The House with a Clock in Its Walls merupakan film fantasi keluarga yang disutradarai oleh Eli Roth. Film ini berdasarkan novel misteri anak-anak berjudul sama yang ditulis oleh John Bellairs di tahun 1973.

Berlatar di tahun 1955, seorang anak kecil berusia 10 tahun, Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro) menuju ke New Zebedee, Michigan untuk tinggal bersama pamannya yang bernama Jonathan (Jack Black), karena orangtuanya telah tiada. Pamannya tinggal di rumah tua yang memiliki jam misterius di dalamnya. Pamannya bertetangga dengan Florence Zimmerman (Cate Blanchett) yang merupakan penyihir handal.

Berbagai keanehan mulai dirasakan oleh Lewis, terutama pada malam hari ketika dia sering mendengar suara-suara berisik dan seringkali juga benda-benda di rumah itu bisa bergerak sendiri. Akhirnya Lewis baru mengetahui kalau pamannya adalah seorang warlock / penyihir laki dan dia minta diajarkan sihir olehnya.

Suatu kejadian menyebabkan bangkitnya warlock jahat bernama Isaac Izard (Kyle MacLachlan) yang menginginkan dunia kembali lagi ke awal mula penciptaan saat tidak adanya manusia di muka bumi ini. Maka dari itu Lewis, Jonathan dan Florence harus bahu-membahu melawan kekuatan jahat ini.

Sejak Eli Roth ditunjuk untuk mempercayakan proyek ini, sontak publik terkejut karena melihat segala rekam jejaknya yang penuh dengan horor berdarah-darah nan sadis seperti cabin Fever, Hostel, Green Inferno dan terakhir dia menyutradarai film aksi brutal yang merupakan remake dari film berjudul sama di tahun 1974 yaitu Death Wish. Sebenarnya cukup banyak sutradara film horor yang banting setir seperti Sam Raimi yang dulunya menyutradarai The Evil Dead (1981) kemudian membesut Spider-Man trilogy adapula Peter Jackson yang dulunya menyutradarai Dead Alive / Braindead (1992) dan akhirnya membesut The Lord of the Rings trilogy. Tetapi kali ini sangat jomplang dan berbeda 180 derajat dari menyutradarai film horor yang banyak dikatakan sebagai genre torture porn, berbalik arah menyutradarai film fantasi keluarga yang mendapatkan rating PG (Parental Guidance) / bisa dikatakan setingkat Semua Umur jika di Indonesia.

Nilai plus dari ditunjuknya Eli Roth dalam menyutradarai The House with a Clock in Its Walls adalah dia dapat menampilkan keadaan penuh misteri yang dibalut dengan suasana dan atmosfer creepy dan spooky menjadi semakin kuat. Hal ini tentu akan membuat anak-anak yang menonton akan larut dalam suasana seru, menegangkan dan menyeramkan. Ditopang juga oleh segi production design yang mumpuni, detail dan imajinatif mulai dari segala benda-benda bergaya kuno dan antik yang dapat bergerak-gerak seperti dalam film Beauty and the Beasts atau film-film Harry Potter. Lalu ada juga tokoh-tokoh ajaib lainnya seperti singa berbentuk tumbuhan hingga labu khas Halloween yang dapat mengeluarkan cairan lengket dari mulutnya. Berbagai suasana ini tentu akan membuat penonton seperti masuk ke dalam rumah hantu.

Dalam sebuah wawancaranya, Eli Roth terinspirasi dari film-film seperti Time Bandits, Beetlejuice, Gremlins, Goonies, Blade Runner, Brazil, Pee-wee’s Big Adventure dan juga E.T. dan memang benar ada elemen-elemen film-film tersebut, ditambah lagi secara tidak langsung ada elemen-elemen dari film Goosebumps, Lemony Snicket’s a Series of Unfortunate Events dan tentunya Harry Potter oleh karena sihir-sihirnya itu. Eli Roth berhasil menyatukan segala elemen-elemen dari berbagai film dan memberikan sebuah vibe tahun 80 an.

Ada masalah dari segi pace film yang terkadang terlampau lambat dan tiba-tiba pada sepertiga terakhir film pace menjadi terlalu terburu-buru, apalagi melihat sosok villain-nya juga baru muncul pada sepertiga terakhir film, walaupun motivasinya cukup kuat tentang anti-war. Kemudian cukup banyak kejadian yang repetitif, karena menceritakan dari hari ke hari Lewis belajar sihir dan ke sekolah, kejadian itu berlangsung berulang-ulang. Kemudian jika dibandingkan dengan film-film fantasi sejenis, film ini dapat dikatakan kurang magis dan menyajikan visual yang dapat memukau penontonnya. Praktis hanya ada satu adegan saat paman Jonathan memperlihatkan kepada Lewis segala tata surya di bumi.

Owen Vaccaro sebagai Lewis Barnavelt berakting baik, dia memperlihatkan sense of wonder dan juga rasa penasaran hingga rasa penasarannya kepada rumah ajaib dan segala macam sihir yang dia pelajari. Dia juga memperlihatkan sisi geekiness dengan kacamata unikny itu di sekolah dan keinginan yang kuat untuk menjalin persahabatan dengan salah satu teman kelasnya. Jack Black selalu menghadirkan unsur komikal, baik dari ekspresi, gaya tubuh dan dari segala lelucon-lelucon yang dilontarkan. Cate Blanchett memperlihatkan unsur keanggunan dari kostum ungunya yang menawan itu sekaligus memperlihatkan sisi bad-ass nya saat menghadapi berbagai labu Halloween itu dengan senjata payung magisnya itu. Tapi yang terpenting adalah chemistry antara Jack Black dan Cate Blanchett menyajikan dynamic duo yang pas dan kocak. Mereka kerap saling membantu sekaligus juga saling ejek-mengejek layaknya seorang sahabat dekat.

Kesimpulan Akhir:

Eli Roth berhasil memberikan suasana creepy dan spooky untuk film fantasi untuk keluarga ini. Ditambah lagi sisi produksinya yang menawan dan magis. Membuat penonton seperti seakan-akan masuk kedalam wahana atraksi rumah hantu. Satu hal lagi yang terpenting adalah banyaknya atmosfer / vibe dari film-film tahun 80-an, sehingga terasa asik dan menyenangkan!

Review Film The House with a Clock in Its Walls (2018) – Suasana Magis, Misteri dan Spooky dalam Film Fantasi Keluarga karya Eli Roth
7Overall Score
Reader Rating 1 Vote
10.0