Dunia perfilman Indonesia tidak lengkap tanpa sosok seorang kritikus / blogger film. Banyak masukan-masukan membangun yang bertujuan supaya perfilman di Indonesia lebih baik lagi. Bahkan para blogger film dan para penggemar film Indonesia di dunia maya / online memberikan apresiasi kepada insan-insan perfilman setiap tahunnya sejak tahun 2012 dengan Piala Maya.

Cukup banyak kritikus film di dunia yang mencatatakan namanya dalam suatu film, sebut saja kritikus film paling terkenal sepanjang masa yaitu Roger Ebert yang pernah berperan sebagai penulis naskah pada film Beyond the Valley of the Dolls yang disutradarai oleh Russ Meyer. Kemudian lagi ada nama Jean-Luc Godard sebagai pencetus French New Wave yang sebelumnya sebagai kritikus film di majalah Cahiers du Cinema dan beberapa perkumpulan penggemar film. Dalam negeri ada sosok salah satu sutradara Indonesia terbaik yaitu Joko Anwar yang dulunya seorang kritikus film pada The Jakarta Post.

Salah satu kritikus / blogger film Indonesia yang sudah lama berkecimpung di dunia kritik film yaitu Witra Asliga membuat feature film pertamanya berjudul The Returning yang akan tayang mulai 1 November 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

Kesedihan mendalam menghinggapi Natalie (Laura Basuki) karena suaminya Colin (Ario Bayu) dinyatakan hilang saat pendakian tebing. Maggie (Tissa Biani) dan Dom (Muzakki Ramdhan) yang merupakan anak dari Colin dan Natalie juga turut larut dalam kesedihan.

Sudah berbulan-bulan sejak kehilangan suaminya, Natalie menjadi sering meluapkan emosinya kepada anak-anaknya dan terlihat sering murung sendiri. Natalie sudah berusaha melupakan Colin dengan menyibukan dirinya sebagai pengrajin tanah liat di galeri seni yang dimiliki temannya, Yasmin (DJ Yasmin).

Kemudian tiba-tiba, Colin kembali secara misterius. Sejak itu kejanggalan demi kejanggalan mulai bermunculan. Colin menjadi sosok yang dingin dan seringkali melakukan hal-hal yang mencurigakan.

The Returning merupakan sebuah film drama horor dengan sosok creature (makhluk yang menyeramkan) berbentuk kelelawar bercampur iblis. Sosok creature ini memberikan sebuah warna baru dalam perfilman Indonesia yang saat ini hampir semuanya menampilkan sosok setan, hantu atau makhluk halus lainnya. Walau sebenarnya sosok creature pada film The Returning masih berpakem ke arah supernatural daripada sosok fiksi ilmiah yang biasanya ada di film-film Hollywood.

Witra Asliga yang dulunya juga pernah menggarap film omnibus 3 Sum pada bagian Imsomnights, kembali menghadirkan tone warna biru seperti pada Imsomnights berbagai momen-momen di kegelapan dalam rumah. Selain warna biru ada tonetone warna hijau pekat yang juga turut mendukung sosok creature kelelawar berwarna hijau ini. Segala tonetone ini ditunjang juga dengan production value yang cukup memberikan atmosfer horor yang kuat dan mencekam. Jika segi tone-nya patut diacungi jempol, tidak demikian dari segi fokus kamera. Ada sedikit masalah dalam beberapa fokus kamera yang blur dan tidak fokus.

Penulisan naskah juga disupervisi dan dibantu oleh para kritikus lainnya seperti Daniel Irawan, Amir Syarif Siregar dan Rivki Mogi. Naskahnya menitikberatkan pada drama keluarga, bagaimana besarnya rasa cinta istri kepada suaminya dan kehangatan suatu keluarga. Kemudian ada sub-plot mengenai cinta segitiga zaman sekolah antara Maggie (Tissa Biani) dan kedua temannya di sekolah yaitu Hendra (Bryant Santoso) dan Ricky (Bryan Domani) yang sayangnya kurang chemistry dan kurang memikat. Ada sub-plot juga mengenai Dom (Muzakki Ramdhan) yang walaupun pintar di sekolah tapi dirundung oleh teman-temannya karena kesulitan bicara, konklusi dari sub-plot ini seakan tidak ada dan menggantung. Entah mungkin saja sengaja supaya dikembalikan lagi ke penonton ingin melihatnya sebagai apa mengenai perundungan yang terjadi di sekolah.

