Syarat sebagai sebuah film hiburan yang berkualitas tinggi dipenuhi oleh Justice League. Film ini tidak akan mengecewakan para penggemar setianya.
9Overall Score
Reader Rating 12 Votes
7.0

Berbagai masalah yang merundung rencana pembuatan film Justice League muncul setelah berbagai ulasan yang negatif dari para kritikus pada berbagai film produksi DC Extended Universe (DCEU) sejak film Man of Steel. Cibiran  sebagai pengekor Marvel Cinematic Universe (MCU) milik Marvel dan Disney, pun tidak lepas dari DCEU yang seluruh filmnya diproduksi oleh Warner Brothers Pictures. Ditambah dengan buruknya ulasan kritikus untuk film Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad makin membuat DCEU terancam, meski kedua film tersebut meraih sukses secara komersil. Namun kehadiran Wonder Woman di musim panas 2017 yang meraih kesuksesan komersil sekaligus meraih 92% pada rating Rottentomatoes menjadikan DCEU memiliki momentum dalam perilisan Justice League pertengahan November 2017 ini.

Kendati momentum sudah tercipta, namun tragedi di dalam keluarga yang menimpa Zack Snyder dan Deborah Snyder, sepasang suami istri selaku sutradara dan produser film ini, makin menambah keruwetan dalam produksi film Justice League. 8 Bulan sebelum rilis Zack Snyder mengundurkan diri dari kursi sutradara dan WB menunjuk Joss Whedon (The Avengers, The Avengers:Age of Ultron) untuk melanjutkan produksi film sampai ke tahap penulisan ulang naskah, syuting ulang beberapa adegan serta mengawasi proses editing film sampai selesai. Sebuah keputusan beresiko dan menimbulkan kekhawatiran bagi para fans dan penonton umum. Namun nampaknya pengalaman Whedon saat di Marvel mampu memberikan secercah harapan bagi studio dan para penontonnya.

Jl13JL8

Film dimulai beberapa waktu setelah tewasnya Superman/Clark Kent (Henry Cavill) di tangan Doomsday di akhir film Batman v Superman: Dawn of Justice. Batman/Bruce Wayne (Ben Affleck) di tengah penyelidikannya terhadap sesosok makhluk bersayap dan bergigi tajam menemukan kenyataan bahwa makhluk tersebut sedang mencari sesuatu atas suruhan seseorang yang mengancam kehidupan di bumi. Sementara di Themyscira, tempat tinggal Bangsa Amazon. Muncul Steppenwolf (Ciaran Hinds) yang ingin mencuri sebuah kotak keramat yang berada di dalam perlindungan para wanita Amazon. Usaha Ratu Hypolita (Connie Nielsen) dalam melindungi kotak bernama Motherbox tersebut gagal akibat besarnya kekuatan Steppenwolf. Hypolita lalu memberikan peringatan kepada Wonder Woman/Diana Prince (Gal Gadot) akan ancaman Steppenwolf yang sudah berhasil mencuri motherbox dari Amazon, dan mengincar 2 motherbox lain di Atlantis dan di Bumi dalam misinya menghancurkan bumi.

Mengetahui ancaman tersebut, Diana segera menghampiri Bruce yang segera mengusulkan untuk membentuk aliansi superhero berdasarkan data yang mereka peroleh dari rekaman video yang milik Lex Luthor (Jesse Eisenberg) dari film Batman v Superman. Bruce yang sebelumnya gagal membujuk Aquaman/Arthur Curry (Jason Momoa) memutuskan untuk menghampiri Flash/Barry Allen (Ezra Miller), sementara Diana bertugas membujuk Cyborg/Victor Stone (Ray Fisher) untuk bergabung ke dalam aliansi mereka.

Keempatnya lalu bergabung dan pertama kali menghadapi Steppenwolf di saluran bendungan Gotham. Kekuatan besar Steppenwolf yang sudah berhasil mengambil motherbox dari bangsa Atlantis membuat Batman cs. kewalahan. Meski akhirnya dibantu Aquaman saat bendungan dijebol Steppenwolf, namun Batman menyadari bahwa mereka berlima bukan tandingan Steppenwolf yang kini memburu motherbox terakhir yang tersimpan di bumi. Mereka butuh bantuan superhero lain yang lebih tangguh untuk menghadapi Steppenwolf. Ide untuk membangkitkan Superman dengan cara yang sama saat Luthor menciptakan Doomsday pun muncul. Sebuah keputusan besar yang harus diambil, meski harus timbul perpecahan di antara mereka.

