Loading...

Nama sutradara/penulis Joe Cornish memang belum terlalu dikenal, tapi potensinya cukup disegani di dunia perfilman Hollywood lewat film karyanya di tahun 2011, Attack The Block yang banyak dipuji kritikus dan meluncurkan nama John Boyega (Finn di saga Star Wars) masuk ke dalam jajaran aktor besar. Kini di awal tahun 2019, film arahan Cornish yang berkutat di seputar legenda Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar dengan judul The Kid Who Would Be King siap di rilis di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 23 Januari 2019.

Film dimulai saat anak remaja Alex (Louis Ashbourne Serkis) membela sahabatnya Bedders (Dean Chaummo) dari perundungan Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Dorris). Hukuman pun harus diterima Alex akibat menerjang Lance di sekolah. Sepulangnya menerima hukuman, Lance dan Kaye pun berniat membalas dendam dan mengejar Alex yang kabur ke sebuah lokasi konstruksi bangunan. Di sana Alex menemukan sebuah pedang yang tertancap pada sebuah batu. Diselimuti rasa penasaran, Alex pun mencabut pedang tersebut dan membawanya pulang.

Kejadian aneh pun mulai muncul setelah Alex mencabut pedang tersebut. Dimulai dari kehadiran murid baru Mertin (Angus Imrie) yang aneh, sampai ke munculnya monster tengkorak berkuda yang mengerikan yang menyerang Alex dan Bedders. Alex pun menyadari bahwa kejadian-kejadian tersebut berkaitan dengan buku dongeng yang pernah ayahnya berikan berjudul The Knights of Round Table. Berdasarkan buku tersebut, Alex mengetahui bahwa pedang yang ada ditangannya merupakan pedang legendaris, Excalibur milik Raja Arthur dan keturunannya. Hidup Alex pun berada dalam bahaya karena pedang tersebut diburu oleh Morgana (Rebecca Ferguson), penyihir jahat sekaligus adik tiri dari Raja Arthur. Morgana sendiri masih terkurung di neraka, menunggu waktu kebebasannya, lalu naik ke bumi untuk merebut pedang Excalibur dan menguasai dunia.

Alex dan Bedders dengan dibantu Mertin yang ternyata jelmaan penyihir kepercayaan Raja Arthur, Merlin (Patrick Stewart) pun memutuskan untuk memburu Morgana sebelum sang penyihir jahat muncul naik ke bumi. Berdasarkan petunjuk dan syarat dari buku dongeng, Alex terpaksa mengajak Lance dan Kaye untuk membantunya. Mereka berlima pun bertualang menuju ke neraka untuk mencegah Morgana naik ke bumi sekaligus membunuhnya.

Ulasan

Sebagai sebuah film bergenre fantasi petualangan, The Kid Who Would Be King sukses memberikan tontonan yang seru, magical, menyenangkan dengan aksi-aksi yang mendebarkan. Joe Cornish selaku sutradara/penulis film ini pun tidak lupa menyelipkan berbagai pesan moral tersurat berkaitan dengan soal perundungan (bullying), persahabatan dan soal hubungan di dalam keluarga. Untuk sebuah film dengan adegan aksi yang cukup banyak, penanaman pesan-pesan dan isu sosial ini sangat layak untuk diapresiasi lebih.

Karakter Alex, sebagai remaja dari keluarga broken home yang merasa sang Ibu adalah penyebab ayahnya pergi meninggalkan mereka sangat baik diperankan oleh Louis Ashbourne Serkis. Darah seni dari sang ayah, Andy Serkis (Gollum di saga Lord of The Rings), tampaknya mengalir ke putranya. Pemain remaja lainnya pun sangat baik memerankan karakternya, dengan penampilan gemilang dari Angus Imrie yang mencuri perhatian lewat karakter Merlin muda. Sementara penampilan aktor senior Patrick Stewart dan Rebecca Ferguson tidak begitu menonjol akibat minimnya durasi tampil di layar.

Dari sisi teknis produksi, film memiliki sinematografi ciamik yang memanjakan mata buah karya Bill Pope (Trilogi The Matrix, Spider-Man 2), efek visual apik yang terlihat nyata, desain produksi jempolan dan ilustrasi musik yang berkelas. Semua elemen produksi memberikan yang terbaik dan menghasilkan film yang sangat menghibur sekaligus berkelas dari sisi teknis produksinya.

Meskipun begitu, film ini bukan tanpa kekurangan. 30 menit pertama menjadi masalah besar bagi film ini dalam membangun konflik dan memperkenalkan legenda Arthur dan Ksatria Meja Bundar. Film terkesan berjalan di tempat pada beberapa bagian dan terkesan terlalu cerewet menceritakan kisah legenda tersebut lewat monolog karakter Alex. Tetapi setelahnya film langsung tancap gas, keseruan mulai terasa dan berhasil memuaskan sampai ke adegan akhirnya.

Kesimpulan Akhir

The Kid Who Would Be King menunaikan tugasnya dengan baik sebagai film fantasi petualangan remaja yang menyasar seluruh anggota keluarga sebagai penontonnya. Dengan balutan cerita legenda yang familiar, tema sosial yang dekat dengan kehidupan nyata, karakterisasi serta penulisan naskah yang brilian, film ini sukses memberikan pengalaman sinematik yang seru, menyenangkan, menegangkan, haru sekaligus hangat bagi para penontonnya. Sebuah film yang sangat layak untuk ditonton di layar lebar bersama keluarga dan para sahabat.

Loading...
Review Film The Kid Who Would Be King - Film Petualangan Remaja Yang Seru Dan Ramah Untuk Keluarga
9Overall Score
Reader Rating 3 Votes
7.7