Tokyo Ghoul adalah serial manga Jepang rilis sejak tahun 2011 dan meraih kesuksesan menjual total 12 juta kopi selama perilisannya sepanjang tahun 2011-2014 di seluruh dunia.  Sekuelnya Tokyo Ghoul: re dan Tokyo Ghoul Root A pun meraih kesuksesan serupa dan memicu adaptasi ke dalam medium anime dan film live action.

Menyusul film adaptasi live action pertamanya Tokyo Ghoul (2017) yang meraih pemasukan 10 juta Dollar US dan apresiasi hangat dari para kritikus Rottentomatoes yang mencapai 79% membuat film lanjutannya segera diproduksi dengan judul Tokyo Ghoul S ditangani duo sutradara Kazuhiko Hiramaki dan Takuya Kawasaki dan dibintangi oleh Masataka Kubota, Maika Yamamoto, Nobuyuki Suzuki, Kai Ogasawara, dll. Tokyo Ghoul S direncanakan tayang hari rabu, 12 Desember 2019 di bioskop Indonesia.

film Tokyo Ghoul S

Loading...

Sinopsis

Kematian sadis seorang model, Margaret (Maggy) menghebohkan seantero Tokyo karena melibatkan seorang ghoul bertopeng misterius berjuluk Gourmet sebagai pelaku utama. Penduduk Tokyo yang sudah merasa aman dari ancaman para ghoul (makhluk humanoid pemakan daging manusia) jadi merasa tidak aman lagi.

Di tengah kebingungannya sebagai seorang manusia yang baru saja menjadi ghoul akibat sebuah kasus transplantasi, Kaneki (Masataka Kubota) harus menemukan kenyataan pahit bahwa kini dirinya kini menjadi ancaman bagi para manusia di Tokyo. Bersama rekannya Touka (Maika Yamamoto) yang melatihnya bela diri dan menekan rasa lapar akan daging manusia, Kaneki harus dihadapkan pada ketertarikan seorang ghoul misterius bernama Tsukiyama (Shota Matsuda) pada Kaneki. Undangan makan malam Tsukiyama yang diterima Kaneki pun menjadi acara yang mengejutkan bagi Kaneki.

film Tokyo Ghoul S

Ulasan

Dalam sejarahnya, Jepang memang memiliki segudang kisah fantasi yang diangkat dari manga maupun anime dan meraih kesuksesan besar baik di Jepang maupun di dunia internasional, termasuk di Indonesia. Manga dan anime yang kini menjadi budaya dan ciri khas negara Jepang seakan mendominasi kisah fantasi di era modern dewasa ini. Tak heran jika banyak sineas Jepang yang tertarik memfilmkan materi yang sudah demikian dikenal ke dalam medium film live action.

Namun, layaknya adaptasi film yang diangkat dari video gim di Hollywood, agaknya industri perfilman Jepang terlihat kesulitan mempertahankan kualitas film live action saat dibandingkan sumber manga dan animenya. Ini terlihat dari banyaknya film adaptasi yang dicerca oleh para fans dan tidak signifikan dalam box office internasionalnya. Attack The Titans, Bleach, Rurouni Kenshi,n dll adalah beberapa contohnya. Tokyo Ghoul S yang merupakan sekuel langsung dari film Tokyo Ghoul (2017) pun termasuk di antaranya.

Patut dipahami, secara budget film adaptasi dari manga karangan Sui Ishida ini memiliki range yang tidak besar dan terlihat jelas di layar dengan minimnya efek spesial yang bombastis di dalam adegan perkelahian antar ghoul di dalam film. Looks film yang kelihatan ala dorama pun semakin membuat film kurang sinematis dan mengesankan skala film yang terhitung kecil. Agaknya ini sedikit membuat Penulis kurang bisa masuk ke dalam dunia versi Tokyo Ghoul ini.

film Tokyo Ghoul S

Naskah yang ditulis oleh Chuji Mikasano (Tokyo Ghoul: re, Tokyo Ghoul: Root A) sudah membangun intensitas sejak membuka film dengan proses kematian Margaret sang model. Berbagai berita juga diutarakan demi menampilkan ancaman ghoul ganas bernama Gourmet yang mengancam penduduk Tokyo. Hanya saja film tidak dapat menampilkan keresahan yang dialami oleh warga Tokyo tersebut.  Film jadi kehilangan intensitas dan resiko besar yang dihadapi oleh para penduduk.