JL6JL1

Luar biasa. Itu kalimat yang keluar seusai menonton film ini. Memang film ini tidak sempurna, namun mengetahui keruwetan kisah di balik produksi film dan berbagai suara sumbang yang memberikan tekanan, menjadikan sebuah kejutan manis saat film ini tampil seru dan menyenangkan. Syarat sebagai sebuah film hiburan yang berkualitas tinggi pun dipenuhi oleh Justice League. Film ini tidak akan mengecewakan para penggemar setianya, meski mungkin akan sedikit mengecewakan para kritikus pada sisi alur cerita.

Apa yang membuat film ini berhasil? Karakter. Tangan dingin Joss Whedon nampak jelas dalam penulisan ulang naskah dan karakterisasi film ini. Berbagai dialog segar dan lucu mampu meluncur mulus dari sosok Flash yang lugu dan konyol, Aquaman yang sinis dan getir, bahkan Batman yang kini lebih santai, tidak melulu penuh dendam. Rasa bersalah yang hinggap dalam diri Batman pada peristiwa kematian Superman memang ditampilkan, namun hiburan dari Wonder Woman yang kini bersikap lebih keibuan menjadikan Batman memandang hidup dari sisi yang berbeda. Celetukan-celetukan muncul dari mulutnya, sedikit keluar dari karakter, namun pergerakan emosi dan perubahan karakter ini nampak segar dan perlu. Alfred (Jeremy Irons) pun kini tidak bermain dengan kata-kata mutiara yang njelimet, lebih straight to the point dan sering menyindir Bruce dalam kesendiriannya.

Bagusnya pengkarakteran ini menyebabkan chemistry para tokoh menjadi dinamis dan menarik. Penonton akan merasa senang melihat aksi-reaksi mereka dalam berdialog dan bekerjasama dalam adegan kelahi. Di luar pengkarakteran dan chemistry yang baik, sisi teknis juga patut diacungi jempol. Masih mengusung tampilan abu-abu kelam dipadukan dengan nuansa merah saat adegan klimaks seakan menunjukkan perpaduan dari kisah kelam soal kematian Superman dan ancaman Steppenwolf yang kelam dengan karakter yang penuh warna dari para anggota Justice League. Film masih memiliki tone cerita dan gambar kelam, namun kini lebih memiliki karakter yang memberikan warna. Karakter pendukung dalam diri Lois Lane (Amy Adams), Martha Kent (Diane Lane) dan Jim Gordon (J.K. Simmons) juga mampu menambah warna tersebut dalam penampilan singkat mereka.

JL7JL3

Beberapa kekurangan dalam film ini cukup krusial namun tidak mengurangi keasyikan dan keseruan film. Sosok Steppenwolf yang tiba-tiba muncul tanpa adanya backtory dan motif yang kuat, meski ada sebuah adegan flashback namun kurang menggambarkan betapa mengerikannya ancaman Steppenwolf. Backstory juga jadi masalah dalam karakter Mera (Amber Heard), karakter wanita penjaga motherbox di Atlantis. Penonton tidak diberikan kesempatan mengenal dirinya, seakan tampil hanya sebagai teaser untuk film solo Aquaman tahun depan. Origins The Flash dan Cyborg juga tidak ditampilkan, menurut hemat saya pertimbangan durasi yang menyebabkan tidak adanya backstory bagi karakter-karakter tersebut.

Sisi teknis film juga menjadi salah satu keunggulan, adegan-adegan laga dan pertarungan terlihat nyata, Batman yang paling memiliki adegan laga paling riil, mungkin karena dirinya tidak memiliki kekuatan super. Sementara aksi laga Wonder Woman dan Aquaman paling memukau sepanjang film. Flash juga memiliki adegan seru yang dipadu elemen komedi yang seakan melekat padanya. Sementara Cyborg menjadi yang paling lemah CGI-nya karena tampilan robotiknya yang kurang halus. Steppenwolf sendiri sangat baik dengan tubuh besarnya. Scoring musik gubahan Danny Elfman cukup baik dan mampu menjaga emosi film, editing sedikit kurang halus, menjadikan beberapa adegan terutama perekrutan menjadi seperti adegan montage panjang. Sinematografi film sangat baik, beberapa kali adegan superhero pose atau superhero landing mampu ditangkap kamera dengan sempurna oleh sinematografer, Fabian Wagner.

JL2JL5

Final Verdict

Sebagai sebuah film yang menjadi titik puncak pembuktian DC dan Warner Brothers dalam dunia superhero ciptaan mereka, Justice League tampil menghibur, seru, ringan dan lucu. Meski ada beberapa momen kelam soal kehancuran dunia dan kematian, namun tidak mengurangi nilai hiburan dan keasyikan dalam film berdurasi 121 menit ini. Justice League adalah sebuah film yang cocok ditonton bersama seluruh keluarga dan bersama teman-teman. Seru dan menyenangkan untuk ditonton sampai berkali-kali.