Tercatat tidak lebih dari 15 judul film anak-anak dari hampir 500 judul film Indonesia yang diproduksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Apalagi dalam kurun waktu 2007-2018, hanya ada 1 film anak-anak, yaitu Laskar Pelangi (Riri Riza, Miles Films, 2008) yang menduduki 10 besar film Indonesia terlaris. Karena itu Riri Riza dan Mira Lesmana merasa anak-anak Indonesia perlu ikut merayakan ramainya film Indonesia di bioskop dengan merilis film Kulari Ke Pantai.

Kulari Ke Pantai berkisah tentang dua orang sepupu, Happy (Lil’li Latisha) dan Sam (Maisha Kanna) yang sangat bertolak belakang kepribadiannya. Karena ulah Happy yang merendahkan sepupunya, ibu Happy (Karina Suwandi), meminta Happy untuk ikut dalam perjalanan mobil Sam dan ibunya Sam, Uci (Marsha Timothy) dari Jakarta ke Banyuwangi. Happy tidak bisa menolak karena diiming-iming dapat menonton konser band favoritnya dengan teman-temannya.

Hampir keseluruhan film beradegan di dalam perjalanan atau singgah di tempat tertentu, sehingga Kulari Ke Pantai dapat dikatakan sebagai road movie. Road movie merupakan sebuah film yang di mana tokoh-tokohnya mengalami perubahan karakter atau perspektif karena perjalanan yang dilakukan. Happy merupakan seorang anak kota yang selalu sibuk denganĀ gadget-nya, mementingkan penampilan dan citra untuk diposting ke Instagram dan lebih sering menggunakan bahasa Inggris daripada Indonesia untuk berkomunikasi. Sedangkan Sam merupakan anak desa yang periang, pemberani dan suka mengambil foto alam atau tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan dengan kamera instax-nya. Dua kepribadian yang bertolak belakang ini menarik untuk disimak dan menjadikan perjalanan darat ini menjadi penuh tantangan.

Supaya Happy tidak bermain gadget lagi, Ibu Sam hanya mengijinkan Happy bermain selama 1 jam per 4 jam. Happy yang tadinya mengeluh, ternyata mulai mengenal dunia tanpa gadget dan merasakan indahnya alam. Tentu hal ini sungguh menyentil kebiasaan kita yang lebih mementingkan citra diri dan terlalu sering melihat gadget kita daripada berinteraksi dengan orang lain maupun alam di sekitar kita. Terdapat adegan menyentil lainnya saat sekumpulan wisatawan yang ingin diambil fotonya secara close-up sehingga menutupi keindahan alam di belakangnya. Happy seperti layaknya sosok “Katak Dalam Tempurung” yang tidak mengenal dunia luar, hanya Jakarta saja atau tempat-tempat mewah lainya, sehingga banyak adegan menarik dan menggelitik saat dia harus merasakan toilet jongkok untuk pertama kali, tinggal secara live-in di pedesaan sampai dengan merasakan sate yang sungguh enak di restoran yang sederhana. Happy yang juga sering menggunakan bahasa Inggris merasa tersentil oleh Dani, seorang bule dari Amerika Serikat yang selalu menggunakan bahasa Indonesia berlogat Papua. Adegan ini memang agaknya terasa menggurui, sehingga seharusnya dapat dibuat lebih subtil lagi. Penampilan Dani dengan gitar, papan seluncurnya, hasrat petualangannya dan cerita-cerita serunya sungguh mencuri perhatian.

Karakter Sam mengingatkan dengan sosok Sherina di Petualangan Sherina, Sam seperti Sherina berani untuk melawan para anak-anak laki-laki nakal yang mengambil dan ingin merundung Happy. Sam seorang yang apa adanya dan tidak berpura-pura. Sam diperankan dengan baik oleh Maisha Kanna. Sosok Happy juga diperankan dengan baik oleh Lil’li Latisha. Ini adalah debut akting mereka berdua. Mereka adalah pelakon di Teater Petualangan Sherina, sehingga aktingnya sudah tidak diragukan lagi.

Dodit sekali lagi mencuri perhatian seperti yang dia tampilkan dalam berbagai film yang dilakoninya, walau mungkin ada beberapa adegan terasa berlebihan. Dia berperan sebagai seorang penjaga penginapan yang bersuara lantang, walau dia selalu mengingatkan untuk menjaga ketenangan kepada para tamu-tamunya.

Kulari Ke Pantai menampilkan dengan baik keindahan dan kebudayaan Indonesia yang tidak ada bandingannya, mulai dari Cirebon saat mencicipi sate legendaris, Temanggung dengan dataran tinggi dan penginapan bambu di tengah hamparan sawah, Pacitan dengan pantai Watu Karung yang dikenal sebagai pantai dengan ombak terbaik di dunia dan Desa Limasan-nya, Banyuwangi dengan Taman Nasional Baluran dan G-Land / Pantai Plengkung, Pulau Rote yang eksotis dan puncaknya saat menikmati terbitnya matahari gunung Bromo. Melalui Kulari Ke Pantai Riri Riza memperkenalkan keragaman Indonesia kepada anak-anak Indonesia.

Karena terlalu banyak tempat dikunjungi ini, sehingga menyebabkan terlalu banyak karakter yang ditampilkan pula. Konflik-konfliknya pun beberapa terlalu sederhana dengan penyelesaian yang sebentar saja. Kemudian ada beberapa karakter dan konflik yang kurang dieksplorasi, seperti hubungan antara ayah Happy dan ibu dari Sam yang merupakan kakak-beradik yang hubungannya renggang, penyelesaian akhirnya hanya begitu saja dan seperti tiba-tiba. Kemudian product placement-nya walau cukup halus, tetapi terlalu banyak dan agak menggangu flow dalam bercerita.

Final Verdict:

Manis, lucu, menggemaskan, menyenangkan dan membahagiakan. Kulari Ke Pantai bagaikan pemuas dahaga bagi anak-anak Indonesia yang sangat jarang mendapatkan film anak-anak atau keluarga Indonesia yang berkualitas sejak Petualangan Sherina. Kulari Ke Pantai juga memberikan pesan menyentil mengenai persahabatan, citra diri, penggunaan bahasa Indonesia, penggunaan gadget yang berlebihan sampai dengan menyuguhkan keindahan dan keanekaragaman Indonesia yang tiada duanya.

Review Kulari Ke Pantai - Film Petualangan Anak-Anak Persembahan dari Kreator Laskar Pelangi dan Petualangan Sherina
7.5Overall Score
Reader Rating 0 Votes
0.0