Film malah bergerak ke internal para ghoul yang sibuk menahan rasa laparnya akan daging manusia, hubungan interpersonalnya dengan manusia yang menjadi sahabat atau pacarnya, serta ketertarikan seorang ghoul bernama Tsukiyama pada Kaneki, ghoul yang beraroma sedap layaknya manusia biasa. Berbagai sub plot yang berfungsi untuk mengalihkan main plot pun sama sekali tidak mengekspos ketakutan para penduduk Tokyo. Benar-benar tidak terasa intens.

Kelemahan ini menjadikan film berlangsung stagnan dengan tidak adanya letupan-letupan konflik, sampai film bergerak ke pertengahan durasi. Sebuah kejadian tak diduga dialami Kaneki dan membuatnya harus beraksi mempertahankan nyawanya. Sayangnya penonton yang bukan fans dari seri Tokyo Ghoul nampaknya berpotensi tidak berempati pada Kaneki. Hal ini disebabkan kurang digalinya karakterisasi Kaneki untuk bisa disukai penonton awam di awal film. Efek yang berbeda tentu akan didapatkan oleh para fans seri manga, anime atau penonton film live action pertama Tokyo Ghoul.

film Tokyo Ghoul S

Walaupun sulit meraih simpati penonton, namun setidaknya film bergerak lebih intens dari paruh awal yang cenderung datar. Sayangnya, tensi film yang meninggi setelah kejadian yang dialami Kaneki dirusak kembali memasuki babak ketiga film lewat para karakter yang mendadak muncul tanpa ada backstory di awal film ini.  Para karakter yang membawa sub plot hubungan asmara antara ghoul dengan manusia ini secara tiba-tiba muncul dan mengambil alih plot utama dalam screentime yang cukup banyak dan kembali menurunkan tensi film.  Sebuah keputusan ceroboh dari penulisan naskah dan eksekusi dari sutradara Kazuhiko Hiramaki dan Takuya Kawasaki.

Duet sutradara debutan ini memang mampu mengeksekusi cerita secara runut dari awal sampai akhir film. Kelemahan yang kentara selain kemampuan menjaga intensitas dari munculnya konflik sampai konklusi adalah kemampuan menciptakan misteri dan penyingkapannya. Awal film yang dibuat seakan menjaga identitas Gourmet lewat topengnya ternyata tidak/gagal dijaga kemisteriusannya.

film Tokyo Ghoul S

Karakterisasi pun jadi masalah yang signifikan dalam film, kemunculan karakter-karakter tanpa backstory dan tiba-tiba muncul, bahkan salah satunya disiapkan untuk sekuel pun sangat-sangat mengganggu alur film. Sebuah keputusan yang aneh yang membuat penulis berkesimpulan film ini hanya mengalirkan plot film untuk fan service kepada para fans pemerhati Tokyo Ghoul saja.

Sisi teknis film tidak ada yang menonjol selain looks film yang terasa seperti film televisi atau film yang direct to video yang sepertinya diakibatkan oleh dominasi drama dibanding unsur laga atau thrillernya  serta berkaitan dengan budget. Untuk adegan laga yang minim sendiri tidak spesial sama sekali, spesial efek pun sekadar seadanya saja. Tata artistik produksi juga demikian, penggunaan real set di banyak lokasi dan hanya membuat set bar yang sekali lagi dibuat seadanya saja.

Sisi akting rasanya adalah yang paling mendingan dibanding departemen lain di dalam film ini. Masataka Kubota (13 Assassins) dan Shota Matsuda (Love Shuffle) yang banyak berinteraksi bersama berakting cukup baik meski tidak spesial. Penampilan Maika Yamamoto (Assassination Classroom) jadi yang paling menonjol dengan karakternya yang jutek dan badass sebagai Touka yang bertindak selaku mentor bagi Kaneki si ghoul anyar.

film Tokyo Ghoul S

Kesimpulan Akhir

Dengan nama besar brand yang kuat dalam sumber manga dan anime-nya, Tokyo Ghoul S terbilang gagal membawa kisah kehidupan para ghoul di Tokyo ini menjadi menarik bagi penonton akibat grafik konflik yang tidak stabil, intensitas yang tidak terjaga dan minimnya empati pada tokoh utama. Poin-poin menjadikan film berpotensi membosankan penonton awam, walau mungkin saja hasilnya berbeda bagi penonton yang memahami sumber aslinya yang merupakan fans dari seri Tokyo Ghoul ini.

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Tokyo Ghoul S (2019) – Adaptasi Yang Gagal Menyuguhkan Kisah Menarik
4Overall Score
Reader Rating 1 Vote
7.0