya. Sementara di tempat lain, suatu kejadian fatal yang disebabkan oleh Kingpin atau Wilson Fisk(Liev Schreiber) berhasil membuka portal multidimensi yang membawa banyak perubahan termasuk munculnya berbagai versi Spider-Man lainnya. Pun kematian Peter Parker(Chris Pine) pada suatu pertempuran, membuat Miles terpaksa harus menerima tanggung jawab sebagai Spider-Man baru.

Spider-Man baru yang bukan hanya menjadi pahlawan penyelamat kota, namun juga menjadi pahlawan atas keberlangsungan hidup dimensi lainnya.

Ide Cerita yang Segar, Unik dan Menghibur

Yang membuat Into The Spider Verse menjadi adaptasi kisah Spider-Man terbaik tak lain karena memiliki ide cerita yang segar, unik sekaligus menghibur. Into The Spider Verse mencoba jujur dalam menghadirkan kisah Spider-Man yang komikal dengan memasukkan berbagai versi ikoniknya.

Konsep multi semesta memang bukan hal baru di dunia komik superhero. Baik DC maupun Marvel memang memiliki konsep ini untuk mendukung berbagai versi alternatif dari kisah-kisah superhero mereka. Sehingga mereka tetap bisa berkreasi tanpa mencederai lini masa kisah utamanya. Hanya saja, konsep seperti ini memang cenderung sulit diaplikasikan ke dalam sebuah film karena berpotensi menimbulkan kebingungan khususnya di kalangan penonton awam.

Namun di film ini, dengan cerdasnya trio sutradara Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman meramu kisah multi semesta yang cukup rumit menjadi sebuah narasi yang mudah dicerna dan menyenangkan. Gaya penceritaan khas komik membuat siapapun yang menonton film ini akan mudah mengerti dan bisa menerima konsep Spider-Man lintas semesta meskipun belum pernah membaca komiknya sebelumnya.

Visualisasi Komik yang Mengagumkan

Hal lain yang menjadi poin utama sebuah film animasi tentu saja pada jenis animasi yang digunakan. Dan film ini menggunakan pendekatan animasi yang cukup segar yaitu dengan menggabungkan CGI modern dengan sentuhan grafis lawas khas komik. Bagi yang pernah bermain gim garapan Telltale Games atau menonton film animasi Netflix berjudul White Fang, pasti akan terbiasa dengan jenis animasi seperti ini. Hanya saja, Into The Spider Verse memang jauh lebih baik, halus dan mengagumkan.

Animasi di film ini bagaikan visualisasi hidup lembar demi lembar halaman buku komik. Bahkan di beberapa adegan yang melibatkan perkelahian atau ledakan, turut disertai bubble text seperti “Pow!”,”Booom”,”Ouch” dan sebagainya. Namun anehnya, hal-hal komikal yang ditampilkan seperti itu justru tidak terasa janggal melainkan cukup unik dan mengundang decak kagum.

Berkenalan dengan Spider-Man Lintas Semesta

Selain Miles Morales sebagai Spider-Man versi baru, sejatinya terdapat beberapa karakter Spider-Man lainnya yang turut berpetualang bersama. Mereka berasal dari berbagai semesta Spider-Man yang berbeda dimana kemudian disebut sebagai Spider Totems. Pada versi komiknya, Spider Totems ini berjalan di masing-masing semestanya tanpa mengganggu jalan cerita utama si Spider-Man versi Peter Parker maupun Miles Morales, namun di beberapa serial komiknya mereka bisa saling bertemu dan membentuk grup untuk melawan musuh yang cukup kuat.

Adapun Spider Totems yang turut ditampilkan di film ini meliputi Spider-Gwen(Hailee Steinfeld) yang berasal dari Earth-65 dan merupakan alter-ego dari Gwen Stacy. Dimana di semestanya, Gwen lah yang menjadi superhero sementara Peter Parker menjadi  manusia biasa.

Kemudian ada Spider-Noir(Nicholas Cage) yang merupakan alter-ego Peter Parker dengan pendekatan lebih gelap. Dimana Spider Noir ini hidup di tahun 1933 dengan Nazi sebagai musuh utamanya.

Spider-Ham atau Peter Porker (John Mulaney) yang merupakan parodi Spider-Man dalam bentuk hewan yang mirip seperti babi, juga turut ditampilkan di film ini. Spider-Ham yang merupakan karakter ciptaan Tom DeFalco dan Mark Armstrong ini, dikisahkan hidup dalam semesta antropomorfik yang sangat berbeda dengan semesta pada umumnya.

Yang terakhir merupakan karakter anime bernama Peni Parker(Kimiko Glenn) yang sepeninggal ayahnya kemudian menggantikan perjuangannya bersama robot laba-laba rakasasanya. Peni Parker berasal dari Earth-4.

Sebenarnya ada satu lagi Spider Totems yang ditampilkan. Hanya saja silakan saksikan sendiri di post credit scene-nya. Spider Totems tersebut nampaknya memang dipersiapkan untuk kemungkinan sekuel di masa depan.

Sebuah Film Superhero yang Jujur dan Setia pada Pakem Aslinya

Selain deretan pengisi suara yang luar biasa, musik latar yang menggugah serta visualisasi yang mengagumkan, hal lain yang membuat film ini menarik adalah ceritanya yang jujur dan dirindukan para penggemar superhero. Layaknya Aquaman yang beberapa waktu lalu menyita perhatian publik berkat kisahnya yang setia pada pakem komiknya, Into The Spider Verse pun juga melakukan hal yang sama. Sisi komikal film ini menjadi poin penting yang disampaikan dengan jujur tanpa harus mengorbankan kisahnya agar nampak membumi ataupun relevan dengan kondisi dunia nyata. Terkadang film superhero memang tidak perlu dibuat terlalu membumi agar esensi superhero komik yang tidak masuk akal dan melawan hukum alam tetap terjaga kelestariannya.

Penutup

Tidak berlebihan tentunya jika kemudian menyebut film ini sebagai film animasi terbaik tahun ini. Bahkan tak berlebihan juga bila menyebut film ini sebagai film superhero terbaik tahun ini.

Kisah komik yang disampaikan dengan jujur, ceria serta ditampilkan dalam suguhan visualisasi yang megah dan menyenangkan menyebabkan film ini tampil nyaris sempurna. Kisah multiverse yang disampaikan dengan narasi sederhana juga menjadi poin positif film ini.

Maka dari itu, film ini memang menghadirkan kembali pengalaman menyenangkan menonton film superhero yang memang sudah jarang kita rasakan akhir-akhir ini. Superhero yang akhir-akhir ini “dipaksa” tampil relevan justru membawa konsep superhero ke ranah yang lebih kelam dan mencekam dengan mengabaikan unsur fun dari kisah-kisah tak masuk akalnya itu sendiri.

Tontonlah dan rasakan petualangan seru Miles Morales dan Peter Parker dalam menyelamatkan eksistensi multiverse Spider-Man.

Spider-Man: Into The Spider Verse mulai tayang 14 Desember 2018.

Review Film Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) - Spider-Man dan Petualangan Multi Semesta yang Segar dan Mengagumkan
9Overall Score
Reader Rating 2 Votes
7.4