Peristiwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Supreme Leader / Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un mengejutkan dunia, padahal beberapa bulan sebelumnya Donald Trump mengancam Korea Utara dengan “fire and fury” dan menginginkan rezim Kim Jong Un bernasib sama dengan Muammar Gaddafi. Hasil dari pertemuan Trump dan Jong Un di Singapura itu menghasilkan salah satu keputusan agar Jong Un melucuti segala bom nuklir miliknya sesegera mungkin.

Film Take Point seakan seperti mengambil momen yang pas untuk melanjutkan kisah pertemuan itu. Dikisahkan pada tahun 2024, Korea Utara masih belum juga mau untuk memberikan nuklirnya tersebut. Sementara itu Presiden Amerika Serikat saat itu President McGregor (Robert Curtis Brown), semakin turun popularitasnya menjelang pemilu presiden. Sehingga tentara-tentara bayaran yang dipimpin Ahab (Ha Jung-woo) diminta untuk melakukan misi rahasia CIA dalam menculik Menteri Angkatan Bersenjata Korea Utara di bunker bawah tanah di Zona Demiliterisasi (DMZ). Misi yang seharusnya dapat dengan mudah dilakukan oleh mereka ini, mulai berantakan sejak di bunker bawah tanah yang hadir bukan Menteri Angkatan Bersentata, melainkan supreme leader Korea Utara. Masalah bertambah pelik sejak salah satu anak buah dari Ahab terkena tembakan. Belum lagi ada Perusahaan Militer Swasta (PMC) lainnya yang mengejar target yang sama.

Pada 30 menit pertama film, Take Point lebih banyak bercerita melalui dialog-dialog panjang dan rumit antara Ahab dengan Agent Mackenzie (Jennifer Ehle) dan antara Ahab dengan timnya. Setelah itu Take Point memberikan suasana full of action yang tiada henti dan intens. Ahab terkepung oleh pasukan PMC maupun pesawat siluman yang terus mengintai di atas sana. Dia harus menjaga agar anak buahnya tetap hidup dan juga supreme leader yang tengah cedera parah. Sementara itu juga kakinya sendiri cacat sehingga membutuhkan kaki buatan dari mesin. Dia juga menghadapi dilema siapa yang harus diselamatkan atau dikorbankan demi misi tercapai. Ha Jung-woo yang namanya makin mentereng karena film-film seperti The Handmaiden, Along with the Gods ini, memberikan performa yang baik melakukan hal-hal itu semua.

Take Point menggunakan tata kamera shaky cam layaknya film-film Paul Greengrass dan juga menggunakan perspektif first person shooter. Teknik kamera yang inovatif ini, ini turut dibantu juga oleh penggunaan kamera berbentuk bola yang dapat digerakan menggunakan remote control untuk mengamati musuh dari jarak jauh oleh Ahab. Selain itu, latar waktu dari film hanya mengambil waktu selama 2 jam saja sehingga film berjalan detik demi detik / real time, tidak ada waktu yang terloncat. Hal ini mirip dengan yang terjadi pada serial tv berjudul 24. Hal-hal ini sehingga penonton seakan-akan berada langsung di medan pertempuran.

Berbagai adegan aksi yang bombastis maupun plot dan twist yang berlapis seharusnya akan membuat penonton akan terhibur dan akan mengejutkan penonton. Sayangnya adegan aksinya terlalu berlebihan, plot maupun twist-nya pun terlalu banyak dan berbelit-belit, sehingga penonton lelah dengan hal itu.

Kesimpulan Akhir:

Tata kamera yang inovatif dan suasana peperangan yang intens membuat ketegangan terjaga sejak awal film dimulai. Namun naskah dan adegan aksinya sungguh berlebihan dan terkesan menggampangkan segala sesuatu.

Review Film Take Point (2019) - Misi Tentara Bayaran Ha Jung-woo dalam Menyelamatkan Supreme Leader Korea Utara
7Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0