Ada cukup banyak unsur-unsur nostalgia tahun 90-an pada segi production design-nya, lengkap pula dengan alat pemutar kaset hingga mobil-mobil zaman dahulu. Terdapat pula beberapa adegan saat memainkan ular tangga dan scrabble di mana adegan ini terasa sangat kekeluargaan karena ada unsur interaksi di dalamnya. Sekarang ini sudah cukup jarang satu keluarga memainkan berbagai board game klasik ini dan masa ini biasanya sibuk pada gadget masing-masing saja.

Segi akting patut dipuji adalah akting dari Tissa Biani yang solid. Laura Basuki juga cukup baik dalam memperlihatkan rasa tertekannya dan kebingungan karena kehilangan suaminya dan rasa cintanya yang besar kepada suaminya. Kemudian Muzakki Ramdhan juga berakting cukup lumayan, walau penonton akan membandingkannya dengan aktingnya di film A Mother’s Love dari Joko Anwar itu yang di mana pada film dari HBO itu lebih memperlihatkan kualitas aktingnya dengan cakap. Pujian lain diberikan kepada sosok ibu dari Colin yang diperankan oleh Dayu Wijanto yang begitu sinis terhadap menantunya itu.

Musik yang diaransemen oleh Indra Perkasa mampu menghadirkan musik-musik yang membuat telinga penonton tidak nyaman untuk menunjang suasana mencekam yang dihadirkan.

Cara menakut-nakuti dari Witra Asliga lebih mengandalkan atmosfer horor yang mencekam dengan beberapa penampakan dari creature kelelawar, bayangan hingga sosok misterius dari ayahnya. Jump scare terhitung sangat minim, tapi ada satu yang benar-benar membuat kaget satu bioskop karena kemunculannya tidak terduga. Setelah jump scare ini penonton berharap akan adanya sebuah sajian horor non stop dan konstan karena terlebih dahulu sudah bersabar akan pembangunan filmnya yang slow burn ini. Pembangunan filmnya yang agak draggy itu, diperburuk dengan oleh klimaks penutup yang kurang memuaskan, final showdown antara keluarga ini dengan sosok creature kelelawar itu hanya sebentar saja. Rasa kasih sayang antar keluarganya di akhir film juga kurang memberikan dampak emosional sehingga menjadi antiklimaks. Kemudian twist yang sebenarnya cukup mengejutkan dan menipu itu, kurang dirangkai dengan baik.

Kesimpulan Akhir:

Usaha menakut-nakuti dengan sosok creature (makhluk yang menyeramkan) alih-alih menggunakan sosok setan/hantu yang sudah sering sekali muncul di film lainnya, turut memberikan sebuah warna yang baru di dunia perfilman horor di Indonesia.

Patut dipuji juga untuk tidak terlalu banyak mengumbar jump scare, tetapi melalui atmosfer horor yang kuat sehingga menghadirkan suasana mencekam. Walau tidak mengumbar jump scare, tetapi ada satu jump scare yang benar-benar membuat kaget seisi bioskop karena kemunculannya tidak terduga. Walau tidak mengumbar jump scare, tetapi ada satu jump scare yang benar-benar membuat kaget seisi bioskop karena kemunculannya tidak terduga.

Ada beberapa hal yang semestinya bisa lebih baik lagi. Walau begitu untuk ukuran sebuah debutan, tentu The Returning jauh dari kata buruk. Begitu juga jika dibandingkan dengan banyak film horor Indonesia lainnya yang seperti dibuat asal-asalan, The Returning jelas jauh di atas mereka.

Selamat kepada Witra Asliga, semoga saja masih terus menghasilkan karya-karya lainnya untuk perfilman Indonesia dan juga tetap terus menulis segala review-review film demi kemajuan perfilman di Indonesia.

Review Film The Returning (2018) - Sebuah Warna Baru dalam Dunia Perfilman Horor di Indonesia
6.5Overall Score
Reader Rating 10 Votes
6.2