Setelah sukses besar dengan film horor Saw (2004), James Wan kembali sukses dengan film Insidious (2011) dan The Conjuring (2013). Berkat kesuksesannya ini dia dijuluki The New Master of Horror. Tentu kesuksesan suatu film biasanya diikuti dengan sekuelnya. Saw telah dibuatkan sampai 8 film, The Conjuring baru 2 film, namun sudah banyak spin-off-nya yang telah dirilis maupun sedang dalam proses produksi, sehingga menghasilkan The Conjuring Universe. Begitu juga dengan Insidious yang saat ini telah memasuki film keempat berjudul Insidious: The Last Key akan rilis di bioskop Indonesia mulai 10 Januari 2018 dan akan didahului oleh pertunjukan midnight-nya pada 6 Januari 2018.

Menceritakan masa kecil dari Elise Rainier (Ava Kolker) pada tahun 1950 an di New Mexico. Dia bisa melihat makhluk halus dan berkomunikasi dengannya, hal ini membuat ketakutan adiknya yang bernama Christian (Pierce Pope) dan ayahnya (Josh Stewart) juga membencinya dan sering menghukumnya karena penglihatannya itu. Saat Elise dikurung di ruang bawah tanah, dia dibujuk oleh kekuatan jahat untuk membuka suatu pintu yang menyebabkan kekuatan jahat itu keluar dan ibunya meninggal karena gantung diri. Sesudah remaja, Elise (Hana Hayes) sudah tidak tahan lagi atas perilaku ayahnya yang sering memukulnya dan mabuk-mabukan. Dia meninggalkan adiknya Christian (Thomas Robie) bersama ayahnya.

Di tahun 2010, Elise (Lin Shaye) menerima telepon dari seorang pria yang melaporkan rumahnya diganggu makhluk halus. Elise langsung kaget saat mengetahui rumah berhantunya itu merupakan rumah lamanya dia. Elise harus kembali menghadapi masa lalunya yang kelam dengan mencari kunci untuk menutup pintu dan mengembalikan roh jahat itu supaya tidak menggangu lagi.

1 3

Nama James Wan masih hadir sebagai produser, Leigh Whannell yang menyutradarai film ketiga dan menulis naskahnya sejak film pertama sampai sekarang, kali ini menyerahkan tongkat estafet kepada sutradara Adam Robitel (The Taking of Deborah Logan). Insidious: The Last Key merupakan sekuel dari film ketiganya, Insidious: Chapter 3. Tetapi merupakan prekuel dari film pertama dan kedua. Karakter Elise yang sebenarnya sudah meninggal di film pertamanya menjadi karakter utama yang menggerakan jalannya cerita, seperti halnya pada film ketiga. Sebenarnya di film pertama dan kedua pun, karakter Elise lah yang merupakan jiwa dari Insidious. Keputusan untuk “membunuhnya” pada film pertama mengingatkan penonton pada film Saw III (Dibuat oleh James Wan dan Leigh Whannel juga) di mana karakter Jigsaw dibunuh dini sehingga agaknya setelah film keempat ini, akan cukup sulit melihat pengembangan yang lebih dari film kelimanya.

2 4

Last Key (Kunci Terakhir) menjadi sebuah simbol bagi kehidupan Elise. Kehidupan masa kecilnya seperti terpenjara karena ayahnya yang juga seorang asisten kepala penjara sering mengurungnya di bawah tanah. Setelah kabur, Elise mengunci rapat-rapat masa lalunya dan tidak ingin mengingatnya kembali. Saat dia kembali ke New Mexico, bertemu dengan adik laki-lakinya yang sekarang mempunyai 2 anak perempuan yang cantik dan kembali ke rumah masa kecilnya, membuat Elise membuka kembali “kunci terakhir” tersebut untuk facing her demons (rekonsiliasi dan melepaskan dari sakitnya masa lalu).

5 6

Lin Shaye yang dahulu tidak terlalu di dengar namanya karena jarang menjadi aktris utama membuat gebrakan atas perannya di Insidious, sejak itu dia kembali diperhitungkan. Pada Insidious: The Last Key semakin memperlihatkan kecemerlangannya dalam memerankan Elise yang tetap tenang, karismatik dan percaya diri dalam menghadapi segala makhluk jahat walau tentu batinnya berkecamuk karena masa lalunya tersebut. Kedua asistennya yang dijuluki sidekick, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) kembali membuat Insidious tidak hanya menimbulkan keseraman bagi penonton, tapi juga humor komikal yang cukup lucu, sehingga penonton bisa menarik nafas dari segala ketegangan yang melanda. Walau beberapa terasa cringe atas segala gombalannya kepada dua keponakan dari Elise.

Insidious: The Last Key masih mengandalkan formula dari film-film terdahulunya segala jump scare yang mengejutkan dan atmosfir kegelapan yang tanpa suara. Seringkali penonton salah menebak kapan makhluk halus tersebut akan keluar layar seperti contohnya yang merupakan adegan terbaik di film ini saat Elise membuka tiap-tiap koper di saluran air, penonton menebak-nebak apa isi dalam koper yang tidak terhingga banyaknya itu. Tapi terkadang Adam Robitel sang sutradara terlalu lama dalam membangun jump scare-nya itu sehingga penonton kebosanan. Leigh Whannell sang penulis naskah mampu juga untuk menyelipkan kehangatan dan kasih sayang keluarga dalam hidup Elise.

Final Verdict:

Walau tidak semenyeramkan film pertama dan keduanya, Insidious: The Last Key masih cukup mengagetkan, atmospheric dan menghibur untuk ditonton beramai-ramai. Keputusan para pembuatnya dalam memfokuskan kepada masa lalu karakter Elise (sebuah origin story) patut diacungi jempol karena memang dari film pertamanya, karakter Elise-lah yang menjadi nyawa bagi franchise film horor Insidious.

Lebih baik dari film ketiga, namun kualitasnya masih di bawah film pertama dan kedua
7Overall Score
Reader Rating 2 Votes
5.2